Watch this!!!
Watch this!!!
Disadur dari hidayatullah.com
Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia
oleh Adian Husaini
Sekali waktu, tengoklah situs www.libforall.org. Banyak informasi tentang pemikiran dan gerakan liberalisasi yang bisa kita petik dari situs satu lembaga yang secara terbuka mengusung nama “liberal untuk semua” ini. Jumat pagi (20/2/2009), situs ini masih memampang catatan prestasi LibForAll dalam menjalankan misinya di Indonesia. Berbeda dengan sejumlah lembaga pendukung Yahudi dan Israel lainnya, organisasi ini pun tidak segan-segan dan malu-malu untuk menunjukkan dukungannya kepada Israel. Berbagai aktivitas dilakukan untuk membuat membangun gambaran positif tentang negara Zionis Israel.
Disebutkan dalam situsnya, pada 12 Juni 2007, LibforAll menyelenggarakan konferensi keagamaan di Bali, yang disebutnya sebagai “a historic religious summit in Bali”. Konferensi ini dibuat dengan tujuan menegaskan terjadinya peristiwa holocaust (pembantaian terhadap Yahudi di Eropa), mempromosikan toleransi beragama, dan menyingkirkan ideologi kebencian.
Pelaksana Konferensi adalah organisasi bernama Simon Wiesenthal Center yang merupakan partner LibForAll. Acara dibuka oleh pidato mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid yang isinya mengecam keras penolakan terhadap peristiwa holocaust. LibForAll menulis, bahwa acara itu diliput ratusan media di berbagai penjuru dunia. Pesan yang disampaikan kepada dunia jelas, bahwa sebagai satu negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia menolak pemikiran-pemikiran yang mendiskreditkan Yahudi dan Israel.
Peristiwa holocaust memang menjadi salah satu tonggak penting berdirinya negara Israel. Selama puluhan tahun, kaum Yahudi berusaha keras untuk mencitrakan dirinya sebagai kaum tertindas. Masalahnya, masalah itu masih tetap terselimuti kabut tebal, yang pelan-pelan mulai terkuak. Seorang pastor Katolik, Richard Williamson, pada Januari 2009, membuat tindakan yang mengejutkan dengan menyatakan, bahwa korban Yahudi di Tangan Nazi hanya sekitar 200.000-300.000 orang, dan bukan 6 juta seperti klaim Yahudi selama ini. Ia juga membantah adanya kamar gas untuk membantai kaum Yahudi tersebut.
Seorang cendekiawan Yahudi, Norman G. Finkelstein membongkar praktik-praktik bisnis holocaust melalui bukunya, The Holocaust Industry (2000). Meskipun keluarganya menjadi korban Nazi, tapi Finkelstein berani memaparkan konspirasi seputar Holocaust. Kaum Yahudi mengeruk keuntungan yang luar biasa dari bisnis holocaust ini. Selama ini, Holocaust menjadi barang suci yang tidak boleh disentuh. Padahal, bukti-bukti sejarah menunjukkan, angka 6 juta orang sangat sulit dibuktikan dalam sejarah. Banyak cerita-cerita palsu seputar Holocaust yang selama ini disampaikan di publik, terutama kepada masyarakat Amerika Serikat.
Ketika misteri Holocaust makin terkuak di dunia internasional, justru di Indonesia, kelompok LibForAll dapat menggelar satu Konferensi yang mendukung klaim kaum Zionis atas Holocaust. Tentu, bagi Israel, ini prestasi yang membanggakan. Apalagi, pada bulan Desember 2007, LibForAll juga memberangkatkan lima orang Indonesia ke Israel. Situs harian Jerusalem Post pada 8 Desember 2007 menurunkan sebuah berita berjudul Indonesian “Peace Delegation Meet With Peres” (Delegasi Perdamaian dari Indonesia Temui Shimon Peres). LibForAll sangat membanggakan kedatangan delegasi Indonesia yang keberangkatannya juga diatur oleh Simon Wiesenthal Center. Karena itulah, mereka diberi kesempatan istimewa untuk bertemu langsung dengan Presiden Israel, Shimon Peres.
Melalui LibForAll, lobi-lobi Israel di Indonesia terus dijalankan. Sesuai dengan namanya, organisasi ini sangat aktif dalam melakukan proses liberalisasi pemikiran Islam. Dua organisasi Islam terbesar menjadi sasaran utama, yaitu NU dan Muhammadiyah. Situs LibForAll berisi banyak foto kegiatan yang melibatkan tokoh-tokoh kedua organisasi tersebut. Tentu ini adalah upaya propaganda LibForAll yang ingin membangun citra, seolah-olah mereka sudah berhasil ‘menguasai’ dan ‘mengatur’ kedua organisasi Islam tersebut.
Kita memahami bentuk propaganda model LibForAll ini. Padahal, faktanya, baik di tubuh NU maupun Muhammadiyah, resistensi terhadap Yahudi dan Israel sangatlah tinggi. Apalagi, setelah pembantaian ribuan warga Gaza oleh Israel, citra Israel sebagai negara biadab semakin tertanam secara mendalam pada benak umat Islam Indonesia. Namun, LibForAll, melalui situsnya, terus membanggakan kisah suksesnya dalam menanamkan lobi Yahudi dan menyebarkan paham liberalisme di Indonesia.
Salah seorang yang dibangga-banggakan oleh LibForAll adalah yaitu Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penasehat LibForAll yang juga guru besar UIN Yogya. Dalam situsnya, LibForAll menulis peran penting Munir Mulkhan dalam memberantas ekstrimisme di Muhammadiyah. Prestasi Munir dalam menolak ekstrimisme dan menjauhkan Muhammadiyah dari partai politik Islam, khususnya PKS, disebut sebagai sebuah prestasi besar (a landmark achievement). PKS disebut identik dengan Hamas dan berafiliasi dengan kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. LibForAll menulis:
“The new year arrived on the heels of a landmark achievement by LibForAll Advisor and Senior Fellow Dr. Abdul Munir Mulkhan (former Vice Secretary of the Muhammadiyah, the world’s second-largest Muslim organization, with 30 million members). After a year-long campaign, Dr. Munir succeeded in mobilizing his organization to officially reject extremism and distance itself from Islamist political parties, which have penetrated the Muhammadiyah through the so-called “Tarbiyah,” or Islamic Education, movement. The heavily-funded group thus rejected, the PKS, is the Indonesian political equivalent of Hamas, and is affiliated with the radical Muslim Brotherhood.”
Prestasi Munir Mulkhan ini ditulis juga dalam sebuah artikel di Wall Street Jornal (10/4/2007) berjudul “The Exorcist: An Indonesian man seeks “to create an Islam that will make people smile” oleh Bret Stephens. Prof. Abdul Munir Mulkhan dikenal sebagai aktivis lintas agama yang memang sangat liberal. Ia sangat terobsesi untuk meletakkan nilai-nilai kemanusiaan universal di atas ajaran-ajaran agama yang ada.
Sekedar contoh, simaklah isi sebuah buku karya Prof. Abdul Munir Mulkhan berjudul Kesalehan Multikultural (2005) diterbitkan oleh Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP) Muhammadiyah. Dalam buku ini, secara tegas Munir menolak Pendidikan Tauhid seperti yang dipahami kaum Muslim selama ini. Sebagai gantinya, dia mengajukan gagasan ‘Pendidikan Islam Multikultural’. Munir menulis:
“Jika tetap teguh pada rumusan tujuan pendidikan (agama) Islam dan tauhid yang sudah ada, makna fungsional dan rumusan itu perlu dikaji ulang dan dikembangkan lebih substantif. Dengan demikian diperoleh suatu rumusan bahwa Tuhan dan ajaran atau kebenaran yang satu yang diyakini pemeluk Islam itu bersifat universal. Karena itu, Tuhan dan ajaran-Nya serta kebenaran yang satu itu mungkin juga diperoleh pemeluk agama lain dan rumusan konseptual yang berbeda. Konsekuensi dari rumusan di atas ialah bahwa Tuhannya pemeluk agama lain, sebenarnya itulah Tuhan Allah yang dimaksud dan diyakini pemeluk Islam. Kebenaran ajaran Tuhan yang diyakini pemeluk agama lain itu pula sebenarnya yang merupakan kebenaran yang diyakini oleh pemeluk Islam.” (hal. 182-183).
Konsepsi seperti itu adalah melihat masalah keagamaan dengan sudut pandang humanisme. Bukan sudut pandang Kristen, Yahudi, Islam, atau agama-agama lain. Bagi Islam, jelas bukan begitu cara memandang Tuhan dan agama-agama yang ada. Nabi Muhammad saw diutus untuk menjernihkan berbagai ajaran para nabi yang sudah diselewengkan oleh kaum Yahudi. (QS 2:75, 2:79). Berbagai tindakan syirik juga mendapatkan kecaman keras dalam al-Quran. Kurang jelas apakah pandangan Tauhid Islam selama ini? Mengapa Prof. Munir Mulkhan sampai berani mengusulkan agar pendidikan Tauhid Islam itu diubah konsepnya? Aneh juga, oleh PSAP, Munir dijuluki sebagai salah satu “Begawan Muhammadiyah”, sehingga penerbitan buku ini ditulis sebagai “Seri Begawan Muhammadiyah.”
Berpegang pada konsep kesamaan Tuhan pada semua agama itu, Munir menafikan konsep Tuhan pada masing-masing agama. Dia menulis:
“Bentuk-bentuk ritual yang sakral yang selama ini cenderung lebih “memanjakan” Tuhan dan tidak manusiawi, perlu dikembangkan sehingga menjadi ritus-ritus kultural yang sosiologis dan humanis. Tuhan yang Maha Tunggal itu adalah Tuhan yang diyakini pemeluk semua agama di dalam beragam nama dan sebutan. Surga dan penyelamatan Tuhan itu adalah surga dan penyelamatan bagi semua orang di semua zaman dalam beragam agama, beragam suku bangsa dan beragam paham keagamaan. Melalui cara ini, kehadiran Nabi Isa a.s. atau Yesus, Muhammad saw, Buddha Gautama, Konfusius, atau pun nabi dan rasul agama-agama lain, mungkin menjadi lebih bermakna bagi dunia dan sejarah kemanusiaan… Tuhan semua agama pun mungkin begitu kecewa melihat manusia menggunakan diri Tuhan itu untuk suatu maksud meniadakan manusia lain hanya karena berbeda pemahaman keagamaannya.” (hal. 190).
Lihatlah, ketika bicara tentang Tuhan, Munir hanya menggunakan fantasinya. Padahal, dia sendiri tidak paham akan Tuhan. Dia mengharuskan Tuhan untuk mengikuti logikanya sendiri. Seolah-olah, dialah yang mengatur Tuhan. Padahal, sebagai orang yang mengaku Muslim, harusnya dia merujuk kepada konsep-konsep yang dibawa oleh utusan Allah, Nabi Muhammad saw. Karena dialah yang mendapatkan mandat dari Allah untuk menjelaskan siapa Allah dan bagaimana cara menyembah-Nya. Karena itulah, Nabi Muhammad saw mengajak kaum Musyrik Arab untuk beriman kepadanya dan menjauhi dosa syirik. Amat sangat jelas, apa misi Nabi Muhammad saw dan misi semua Nabi, yaitu untuk mengajak manusia agar jangan menyembah tuhan selain Allah (QS 16:36).
Jadi, konsep pendidikan agama Multikulturalisme yang dibawakan oleh Munir Mulkhan memang sangat bermasalah. Tapi, laksana virus, paham ini pun disebarkan oleh berbagai kalangan. Sebagian sudah mulai melangkah lebih jauh lagi dengan mengajukan konsep “Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural”. Itulah judul sebuah buku yang ditulis seorang dosen di salah satu Perguruan Tinggi Islam di Jawa Tengah, yang diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Azyumardi Azra.
Misi buku ini juga sejalan dengan misi Free Mason, yaitu menghapus pemisah antar manusia: “Sebagai risalah profetik, Islam pada intinya adalah seruan pada semua umat manusia, termasuk mereka para pengikut agama-agama, menuju satu cita-cita bersama kesatuan kemanusiaan (unity of mankind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan, dan agama.” (hal. 45).
Selain Munir Mulkhan, intelektual lain yang dibangga-banggakan oleh LibForAll untuk melakukan proses liberalisasi di Indonesia adalah Prof. Nasr Hamid Abu Zaid. Mulai 2007, LibForAll membuat sebuah proyek Tafsir Al-Quran yang dipimpin Abu Zaid, yang juga penasehat LibForAll, sebagaimana Munir Mulkhan. Tafsir ini akan menggunakan metode modern yang menolak metode panafsiran literal dan membuang pemikiran-pemikiran ekstrimisme. Ditulis di situsnya, bahwa Tafsir ini akan dikerjakan oleh sarjana-sarjana Quran terkemuka di dunia dari Asia Tenggara, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Tafsir Al-Quran ini nanti diharapkan dapat menjadi jembatan bagi kaum Muslim untuk menjembatani antara tradisi Islam dengan nilai-nilai kebebasan (freedom), kesetaraan, Hak Asasi Manusia, demokrasi, dan globalisasi.
Situs LibForAll juga memberikan perhatian khusus kepada kasus yang menimpa Abu Zaid pada bulan November 2007. Ketika itu, Abu Zaid gagal menghadiri acara Annual Conference on Islamic Studies di Riau dan juga satu seminar internasional di Malang. Oleh LibForAll, pihak-pihak yang menolak pemikiran Abu Zaid dicap sebagai kaum ekstrimis.
Sebuah prestasi lain yang dibanggakan oleh LibForAll di Indonesia adalah diterbitkannya buku berjudul 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara, pada Januari 2007. Buku ini dieditori oleh aktivis LibForAll, Ahmad Gaus dan Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Komaruddin Hidayat. Peluncuran buku ini berlangsung besar-besaran. Di situs LibForAll, ditampilkan tokoh-tokoh yang menghadiri acara tersebut, seperti Abdurrahman Wahid, Din Syamsuddin, dan Azyumardi Azra yang juga penasehat LibForAll.
Menyimak kiprah LibForAll di Indonesia, tampak bagaimana mereka menggunakan kekuatan dana yang sangat besar untuk membangun citra positif Israel di Indonesia. Dengan alasan memerangi ekstrimisme di kalangan Muslim, LibForAll juga berhasil menggaet kalangan elite Muslim untuk mendukung upaya liberalisasi Islam di Indonesia. Sebenarnya, jika dipikirkan, inilah politik belah bambu yang sejak dulu diterapkan oleh penjajah kepada umat Islam. Sebagian disanjung-sanjung dan diberi kenikmatan duniawi, sebagian lain diinjak dan dimaki-maki sebagai kaum ekstrimis.
Melalui berbagai kiprah dan opini yang dibangunnya, tampak LibForAll hanya memberikan pilihan kepada kita: berteman dengan Shimon Peres atau Hamas. Jika berteman dengan Peres, akan diberi julukan mulia sebagai “penyebar perdamaian”. Jika berteman dengan Hamas, akan segera mendapatkan cap ” ekstrimis”. Silakan pilih! [Depok, 20 Februari 2009/www.hidayatullah.com]
Brazilian cartoonist Carlos Latuff creates artworks that call on the world to condemn Israeli holocaust of Gaza

Senin, 02 Februari 2009 pukul 08:23:00, Sumber : http://www.republika.co.id/
Tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.
JAKARTA — Film ”Perempuan Berkalung Sorban” besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.

Abidah Al Khalieqy
Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, “Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar.”
”Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,” cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.
Ia menegaskan, penggunaan kata ”berdasarkan Alquran dan Hadits” dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ”Perempuan Berkalung Sorban” juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.
“Yang ada justru hadits yang sebaliknya,” tegas Kiai Ali Mustafa. ”Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),” ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ”Perempuan Berkalung Surban” telah menyesatkan. “Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan.”
Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ”Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,” tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ”Sebaiknya tidak usah ditonton.”
Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. “Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,” cetus Fitriyani.
Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. “Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,” tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.
”Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren,” kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ”Perempuan Berkalung Sorban”, Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. “Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,” kilahnya.
Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah. c63

Sumber : http://www.republika.co.id/
Foto : http://swaramuslim.com

Kairo-Infopalestina : Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Mohamed Mahdi Akef menjelaskan, lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Dewan Keamanan, Uni Eropa, Komisi untuk Hak Asasi Manusia dan Pengungsi, UNESCO, dan UNRWA. Mereka hanya bergerak demi kepentingan Barat yang jelas keberpihakanya dan mendukung sepenuhnya Zionist Israel.
Ia mempertanyakan peran lembaga-lembaga tersebut dalam menghentikan pelanggaran demi pelanggaran yang dilakukan Zionis Israel. Ia mengkritik ketidakberdayaan lembaga-lembaga tersebut dalam memberikan dukungan pada Palestina dan tidak menunjukan rasa simpatinya kepada anak-anak yang terbunuh dan terusir dari tanah airnya.
Akif menyatakan, kejujuran lembaga-lembaga ini dipertanyakan ketika berkaitan dengan hak-hak nasional Palestina. Apa yang terjadi di Gaza kemarin berupa agresi Zionis biadab melalui sejumlah alat tempur di depan mata dunia, untuk meneguhkan dirinya serta menggambarkan bagaimana kekuatanya untuk memisahkan antara hitam dan putih atau antara kebenaran dan kebatilan. Dan untuk menjelaskan, entitas mereka tidak bisa diperintah atau ditekan siapapun.
Namun perang terakhir kemarin membuktikan kemenangan bagi kemanusiaan dan nurani manusia yang rindu akan fitrah Allah yang asli yaitu, perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan sebagai hak asasi bagi rakyat yang terusir.
Akief yang menyebut Zionis Israel sebagai penjahat perang yang rasialis dan perampok yang tidak mengenal prikemanusiaan menegaskan, sejak pendirian Zionis Israel oleh Theodore Herzel sebagai organisasi biadab sepanjang sejerahnya. Terbukti pada peristiwa pembantaian Shabra dan Shatila dan lait Al-Baqar, Der Yasin, Qana dan yang lainya, membuktikan betapa biadabnya kelompok ini.
Adapun terkait sikap IM, Akef menjelaskan, pihaknya menginginkan dunia mendengar bagaimana pernyataan pemimpin radikal Zionis, Menachem Begin yang menyatakan, “Ketika pandangan kami arahkan ke sebelah utara terhampar dataran subur Suriah dan Libanon. Ke sebelah Timur terbentang Dataran Tinggi Golan dan sungai Dijlah serta minyak Irak. Adapun di sebelah baratnya terpampang Mesir. Tentu kami tidak akan mampu mengelola kekayaan itu semua. Namun kami menyamarakan masalah ini dari sisi kekuatan. Oleh karena itu, kami harus memaksa bangsa Arab untuk taat dan patuh kepada Israel dengan sempurna”.
Maka IM berpandangan, Palestina harus dibebaskan oleh ummat Islam, Palestina walaupun dikungkung maka kita harus membebaskanya, walaupun ia sakit, maka kita harus mengobatinya dan walaupun pertempuran kita terus berlangsung dengan segala pengorbanan para syuhadanya, tegasnya. (asy)
Sumber : http://www.infopalestina.com

Sumber : http://swaramuslim.net.
05 Feb, 09
Walau sudah hancur, tubuh pejuang Al-Qassam mengeluarkan semerbak bau harum, dan itu terulang kembali setelah 20 hari wafatnya
Keluarga Abdullah As Shani terkejut dengan bau misk yang berhembus dari ruangan bekas penyimpanan serpihan tubuh putra mereka itu, demikian tulis situs syiria-aleppo.com.
Abdullah As Shani adalah anggota kesatuan sniper Al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel, ketika sedang berada di pos kemanan bagian barat Gaza. Dua hari dilakukan pencarian tubuh pejuang ini. Ternyata tidak tersisa dari tubuhnya kecuali serpihan kepala dan dagunya, sedangkan bagian tubuh lainnya lumat oleh rudal Israel.

foto [alm] Abdullah bersama tokoh Hamas, Dr. Mahmud Zahar
Ketika mendengar berita tersebut, puluhan orang-orang yang mengenal pejuang yang memiliki kuniyah Abu Hamzah ini ramai-ramai mendatangi rumahnya, untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh pejuang itu, yang diletakkan dalam sebuah plastik di salah satu ruangan rumah keluarganya.
Fenomena ini bukan satu-satunya, pihak keluarga menyatakan bahwa pada 20 hari setelah wafatnya Abdullah, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Sebagaimana diketahui, Abdullah As Shani, mujahid yang tidak suka menampakkan amalan-amalannya ini, disamping sebagai anggota kesatuan sniper (penembak jitu), ia juga menjadi salah satu komandan lapangan Al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas. [tho/syal/www.hidayatullah.com]
Senyum Syuhada Gaza
Alangkah agungnya seorang yang syahid Di akhirat ia memperoleh kebesaran luar biasa. Dia tidak meninggalkan dunia ini kecuali dengan barisan yang mulia. Manusia menangis, sedangkan syahid tersenyum
Kegembiraan melihat tempat tinggalnya di surga menyunggingkan senyum di bibir sang syahid, seperti yang kita lihat para Syuhada Gaza berikut ini:








sumber : eramuslim
Jum’at, 6 Februari 2009 – 08:40 wib, okezone.com
JAKARTA – Peran wanita- wanita di Palestina sangat luar biasa karena terbiasa menghadapi kondisi perang. Wanita Palestina tidak segan untuk menganjurkan suami dan anak-anaknya berjihad di garis terdepan.
“Kami biasa berada di situasi perang. Harga diri kami tinggi dan kami saling tolong menolong. Enam orang anak saya didorong untuk maju ke medan perang,” ujar Nadyamusa Abu Marzooq saat memberikan kesaksian di depan puluhan orang yang hadir dalam acara ‘Malam solidaritas untuk perempuan & anak Palestina’ di Balai Kartini, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (5/2/2009) malam.
Dia juga menceritakan kebanggaannya karena anaknya telah berhasil membunuh 19 orang Yahudi dalam sehari. Namun anaknya yang berumur 17 tahun saat pulang ke rumah tertembak oleh tentara zionis.
“Di saat anak saya berumur 17 tahun, dia berhasil membunuh 19 orang Yahudi dalam sehari. Namun anak saya mati syahid saat pulang ke rumah, tertembak tentara yahudi,” terangnya.
Lebih lanjut istri Kepala Biro Politik Hamas itu menambahkan, wanita di Palestina juga tidak jarang menemani suami saat bertempur melawan tentara Yahudi dan meyakini jika tewas di medan perang akan mati syahid.
Di ujung kesaksiannya, Nadya menyebutkan bahwa perang di Palestina belum berakhir. Tetaplah turun ke jalan-jalan mendukung perjuangan Pelestina.
“Orang menilai perang di Palestina sudah berakhir, padahal belum berakhir. Jadi tetaplah turun ke jalan untuk mendukung pejuang palestina di jalur Gaza,” pungkasnya (ram)
Kamis, 5 Februari 2009 – 12:05 wib, okezone.com
JERUSALEM – Militer Israel mengakui bahwa pasukannya membunuh tiga bocah perempuan anak seorang dokter di Gaza. Peristiwa itu mengundang kecaman, setelah sebuah stasiun televisi mewawancarai sang ayah yang juga dokter di rumah sakit Israel.
Berdasarkan penyelidikan militer Israel (IDF), dua tank menembaki sebuah gedung apartemen milik Dr. Izzuddin Aboul Aish pada 16 Januari lalu. Dua hari sebelum gencatan senjata sepihak diberlakukan Israel.
Aboul Aish merupakan dokter terkenal Palestina yang juga bekerja pada sebuah rumah sakit di Israel. Dalam wawancara itu, Aboul Aish mengatakan, “Mengapa mereka membunuh anak saya padahal saya juga menolong orang Israel yang sakit.”
“Hasil penyelidikan menyimpulkan, dua bom ditembakkan dari dua tank IDF yang menyebabkan kematian tiga anak Aboul Aish,” demikian bunyi pernyataan IDF yang dikutip Reuters, Kamis (5/2/2009).
Namun Israel berkilah. Dalam pernyataan, militer Israel menganggap pemboman rumah Aboul Aish itu merupakan aksi membela diri dari serangan mortar pejuang Gaza.
Israel menuduh Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng. Namun pernyataan itu dibantah Hamas. Menurut Hamas, itu hanya dalih yang digunakan untuk melegitimasi pembunuhan anak-anak dan wanita.
“Komandan meminta untuk menembak. Hasilnya tiga anak Aboul Aish tewas, Setelah terdengar suara jeritan, Israel menghentikan serangan.”
Ini merupakan hasil temuan pertama yang dilakukan IDF dari empat kasus yang sedang diselidiki.
Selain itu PBB juga tengah menyelidiki enam serangan di sekolah binaan PBB yang menewaskan 40 orang lebih. Padahal sekolah itu jelas-jelas digunakan sebagai tempat pengungsian yang saat itu banyak dihuni wanita dan anak-anak.

Turkey’s prime minister has stormed off the stage at the World Economic Forum in Davos after a heated debate on Gaza with Israel’s president.
Recep Tayyip Erdogan clashed with Shimon Peres, whose voice had risen as he made an impassioned defence of Israel’s actions, jabbing his finger.
Mr Erdogan said Mr Peres had spoken so loudly to conceal his “guilt”.
He accused the moderator of not allowing him to speak and said he did not think he would return to Davos.
The Turkish PM stressed later that he had left the debate not because of his disagreements with Mr Peres but because he had been given much less time to speak than the Israeli leader.
Turkey is one of the few Muslim countries to have dealings with Israel, but relations have been under strain since the Islamist-rooted AK Party was elected to power in 2002.
Late on Thursday, a WEF official said that Mr Peres and Mr Erdogan had spoken by mobile telephone, and both men now considered the matter closed.
Dinner time
In the debate, Mr Erdogan was cut off as he attempted to reply to Mr Peres.
Earlier the Turkish Prime Minister had made an address himself, describing Gaza as an “open-air prison”.
When the audience applauded Mr Peres, he said: “I find it very sad that people applaud what you said. You killed people. And I think that it is very wrong.”
The moderator, Washington Post columnist David Ignatius, had given him a minute to reply, then asked him to finish, saying that people needed to go to dinner.
“I do not think I will be coming back to Davos after this because you do not let me speak,” Mr Erdogan shouted before marching off the stage in front of Mr Peres, UN Secretary General Ban Ki-moon and an elite audience of ministers and international officials.
Mr Peres had told the audience Israel was forced on to the offensive against Hamas by thousands of rockets and mortars fired into Israel.
“The tragedy of Gaza is not Israel, it is Hamas,” the Israeli leader said.
“Why did they fire rockets? There was no siege against Gaza. Why did they fight us, what did they want? There was never a day of starvation in Gaza.”
He argued that Mr Erdogan would have reacted in the same way if rockets had hit Istanbul.
More than 1,300 Palestinians and 14 Israelis were killed during the three-week conflict which began on 27 December.
Mr Erdogan later complained that he had been allowed to speak for just 12 minutes compared with 25 for Mr Peres.
“I did not target at all in any way the Israeli people, President Peres or the Jewish people,” he said.
“I am a prime minister, a leader who has expressly stated that anti-Semitism is a crime against humanity.”
Source : http://news.bbc.co.uk

Ribuan warga di Turki berunjukrasa untuk mendukung Perdana Menteri mereka Recep Tayyip Erdogan, hanya beberapa jam setelah dia terlibat adu argumentasi dengan Presiden Israel, Shimon Peres, soal pertempuran di Gaza baru-baru ini.
Massa pengunjukrasa, yang melambaikan bendera Turki dan Palestina, menyambut Erdogan di Istanbul sekembalinya dari Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos.
Dalam adu argumentasi yang berlangsung seru di Davos, Erdogan mengatakan, menyedihkan bahwa ada orang memuji Peres karena membela perang Israel di Gaza, mengingat begitu banyak orang terbunuh.
Shimon Peres mengatakan, tragedi bagi Gaza bukan Israel, tapi Hamas, yang menurut dia, menimbulkan kediktatoran yang berbahaya di Jalur Gaza.
Recep Tayyip Erdogan memperlihat reaksi marah ketika dia tidak diberi kesempatan untuk menanggapi pembelaan Peres atas operasi militer Israel yang menelan 1.300 korban jiwa, termasuk anak-anak.
Ribuan warga turun ke jalan di Istanbul untuk menyambut pesawat Erdogan.
Dia mengatakan kepada massa, bahwa nada dan bahasa Peres tidak bisa diterima, sehingga dia bertindak untuk membela martabat Turki.
“Saya hanya tahu saya harus melindungi martabat Turki dan bangsa Turki,” kata Erdogan.
“Saya bukan kepala suku. Saya perdana menteri Turki. Saya harus lakukan yang harus saya lakukan,” tandah Erdogan.
Wartawan BBC Sarah Rainsford di Istanbul mengatakan, ada kemarahan luar biasa di Turki atas operasi militer Israel terhadap Jalur Gaza, dan kini tampaknya dukungan publik atas aksi Erdogan di Davos meluas.

Erdogan dan Peres tampil dalam debat soal aksi Israel atas Gaza
‘Pemimpin dunia’
Para wartawan mengatakan, massa pengunjukrasa berpekik “Turki bersama Anda,” dan beberapa menunjukkan plakat yang menyambut Erdogan sebagai “pemimpin baru dunia”.
Dalam debat hari Kamis, Erdogan terlibat bentrok kata-kata dengan Peres, yang suaranya meninggi saat dia dengan penuh semangat membela aksi Israel seraya menuding-nudingkan jarinya.
Erdogan mengatakan, Peres mengatakan berbicara demikian keras untuk menutupi “kesalahan”-nya.
Dia mengatakan, banyak orang terbunuh di Gaza, dan dia mendapati menyedihkan ada orang yang memuji Peres karena membela aksi Israel.
PM Turki kemudian menuding moderator tidak memberi kesempatan dia berbicara dan dia mengatakan, dia mungkin tidak akan kembali ke Davos.
Perdana Menteri Turki belakang menyatakan bahwa dia meninggalkan tempat debat bukan akibat ketidaksefahamannya dengan Peres, tapi akibat dia diberi waktu yang lebih pendek daripada presiden Israel.
Sementara itu, Presiden Peres mengatakan, dia berharap hubungan antara Israel dan Turki tidak terganggu akibat perdebatan sengit yang terjadi antara dia dan PM Erdogan.
Sumber : http://www.bbc.co.uk/