Archive for teroris

Kronologi Penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Posted in Indonesia, Terrorism with tags , , , , , , , , , , , , , on August 13, 2010 by indonesiaunderground

Awalnya mobil  rombongan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan pengawal memasuki kota Banjar pada pukul 07.30 WIB, setelah kedua mobil yang membawa ustadz Abu (kijang Krista) dan pengawal (Nissan Terrano) dipaksa masuk ke kantor polisi Banjar, langsung kedua mobil dikepung banyak anggota Densus 88 sambil menggedor-gedor mobil.

Sopir ustadz Abu bernama Sartono mengatakan kepada penumpang agar mengunci semua pintu, “Tutup pintunya umi, jangan dibuka”, kata Sartono seperti ditirukan ibu Muslikhah. Kemudian Densus 88 berteriak-teriak, “buka pintu-buka pintu”, karena yang didalam mobil tidak mau menyerahkan diri begitu saja maka Densus 88 mulai memecahkan kaca depan bagian kanan, juga kaca tengah bagian kanan namun kaca bagian tengah tidak sampai pecah, hanya sekedar retak-retak.

Setelah memecah kaca depan, kemudian pintu dibuka dan sopir ustadz Abu ditarik keluar dan langsung ditiarapkan, diinjak-injak dan ditendangi setelah itu baru diborgol tangannya. Begitu juga pengawal ustadz Abu yang duduk dibagian belakang, dia ditarik keluar dari jendela yang kacanya sudah dipecahkan, dan langsung ditiarapkan serta diborgol, seperti yang dijelaskan ibu Muslikhah.

Sedang proses mengeluarkan ustad Abu Bakar, seperti yang diceritakan ibu Muslikhah, ustadz dipegang tangannya oleh petugas dari Densus 88 dan ditarik keluar.

Salah seorang petugas Densus 88 kemudian menodongkan senjata laras panjang kepada ustadz Abu sambil mengatakan, “Saya tembak kamu!!”

Melihat ditodong seperti itu, ustad Abu Bakar marah dan mengejar petugas Densus 88 yang menteror beliau tadi. “Ustad Abu Bakar benar-benar marah pada saat itu,” kata ibu Muslikhah.

Ba’asyir bahkan mengejar petugas Densus 88 tersebut sambil mengatakan, “Saya doakan kamu dilaknat sama Allah, saya doakan polisi dilaknat sama Allah!!” setelah itu petugas lain memegangi ustad Abu Bakar yang sudah sepuh ini agar tidak mengejar petugas yang menodongkan senjatanya tadi.

“Saya baru kali ini melihat ustadz Abu Bakar benar-benar marah,” kata ibu Muslikhah.

Menurut Umi Icun (sapaan akrab Aisyah Baraja) itulah saat beliau terakhir bertemu ustadz Abu Bakar, beliau kemudian menghampiri suaminya dan bersalaman, disini ustadz Abu Bakar Ba’ayir mengatakan kepada istrinya agar bersabar. Setelah itu ustad Abu dibawa ke mobil minibus yang berisi petugas Densus 88 dan dibawa pergi.

Kemudian Umi Icun dan ibu Muslikhah dibawa ke dalam kantor polisi Banjar tersebut. Mereka dimasukkan kedalam ruang tamu dan dimintai identitas diri. Ibu Muslikhah sempat berdialog dengan polwan yang memintainya keterangan, “Mbaknya ini Muslim kan?” lalu dijawab oleh polwan tersebut, “iya, saya Muslim bu,” kemudian ibu Muslikhah melanjutkan, “seharusnya mbak ini tahu siapa itu ustadz Abu, ustadz itu seorang mubaligh. Beliau bukan perampok, beliau bukan penjahat, beliau bukan koruptor, kenapa ditangkap dengan cara kasar seperti ini?”

Memperoleh pertanyaan yang bertubi-tubi, si polwan hanya diam saja.

Mereka berdua akhirnya hanya duduk di ruang tamu tersebut. Menjelang siang hari, ibu Muslikhah mendengar dari ruang sebelah siaran TV One yang berisi wawancara dengan Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki, ustadz Wahyudin (suami ibu Muslikhah), kemudian ibu Muslikhah dan Umi Icun masuk ke ruang sebelah dan ikut menonton televisi. Ibu Muslikhah mengatakan, “itu suami saya yang di tv, saya mau mendengarkan dulu sebentar,” serunya.

Keduanya pun berdua duduk untuk menyimak berita di tv. Tak berselang lama, tiba-tiba listrik dimatikan agar mereka tidak mendapat akses informasi.

Kemudian keduanya memilih kembali ke ruang tamu sambil menunggu proses selanjutnya. Sekitar pukul 15.00 WIB, umi Icun dan ibu Muslikhah kemudian diperbolehkan pulang, lalu mereka memilih diantarkan ke sebuah pondok di Ciamis, Ponpes Nurus Salam.

Dan dari ponpes tersebut, malamnya selepas sholat Isya’, mereka berdua diantar pulang ke Solo oleh pengurus JAT Jawa Barat, ustadz Yoyok. Sekitar pukul 05.00 WIB selepas Subuh mereka sampai ke pondok Ngruki dan pulang ke rumah di dalam kompleks pondok tersebut.

(sumber :


The messages from Mumbai

Posted in Who is The Real Terrorist? with tags , , , , , , on December 6, 2008 by indonesiaunderground

Thursday, 04 December 2008 18:11

The horrible carnage in Mumbai is sending depressing messages about the realities of the present age of terror.

I lived about a mile from the Taj. I worked for an engineering firm and freelanced as a copywriter for advertising agencies in Mumbai. Every time I got a new gig, I would celebrate by going to the Taj for a buffet or a breakfast.

For a 23 year old, it was a thrill to be able to afford the atmosphere of the Taj. To me it was a place where aspirations found their destination. In those days, my wife to be was also a management trainee at the Taj. We met later however. For both of us the Taj embodied the memories of youthful excitement and hopeful beginnings.

Now those memories have forever been clouded by the madness that raged this past week.

We pray for those who have lost family members and wish the city back to its glamorous best.

The horrible carnage in Mumbai is sending depressing messages about the realities of the present age of terror. The first message is from the terrorists – “we have no moral conscience; in our pursuit of what we think is justice we will not balk from any form of evil that one can imagine”. The horror of this message is compounded by the daring and the spectacular fashion in which the operation was carried out. The terrorists are determined, brazen, motivated and were in middle school when 9/11 happened!

The second reality is a verdict on the complete and utter failure of the wars on terror that the U.S. and its allies have been waging since 2001. If this is what the terrorists are capable of after being incessantly hounded by the world’s major powers, then we should be preparing for a bleak future indeed.

The wars on terror that are being waged in South Asia have caused too many innocent deaths. The “targeted strikes” by the U.S. have killed hundreds of civilians in South Asia in the past few months. Many people are being tortured by law enforcement agencies. People have lost families, homes and businesses in riots by murderous gangs often protected by the government. And governments continue to avoid addressing root causes such as Palestine and Kashmir.

Increasingly abuse of Islam, its values, its history and its symbols is being used as a weapon in the war on terror and this too continues to win more recruits for the extremists. All the above in conjunction with religious extremism contribute to more egregious forms of terror.

This is a wakeup call. There must be a significant rethinking in how we confront the challenge of terrorism. Current strategies have generally failed but for a few successes. The Saudis for example, have succeeded in reducing terror inside Saudi Arabia through dialogue and re-education of youth. In Iraq the U.S. won over the Iraqis – the so called sons of Iraq — who had joined Al Qaeda through dialogue and political and monetary incentives. Why can’t the same creative approach be brought to South Asia?

In India even those who combat hate are often consumed by hate. Pragmatism evaporates when hatred reigns. But the U.S. and NATO can try an alternative to their current failed approach.

The final question this carnage poses is to all Indians – Muslims and Hindus alike. What kind of India do they want? India is on the verge of a historical breakthrough. At its current rate of growth it will soon be a developed nation and a major world power. But in order to sustain the growth it needs internal stability. Without internal stability it will become a land of contradictions, always on the verge but never really there.

India will need to improve its ability to deal with terrorist threats. Intelligence gathering and operational performance are not on par with the threats it faces. It must also work to restore the faith of Indian Muslims in the state so that they work with it rather than against it. If another riot in which thousands of Muslims are slaughtered, as they were in Mumbai in 1992-93 and in Gujarat 2002, is allowed by the government then needless to say there will be more alienation and more radicalization of Indian Muslims and the problems will only grow.

Finally, India must find the way to work with Pakistan without resorting to another war that will only make matters worse. Rejecting outright President-Elect Obama’s recent offer to send President Clinton as a mediator to resolve the Kashmir conflict is not a commitment to peace. India is eager for U.S. support and intervention in every other matter, why not in the case of Kashmir?

Source : pakistan daily

Senjata Biologi akan Digunakan pada 2013

Posted in Military, USA with tags , , , , , , , on December 6, 2008 by indonesiaunderground

Foto: CBC

WASHINGTON – Pelaku teror nampaknya akan menggunakan senjata pemusnah massal dalam lima tahun ke depan dalam menjalankan aksi mereka. Senjata jenis biologi lebih dipilih ketimbang nuklir.

Hal ini menjadi kesimpulan dalam diskusi panel yang diadakan Kongres Amerika Serikat, Selasa kemarin.

“Dampak dari penggunaan senjata biologi sangat luas. Jumlah korban tewas bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat dari peristiwa 11 September,” kata Senator Bob Graham seperti dikutip CNN, Rabu (3/12/2008). Graham mencotohkan tragedi virus flu yang membunuh jutaan orang pada 1918.

“Saat ini mungkin masih dalam pemeriksaan laboratorium. Namun jika formulasinya jatuh ke tangan orang-orang jahat, maka dampaknya dapat berkali-kali lipat dari 40 juta orang yang sudah tewas pada 100 tahun lalu,” katanya.

Kongres mendesak pemerintah AS untuk lebih agresif membatasi penggunaan senjata biologi. Graham juga menandaskan, ini akan menyedot banyak biaya, namun tetap penting untuk diawasi.

“Pemimpin negeri ini dan dunia harus memutuskan sejauh ini ini menjadi prioritas. Senjata biologi akan jatu ke tangan orang-orang tidak bertanggung jawab. Ini mungkin tidak akan murah jadi butuh pengorbanan,” kata Graham.(ton)

Sumber :

Intelijen: New York akan Menjadi Duplikat Mumbai

Posted in USA with tags , , , , , , on December 6, 2008 by indonesiaunderground

Intelijen AS mengingatkan New York bisa menjadi sasaran aksi teror selanjutnya. Kota ini memiliki banyak kesamaan dengan Mumbai, India/Getty Image

Sabtu, 6 Desember 2008 – 13:08 wib

NEW YORK – Pascaserangan Mumbai berbagai spekulasi serangan susulan akan terjadi di Amerika Serikat. Komisaris Polisi Ray Kelly mengingatkan bahwa New York akan menjadi duplikat Mumbai.

“Dalam banyak hal, Mumbai memiliki kesamaan dengan New York,” kata Kelly seperti dikutip CNN, Sabtu (6/12/2008).

Dia menandaskan bahwa New York merupakan kota bisnis dan keuangan sama seperti Mumbai. Selain itu, tambahnya, budaya dan gaya hidup di kedua kota ini mencirikan, kental nuansa metropolis. Jaringan media juga banyak di kota ini. “Semuanya menjadi faktor keuntungan untuk menjadi sasaran teror,” katanya.

Pernyataan ini diungkapkan Kelly setelah kepolisian dan pejabat intelijen mengumumkan peningkatan keamanan pada hotel-hotel di New York serta lokasi-lokasi lain yang berpotensi besar menjadi obyek penyerangan, termasuk stasiun dan sarana transportasi lainnya.

Divisi intelijen Mario Rivera mengatakan, hotel-hotel telah direkomendasikan untuk menyusun rencana darurat, lebih protektif dengan pendatang, serta mewaspadai hal-hal mencurigakan (ton)

Source :