Archive for Amerika Serikat

Wikileaks Ungkap Pesta Rahasia di Arab

Posted in Religions, Secret Societies, USA with tags , , , , , , , , , on December 9, 2010 by indonesiaunderground

disadur dari vivanews.com

Anggota kerajaan Arab Saudi diam-diam menggelar sebuah pesta Halloween akhir tahun lalu di sebuah villa yang dijaga ketat aparat keamanan. Banyak minuman keras dan wanita dalam pesta itu.

Demikian isi memo diplomatik dari Kedutaan Besar AS di Jeddah kepada Departemen Luar Negeri di Washington yang dipublikasikan di laman WikiLeaks, yang dipantau harian The Guardian, Selasa, 7 Desember 2010.

Pesta itu digelar oleh pangeran kerajaan dari keluarga Al-Thunayan. Para diplomat mengatakan identitas sang pangeran harus dirahasiakan. Pesta itu bahkan disponsori sebuah perusahaan minuman energi asal Amerika Serikat.

“Alkohol, yang dilarang keras oleh hukum Saudi dan adat setempat, namun terlihat berlimpah ruah di bar area pesta. Bartender asal Filipina yang mereka sewa meracik cocktail punch dengan sadiqi, minuman keras lokal,” tulis memo itu. “Berdasarkan pengamatan sejumlah tamu wanita juga adalah pekerja malam.”

Konsuler Amerika Serikat di Jeddah, Martin Quinn, mengatakan, “Meskipun tidak menyaksikan langsung, penggunaan minuman yang dilarang lumrah di lingkungan sosial mereka.”

Pesta semacam itu sangat terjaga kerahasiaannya. Dengan penjagaan superketat, hanya mereka dari kalangan kerajaan dan superkaya yang bisa bergabung. Mayoritas pangeran di Arab juga umumnya memiliki bodyguard sewaan dari Nigeria atau sejumlah negara di Afrika.

Dalam sebuah pesta biasanya dihadiri lebih 150 laki-laki dan perempuan, yang mayoritas usia 20-an dan 30-an. Mereka masuk melalui penjagaan ekstra ketat. “Mirip sebuah klub malam di luar kerajaan: banyak alkohol, pasangan muda menari, seorang DJ, dan tamu berkostum pesta.”

Catatan Rahasia Bush untuk Obama

Posted in USA with tags , , , , , , , , , on January 21, 2009 by indonesiaunderground

Selasa, 20/01/2009 21:54 WIB
Catatan Rahasia Bush untuk Obama
Gagah Wijoseno – detikNews

Washington – Pada setiap pergantian tampuk kepemimpinan Amerika Serikat, ada sebuah tradisi yang selalu dilakukan presiden yang lengser. Yaitu meninggalkan pesan tertulis untuk presiden penggantinya yang diletakkan di Meja Resolusi.

“Bush menulis surat pada hari Senin dan meletakkannya di laci teratas meja resolusi,” kata juru bicara Bush, Dana Perino, seperti diberitakan AFP, Selasa (20/1/2009).

Meja Resolusi tersebut terletak di ruang oval, Gedung Putih. Dinamakan Meja Resolusi karena meja tersebut dibuat dari kayu bekas kapal Inggris yang memiliki nama itu.

“Saya tidak akan menjelaskannya lebih rinci. Tetapi isinya mirip dengan apa yang pernah dikatakannya pada saat malam pemilihan berlangsung soal perjalanan hidup baru Obama akan segera mulai. Dan dia mengharapkan yang terbaik buat Obama,” lanjut Perino.

Pada saat-saat terakhir sebelum meninggalkan Gedung Putih, Bush menghubungi Menlu AS Condoleezza Rice, Penasehat Keamanan Nasional Stephen Hadley, dan mantan kepala staf

Gedung Putih Andy Card. Kepada mereka, Perino mengisahkan, Bush mengucapkan salam
perpisahan.

“Presiden mengatakan, beri saya ciuman di kening yang tidak terlupakan,” ungkapnya. (gah/rdf)

Source : detiknews.com

Obamaphoria, Zionis, dan Krisis Global

Posted in USA with tags , , , , , , , , , , on November 29, 2008 by indonesiaunderground

Dikopi dari eramuslim.com

Amerika telah memilih. Barack Hussein Obama akhirnya terpilih sebagai Presiden AS ke-44, setelah dalam pemilu kemarin mengalahkan kandidat dari Partai Republik, Senator John McCain, dengan cukup telak. Obama merupakan presiden kulit hitam pertama di negeri yang mengklaim sebagai pengawal demokrasi dunia.

Kemenangan Obama disambut dengan sangat meriah tidak saja di dalam negeri, namun nyaris di seluruh dunia. Indonesia sebagai negeri di mana Obama pernah beberapa tahun menikmati masa kecilnya pun tidak ketinggalan tenggelam dalam histeria Obamaphoria. Berbagai acara mendukung dan menyambut Obama digelar, dari yang diadakan di pusat-pusat perbelanjaan, hingga di sekolah dasar daerah Menteng, Jakarta Pusat, di mana Obama pernah sekolah kurang dari dua tahun. Bahkan ada yang sampai menggelar acara doa bersama bagi Obama.

Obamaphoria dianggap sesuatu yang wajar, mengingat dunia sudah sedemikian jenuh dengan kesombongan politik luar negeri AS selama delapan tahun terakhir yang dipimpin George Walker Bush. Banyak kalangan, juga tokoh-tokoh Islam, mengharapkan AS bisa berubah di tangan pemimpin yang baru ini. Bahkan ada tokoh di negeri ini yang menyatakan sikap AS akan bisa lebih bersahabat dengan Indonesia, membantu perekonomian Indonesia, karena Obama pernah tinggal di negeri ini, walau sebentar. Harapan seperti ini boleh-boleh saja, walau cenderung utopis.

Kemenangan aktivis kemanusiaan berusia 47 tahun ini juga sebentar lagi bisa saja disabot oleh elit beberapa partai politik di Indonesia dengan menyatakan, “Barack Obama adalah inspirasi munculnya pemimpin muda, di bawah usia 50 tahun, yang sudah saatnya memimpin Indonesia. Berilah kami kesempatan untuk itu!” Orang-orang seperti ini melupakan pelajaran dasar sosiologi yang mengatakan, “Tidak ada kemenangan atau kenikmatan yang bisa diperoleh tanpa perjuangan.”

Melihat dengan Kritis

Reaksi dunia menyambut kemenangan seorang Obama dimana berbagai harapan besar dialamatkan kepadanya patut dilihat dengan kacamata yang jernih dan adil. Apakah benar seorang Obama akan bisa mengubah sifat politik luar negeri AS yang selama ini sangat menguntungkan gerakan Zionisme Internasional, sangat imperialistik, menjadi sikap politik luar negeri yang lebih berkeadilan dan tidak egois.

Jauh-jauh hari, di awal tahun 2000-an, Ustadz Rahmat Abdullah telah memberi tausiyah terkait kepemimpinan di AS. Beliau yang suka sekali dengan fabel atau perumpamaan dengan kisah-kisah binatang dalam tausiyah-tausiyahnya, menyatakan, “Kita tidak bisa terlalu berharap pada perubahan kepemimpinan di AS. Tidak akan pernah ada seorang calon presiden di negeri tersebut yang bisa tampil tanpa membawa restu dari lobi Yahudi yang sangat dominan di AS. Siapa pun presidennya, bahkan jika seekor monyet yang jadi Presiden AS, maka Amerika Serikat akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah.”

Adalah fakta yang tidak bisa dibantah jika Obama mendapat dukungan dari lobi Zionis-Yahudi AS. Demikian pula dengan John McCain. Dan Obama pun dalam masa kampanyenya telah berkali-kali menyatakan dirinya akan selalu membela dan mengutamakan Zionis-Israel sampai kapan pun.

“Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang saya bisa dalam kapasitas apapun untuk tidak hanya menjamin kemanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju dan makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu,” kata Obama dalam sebuah acara yang disponsori oleh Kedutaan Besar Israel di Washington untuk menghormati hari jadi negara Israel yang ke-60.

Amerika Serikat adalah Israel besar dan Israel adalah Amerika Serikat kecil. Fakta ini sudah diketahui semua pengamat internasional dan dunia akademis. Proses kelahiran negara AS pun sesungguhnya dinisbahkan untuk melayani kepentingan Yahudi Internasional (baca Eramuslim Digest edisi ‘The New Jerusalem: The Secret History of America’). Lobi Yahudi menguasai seluruh sektor vital di AS. Bahkan (alm) Letjend (Pur) ZA. Maulani mencatat jika sejak masa Presiden Bill Clinton, seluruh posisi kunci di Kementerian Luar Negeri AS dipegang oleh Yahudi Radikal laki-laki, di pimpin oleh seorang—satu-satunya—perempuan Yahudi Radikal bernama Madelaine Albright.

Sebab itu, seperti yang telah dikatakan Ust. Rahmat Abdullah, siapa pun presidennya dan sampai kapan pun, AS akan tetap berkiblat dan berkhidmat kepada kepentingan Zionis Internasional. Adalah mustahil mengharapkan AS bisa bersahabat secara murni dengan Dunia Islam. Kenyataannya malah banyak raja dan bangsawan Arab yang menjual Islam untuk bisa bersahabat dengan Zionis AS. Hal inilah yang bisa menjelaskan mengapa resto McDonald’s yang merupakan salah satu perusahaan donatur terbesar Zionis-Israel (silakan klik http://www.inminds.co.uk) bisa mendirikan gerainya di Tanah Suci Mekkah. Atau mengapa Pangeran Walid dari Saudi bisa menjadi Komisaris dari perusahaan Yahudi bernama City Group.

Euphoria sebagian besar masyarakat dunia, dan tentunya AS, terhadap Obama dengan cepat menghilang menjadi apatisme di hari-hari awal terpilihnya presiden pertama AS berkulit gelap ini. Harapan yang begitu besar akan perubahan, Change, yang menjadi slogan kampanye Obama seketika punah tatkala Obama menunjuk Rahm Emanuel, seorang Zionis-Yahudi Radikal yang memiliki paspor AS dan Israel menjabat sebagai Kepala Staff Gedung Putih.

Kolumnis Nathanel Kapner dalam situs The Real Jew News (10/11) menulis artikel sangat keras terhadap pilihan Obama ini. Tulisannya diberi judul “Mossad Spy to Run The White House”. Dari arsip FBI, Kapner mendapatkan bukti jika Rahm Emanuel yang juga seorang tentara IDF (Israeli Defenses Force) merupakan agen Mossad yang sengjaa diselundupkan ke AS. Benjamin Emanuel, ayah dari Rahm Emanuel, merupakan salah satu tokoh Mossad yang berasal dari kesatuan teroris Irgun, dibawah komando Menachem Begin.

Dalam artikelnya, Kapner mendapatkan arsip FBI dari sejumlah agennya yang antara lain bernama John O’Neil, seorang pejabat FBI bagian Kontra Intelijen. Dalam arsip FBI diketemukan jika Emanuel memang telah lama bercokol di lingkaran elit penguasa Gedung Putih. Dalam masa Bill Clinton, Emanuel inilah yang menjadi penasehat utamanya sekaligus merekrut Monica Lewinsky, seorang Yahudi juga, menjadi agen Mossad dengan nama rahasia ‘Swallow’ untuk merayu dan mendekati Clinton. Kita semua tahu apa yang kemudian terjadi.

Menurut Kapner, dengan naiknya Obama dengan dukungan yang begitu besar dari lobi Zionis Yahudi, sikap politik pemerintah AS tidak akan berubah. “Zionis akan tetap mengontrol Amerika Serikat!” tegasnya. Bahkan dalam banyak artikel kolumnis Barat sendiri, Rahm Emanuel disebut sebagai ‘Rahmbo’, disebabkan sosok Zionis-Yahudi yang satu ini memang sarat dengan catatan kekerasan dan gemar berperang.

Kita semua tentu bisa menebak, dengan seorang Mossad di sampingnya yang mengepalai Gedung Putih, apa yang akan menjadi garis politik dan ekonomi seorang Obama.

Tantangan Pertama

Krisis Keuangan yang tengah mendera AS merupakan ujian pertama bagi Obama. Satu hal yang pasti dilakukan adalah menyelamatkan keuangan AS lewat jalan apa pun yang bisa diambil. Sebab itu, amat mustahil di tengah kesulitan likuiditas yang nyata, Obama akan mengurangi cengkeraman AS atas Irak dan Afghanistan karena di kedua negara tersebut AS telah mendapatkan keuntungan ratusan miliar bahkan bisa jadi triliunan dollar dari sektor migas, militer, kontraktor pembangunan infrastruktur, dan lain-lain.

Amerika merupakan donatur paling utama dalam hal mendukung eksistensi Zionis-Israel di tanah Palestina. Dan Obama sendiri telah berulang-ulang menyatakan akan dengan segenap tenaga dan segenap pikiran untuk melakukan hal apa pun demi menjaga dan melindungi kepentingan Zionis-Israel di dunia. Dalam hal menghadapi krisis keuangan global, adalah sangat logis jika Obama akan mendahulukan kepentingan AS dan juga Israel. Ini juga berarti akan mengorbankan kepentingan negara-negara lain di luar keduanya, apalagi negara terkebelakang seperti Indonesia.

Dengan demikian sudah jelas, slogan ‘Change!’ yang dipakai Obama saat kampanye sebenarnya hanyalah perubahan orang yang akan duduk di kursi kekuasaan AS, yakni dari Bush ke Obama sendiri. Sedang sikap politik dan segalanya tetap tidak berubah-ubah. Obama jelas telah menipu rakyatnya sendiri dan juga menipu dunia. Dalam dunia politik, hal ini adalah sangat biasa. Di Indonesia saja, para politikus juga biasa melakukan hal seperti itu. Semua partai politik ketika berkampanye menyatakan diri sebagai pihak yang paling bersih, paling perduli pada rakyat, paling amanah, namun ketika sudah berkuasa mereka melupakan semuanya. Lima tahun sekali, ritual ‘sunnah Yahudi’ ini terus dilakukan di Indonesia dengan memakan uang rakyat ratusan miliar bahkan hingga triliunan rupiah. Apakah kita akan terus menjadi manusia bodoh? (Tamat/rd)

Setelah Kemenangan Barack Hussein Obama

Posted in USA with tags , , , , , on November 28, 2008 by indonesiaunderground

Saduran dari hidayatullah.com

Banyak orang menyambut gembira kemenangan Barack Hussein Obama. Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-248

Oleh: Adian Husaini

Rabu (6 November 2008) siang waktu Indonesia, Barack Hussein Obama akhirnya jadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Dunia gembira. Sorak sorai di mana-mana. Tak sedikit yang mengucurkan air mata. Anak imigran berkulit hitam keturunan Afro-Amerika berhasil menjebol tembok rasialis yang kokoh tertanam 232 tahun sejak Amerika merdeka, 1776.

Tak terkecuali di Indonesia. Sejumlah stasiun TV menayangkan saudara-saudara dan kawan-kawan Obama yang bersuka cita, bangga, berurai air mata bahagia menyambut kemenangan Obama. Dia pun dapat julukan mentereng: ’anak Menteng’. Syahdan, dia pernah tinggal 3,5 tahun di Indonesia.

Ya, Obama membuat sejarah. Di Amerika dan di dunia. Umat Islam pun turut gembira. Sejumlah tokoh yang biasa muncul di media mengumbar kata-kata penuh harap. Obama akan beda dengan pendahulunya, George Bush, yang sering dijuluki sang pengumbar angkara. Obama akan mau bicara; bukan hanya mengumbar senjata.

Obama muncul ketika dunia sedang sakit. Amerika sakit. Eropa sakit. Indonesia juga sakit. Krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, perang yang tiada henti, semakin membuat banyak penduduk bumi frustrasi. Cara apalagi yang bisa digunakan untuk menyulap dunia menjadi rumah damai? Banyak yang kemudian putus asanya. Patah arang.

Padahal, dunia sedang merindukan obat mujarab untuk keluar dari krisis. Dan Obama muncul pada saat yang tepat. Penampilannya luar biasa. Pidatonya menyihir milyaran umat manusia. Dia mengawali pidato dengan kata-kata memukau: “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer”.

Luarrr biasa! Jika ada yang masih ragu bahwa di Amerika segala sesuatu bisa terjadi, kata Obama, maka dia sudah membuktikannya! Dia bisa jadi Presiden Amerika dalam usia belia. Keturunan warga kulit hitam yang ratusan tahun dijadikan sebagai budak dan diinjak-injak, justru kemudian membalik sejarah. Dia menjadi pemimpin negara adikuasa. Itu Obama bin Hussein!

Jangan terlalu berharap!

Kemenangan Obama tentu menyiratkan harapan besar. Setidaknya, masih ada yang bisa diharap. Tapi, untuk mengubah kebijakan luar negeri AS, bukanlah perkara mudah. Mantan pejabat Deplu Amerika, William Blum, dalam bukunya Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower (2002), pernah mengajukan resep untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi warga AS: (1) minta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS, (2) umumkan dengan jiwa tulus ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir (3) umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51 (4) potong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen.

Kata Blum, itulah program tiga harinya di Gedung Putih, andaikan dia diangkat menjadi Presiden AS. Hanya saja, katanya, “On the fourth day, I’d be assassinated.”

Blum menggambarkan betapa peliknya problem politik luar negeri AS. Sifat ofensifnya sudah sangat mencengkeram dunia. Tidak mudah bagi Presiden siapa pun untuk mengubah tradisi imperialistik semacam itu. Film JFK garapan Oliver Stone menggambarkan bagaimana terbunuhnya John F. Kennedy juga tak lepas dari benturannya dengan ’kepentingan besar’ tersebut. Mampukah Obama membuat sejarah baru dalam hal ini? Kita tunggu saja! Toh, dia sudah berpidato: ”America is a place where all things are possible.”

Rumus serupa juga pernah disampaikan perumus teori dependensia dan strukturalisme, Prof Johan Galtung, dalam wawancaranya dengan harian Kompas di Jakarta (17/11/2002). Ketika itu, Galtung ditanya tentang penyelesaian soal peristiwa 11 September 2001 dan program perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Jawab Prof. Galtung: “Dibanding serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Serangan AS terhadap Afganistan memenuhi kriteria tindakan teroris.”

Penerima Right Livelihood Award tahun 1987 ini mengaku berulangkali menjawab pertanyaan soal serangan 11 September 2001: “Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS!” Ia juga berkirim surat kepada Presiden AS George W Bush – yang isinya meminta AS mengubah politik luar negeri, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. Tapi, suratnya, memang tidak digubris. “Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi, yang dilakukan justru sebaliknya,” ujarnya.

Imperialisme Barat yang melahirkan kezaliman global, seperti yang dinyatakan Blum bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pendapat Prof. Noam Chomsky, dalam bukunya, Year 501: The Conquest Continues, Ketua Just World Trust (JUST) Malaysia, SM Mohammed Idris menulis:

“Penaklukan bagi Dunia Baru, dalam sejarah peradaban, telah berakibat pada dua katastrofi demografik yang sangat luas, yang tidak saling berkaitan: pemusnahan yang sungguh-sungguh atas penduduk susku-suku asli yang tinggal di kawasan Barat dan penghancuran bangsa-bangsa Afrika dengan memperbudak penduduknya dan memperjualbelikannya dalam ekspansi besar-besaran demi memenuhi keserakahan para penakluk… Ketika keadaan telah berubah, tema fundamental dari penaklukan tetap bertahan dalam vitalitas dan daya lentingnya, dan akan terus berlanjut sedemikian sehingga dalam kesadaran tentang sebab-sebab ketidakadilan nan ganas yang betul-betul dikemukakan secara jujur dan terbuka.” (Lihat, Candra Muzaffar dkk., Human’s Wrong: Rekor Buruk Dominasi Barat atas Hak Asasi Manusia, (Yogya: Pilar Media, 2007), hal. 446).

Untuk mempertahankan hegemoninya, berbagai instrumen – politik, ekonomi, budaya, ideologi, militer – digunakan. Hingga kini, meskipun didesak sebagian besar negara-negara dunia, AS dan sekutunya tetap enggan melepas hak istimewa ’veto’ di PBB. Hak istimewa atas penguasaan persenjataan nuklir juga terus dipertahankan. Sebab, AS dan sekutunya memang memposisikan diri sebagai ”malaikat” dan musuh-musuh mereka diposisikan sebagai ”poros setan” (axis of evil). Dalam kasus dunia Islam, hak istimewa Negara Yahudi Israel tetap dilindungi, meskipun laporan kebiadaban dan pelenggaran HAM Israel telah menumpuk di markas PBB. Setiap Presiden AS – baik dari Partai Demokrat atau Republik – masih tetap menjalankan politik luar negeri yang tidak masuk akal dalam membela negara zionis tersebut.

Literatur yang mengupas hubungan spesial antara AS dan Israel sangat melimpah. Bernard Reich, misalnya, dalam artikelnya berjudul ‘The United States and Israel: The Nature of a Special Relationship (yang dimuat dalam buku The Middle East and The United States: A Historical and Political Reassessment (ed. David W. Lesch), Westview Press, 1996), menggambarkan tradisi tiap Presiden AS untuk membuat pernyataan berisi komitmen untuk mempertahankan hubungan spesial antara AS dan Israel. Berbagai upaya perdamaian Israel-Palestina pertama kali harus menjamin kepentingan Israel. untuk

Presiden Bill Clinton, misalnya, membuat pernyataan: “In working for peace in the Middle East, a first pillar is the security of Israel.”

Bantuan-bantuan AS terhadap Israel yang sangat fantastis diungkap oleh Paul Findley dalam bukunya Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship. Setiap tahun, negara Yahudi berpenduduk sekitar 6 juta jiwa ini menerima bantuan AS yang jumlahnya melampaui bantuan yang diberikan pada negara-negara lainnya. Sejak tahun 1987, bantuan ekonomi dan militer langsung berjumlah 3 milyar USD atau lebih. Antara 1949 sampai akhir 1991, pemerintah AS telah memberikan dana senilai 53 milyar USD kepada Israel dalam bentuk bantuan maupun keuntungan-keuntungan istimewa. Jumlah itu setara dengan 13 persen dari semua bantuan ekonomi dan militer AS ke seluruh dunia dalam kurun yang sama. Sejak perjanjian damai Mesir-Israel tahun 1979 sampai 1991, jumlah total bantuan AS ke Israel mencapai 40,1 milyar USD, atau setara dengan 21,5 persen dari semua bantuan AS, termasuk semua bantuan bilateral maupun multilateral. Tahun 1992, Senator Robert Byrd dari Virginia Barat, mengungkapkan data-data yang menunjukkan begitu royalnya bantuan AS kepada Israel. Dia katakan: “Kita telah memberikan bantuan luar negeri kepada Israel selama beberapa dasawarsa dengan jumlah dan syarat-syarat yang belum pernah diberikan kepada satu negeri mana pun di dunia ini. Sekutu-sekutu Eropa kita, sebagai perbandingan, hampir tidak memberikan apa-apa.”

Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Hingga kini, tanda-tanda itu belum ada sama sekali! Kondisi internal politik AS, kekuatan lobi Yahudi, dan dinamika politik dalam negeri Israel sendiri, beberapa kali menjadi faktor penghambat pembentukan negara Palestina merdeka. Perjanjian Camp David II di Presiden Clinton berakhir dengan kegagalan. Presiden George W. Bush sempat berkoar akan merealisasikan pembentukan negara Palestina tahun 2005. Tapi, ujungnya juga kegagalan. Memang, secara substansial, Obama diduga akan sama saja dengan pendahulunya. Tapi, apa salahnya berharap ada perubahan. Toh Obama sudah terlanjur bicara: “America is a place where all things are possible.”

Soal Palestina dipandang oleh berbagai kalangan sebagai isu terpenting dalam penyelesaian masalah terorisme. Berbagai pemimpin dunia Islam sudah mengimbau agar AS mengubah kebijakan anti-terornya yang jelas-jelas menganakemaskan Israel. Kelompok perlawanan Hamas dicap sebagai teroris. Sedangkan Israel justru diangkat sebagai sekutu utama dalam pemberantasan terorisme. Bahkan, Prof. Chomsky sendiri tak segan-segan mengkritik negaranya: “We should not forget that the US itself is a leading terrorist state.

Masalahnya lebih pelik ketika isu terorisme bukanlah isu yang harus diselesaikan, tetapi justru isu yang direkayasa untuk memberikan justifikasi keberlangsungan industri persenjataan di AS. Jika tidak ada musuh lagi, peperangan tiada lagi, bagaimana nasib industri senjata? Maka, tidaklah berlebihan, ketika Huntington menulis dalam buku populernya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), bahwa keberadaan musuh harus tetap dipertahankan. ”For self definition and motivation people need enemies,” tulis Huntington.

Pasca Perang Dingin, hubungan AS-Dunia Islam bahkan lebih pelik lagi. Strategi preemptive strike (serangan dini) yang dijalankan AS semakin menggencarkan penyebaran paham liberal keagamaan di dunia Islam. AS mengucurkan dana besar-besaran kepada kelompok-kelompok dan kalangan Muslim tertentu untuk membangun apa yang disebutnya sebagai ’Islam progresif’. Isu-isu liberalisasi, kesetaraan gender, pluralisme agama, multikulturalisme, dan sebagainya menjadi isu-isu favorit bagi AS dan LSM-LSM bentukannya.

Dalam masalah ini, AS bertindak lebih jauh dibanding kolonial Belanda dulu. Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam dijadikan sasaran penting oleh AS dan negera-negara Barat lain. Ini pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Republika, 3/12/2005).

Karena itu, tidak mudah bagi Obama untuk keluar dari ’jaring-jaring kebijakan global’ seperti ini. Banyak pemimpin Barat yang menghendaki umat Islam mengubah pikirannya agar menyesuaikan diri dengan ’dunia modern’. Dan tanpa disuruh pun, sudah banyak kalangan cendekiawan yang sudah menjalankan perintah Barat, karena keberhasilan program ’cuci otak’. Maka tidak heran, jika ekspor paham liberal ke tengah-tengah umat Islam tampaknya akan berjalan terus. Apalagi, Partai Demokrat pun memiliki kebijakan moral dan agama yang lebih liberal dibanding Republik. Bisa-bisa, politik belah bambu akan terus dijalankan: kelompok-kelompok liberal di Indonesia akan semakin diangkat ke atas, dan kaum non-liberal semakin diinjak.

Identitas keislaman Obama bisa menjadi batu sandungan psikologis bagi dirinya. Tudingan bahwa dirinya akan lebih mendekat ke Islam, malah bisa membuat dia ingin menunjukkan sikap sebaliknya. Setidaknya, Obama akan bersikap jauh lebih hati-hati dalam soal Islam. Maka, dalam kaitan ini, Obama diduga tidak akan banyak berbeda dengan pendahulunya. Politik Islam AS tetap berpegang pada norma internasional: diabdikan untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Jadi, tidaklah realistis berharap terlalu banyak pada Obama. Hanya saja, sekali lagi, boleh-boleh saja berharap sedikit. Toh, Obama sudah terlanjur berkata, di Amerika, segala sesuatu mungkin saja terjadi: “America is a place where all things are possible.”

Jadi, dalam situasi yang berat tersebut, umat Islam sebaiknya tidak terlalu berharap serius pada seorang Obama. Kemenangan Obama adalah sebuah drama (tontonan) yang menarik. Ibarat obat sakit kepala, Obama bisa meringankan pusing sejenak. Nantinya, entahlah! Tentu, lebih menarik andaikan tontonan ini dilanjutkan ke babak berikutnya: Obama bin Hussein bertemu dengan Osama bin Ladin. Dua tokoh puncak dunia bertemu. Dunia mungkin akan segera damai. Pabrik senjata gulung tikar. Tentara AS pulang kandang. Ini memang mimpi. Tapi, bukankah kata Obama, di AS semua bisa terjadi dan AS juga dibangun oleh mimpi para pendirinya?

Maka, tidak ada salahnya, kita bermimpi di atas mimpi. Toh mimpi masih bebas pajak di negara Republik Indonesia. [Depok, 7 November 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

Adam Malik, CIA, Tiga Serangkai dan Operasi Tas Hitam

Posted in Indonesia with tags , , , , , , , , , , on November 27, 2008 by indonesiaunderground

Adam Malik, CIA, Tiga Serangkai dan Operasi Tas Hitam

Nurul Hidayati – detikNews


Jakarta – Dari 800 lebih halaman di buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner, wartawan The New York Times yang pernah meraih Pulitzer, cerita soal Indonesia hanya makan 5 halaman saja, dimulai pada halaman 329. Meski sekelumit, namun pengakuan perwira CIA bahwa Adam Malik adalah agen CIA menggegerkan Tanah Air.

“Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar Clyde McAvoy, perwira CIA itu, dalam sebuah wawancara pada tahun 2005. McAvoy bertemu dengan Adam Malik di sebuah tempat rahasia dan aman di Jakarta pada 1964.

“Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” tambah McAvoy.

Adam Malik dirinci lebih dalam lagi setelah itu. Disebutkan, dalam beberapa minggu yang menegangkan pada bulan Oktober 1965, Negara Indonesia terpecah dua.

Tim Weiner menulis, “CIA berusaha mengkonsolidasi sebuah pemerintah bayangan, sebuah kelompok tiga serangkai yang terdiri atas Adam Malik, Sultan yang memerintah di Jawa Tengah, dan perwira tinggi angkatan darat berpangkat mayor jenderal bernama Suharto.

“Malik memanfaatkan hubungan dengan CIA untuk mengadakan serangkaian pertemuan rahasia dengan Duta Besar Amerika yang baru di Indonesia, Marshall Green. Sang Duta Besar mengatakan bahwa dia bertemu dengan Adam Malik “di sebuah lokasi rahasia” dan mendapatkan “gambaran yang sangat jelas tentang apa yang dipikirkan Soeharto dan apa yang dipikirkan Malik serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan” buat membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka pimpin, yang disebut Kap-Gestapu.
……..

Tim Weiner juga menulis, “Pada pertengahan bulan Oktober 1965, Malik mengirimkan seorang pembantunya ke kediaman perwira politik senior kedutaan, Bob Martens, yang pernah bertugas di Moskow ketika Malik juga bertugas di sana sebagai diplomat Indonesia. Martens menyerahkan kepada utusan Malik itu sebuah daftar yang tidak bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah daftar yang telah dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar komunis.”

Pada bagian lain disebutkan juga bahwa Duta Besar Green, McGeorge Bundy (Penasihat Keamanan Nasional) dan Bill Bundy (Asisten Menlu untuk Timur Jauh), melihat Suharto dan Kap-Gestapu layak mendapat bantuan AS. Namun Duta Besar Green mengingatkan bahwa bantuan itu tidak boleh berasal dari Pentagon atau Deplu. Program bantuan itu tidak akan bisa dirahasiakan; risiko politisnya sangat besar. Akhirnya disepakati bahwa uang itu harus ditangani oleh CIA.

Mereka sepakat untuk mendukung militer Indonesia dalam bentuk bantuan obat-obatan senilai US$ 500.000 yang akan dikirimkan melalui CIA dengan pengertian bahwa angkatan darat akan menjual obat-obatan tersebut untuk mendapatkan uang tunai.

Dubes Green, setelah berunding dengan Hugh Tovar, mengirimkan pesan telegram kepada Bill Bundy, yang merekomendasikan pembayaran uang dalam jumlah yang cukup besar kepada Adam Malik:

“Ini untuk menegaskan persetujuan saya sebelumnya bahwa kita menyediakan uang tunai sebesar Rp 50 juta (sekitar $ 10 ribu) buat Malik untuk membiayai semua kegiatan gerakan Kap-Gestapu. Kelompok aksi yang beranggotakan warga sipil tetapi dibentuk oleh militer masih memikul kesulitan yang diakibatkan oleh semua upaya represif yang sedang berlangsung…

Kesediaan kita untuk membantu dia dengan cara ini, menurut saya , akan membuat Malik berpikir bahwa kita setuju dengan peran yang dimainkannya dalam sebuah kegiatan anti-PKI, dan akan memajukan hubungan kerja sama yang baik antara dia dan angkatan darat.

Kemungkinan terdeteksinya atau terungkapnya dukungan kita dalam hal ini sangatlah kecil, sebagaimana setiap operasi “tas hitam” yang telah kita lakukan.”

Tim Weiner juga menulis, “Sebuah gelombang besar kerusuhan mulai meningkat di Indonesia. Jenderal Suharto dan gerakan Kap-Gestapu telah membunuh begitu banyak orang. Dubes Green kemudian memberi tahu Wapres Hubert H Humprey dalam sebuah pembicaraan di kantor wakil presiden di Gedung Capitol bahwa “300.000 sampai 400.000 orang telah dibantai” dalam “sebuah pertumpahan darah besar-besaran”.

Wakil Presiden menyebutkan bahwa dia telah mengenal Adam Malik selama bertahun-tahun, dan Dubes memujinya sebagai “salah satu orang terpintar yang pernah dia temui.” Malik dilantik sebagai menteri luar negeri, dan dia diundang untuk berbincang-bincang selama 20 menit dengan Presiden Amerika di Oval Office. Mereka menghabiskan waktu berbincang-bincang tentang Vietnam.

Pada akhir pembicaraan mereka, Lydon Johnson mengatakan bahwa dia memiliki perhatian amat besar tentang perkembangan di Indonesia dan dia mengirimkan salam hangatnya untuk Malik dan Suharto. Dengan dukungan AS, Malik kemudian terpilih menjadi ketua Sidang Umum PBB.” (nrl/anw)

Sumber : detiknews.com

Pesawat Tempur Iran Menembak Jatuh Pesawat Udara Amerika Serikat

Posted in Iran, USA with tags , , , , , on October 8, 2008 by indonesiaunderground

Berita disalin dari detiknews.com

Rabu, 08/10/2008 00:20 WIB
Aprizal Rahmatullah – detikNews


AFP

Jakarta – Pesawat tempur Iran menembak jatuh pesawat udara Amerika Serikat setelah pesawat tersebut memasuki wilayah udara Iran tanpa izin.

Seperti dilansir oleh Kantor berita Fars (Iran) pada Selasa (7/10/2008), di dalam pesawat itu terdapat 5 tentara dan 3 warga sipil yang kini sedang dimintai keterangan.

“Setelah interogasi, dari fakta-fakta terbukti bahwa pesawat udara tersebut tidak sengaja memasuki wilayah Iran dan diperbolehkan untuk pergi menuju Afganistan,” tambah Fars.

Media televisi setempat menyatakan bahwa pesawat udara tersebut mengangkut prajurit Amerika namun pesawatnya bukan milik militer.

“Pesawat ini bukanlah pesawat militer dan bukan milik Amerika Serikat,” kata salah satu petugas yang tidak mau menyebut namanya di website Al-Alam channel Arab-language.

“Tetapi beberapa tentara militer Amerika serikat ada di dalam pesawat,” tambahnya.

Pesawat terbang tersebut melaju menuju daratan Iran pada Minggu dan baru diperbolehkan terbang menuju Afganistan hari Senin. Juru bicara wanita U.S. Fleet Lieutenant mengatakan kepada AFP, hingga saat ini tidak ada informasi mengenai penembakan dari Iran.

Juru bicara Pentagon juga menegaskan kalau tidak ada satu pun pesawat mereka yang hilang.(ape/mok)

NAMRU 2

Posted in Indonesia with tags , , , , , on September 8, 2008 by indonesiaunderground

Posting saya salin dari Senopati Wirang (http://intelindonesia.blogspot.com), foto2 dari http://www.nmrc.navy.mil

NAMRU-2

Namru 2 = Intelijen AS…..hahaha benar-benar ramai komentar dan pandangan para ahli dan pengamat intelijen di media massa tentang Namru 2, sampai-sampai ada yang menganalisa Namru 2 sebagai cover CIA untuk mengawasi pilpres seperti diungkapkan AC Manullang.

Reaksi pertama saya atas sejumlah polemik di media massa, termasuk komentar Pimpinan kita Bung JK, adalah sedih teramat sedihnya. NAMRU 2 (The Naval Medical Research Unit 2) yang berada dibawah Angkatan Laut AS adalah sebuah proyek bergengsi dengan nilai investasi yang sulit kita bayangkan, bila dikatakan alatnya miliran rupiah, maka sangat mungkin berpuluh kali lipat. Suatu investasi yang besar tentu mengharapkan hasil yang besar pula, apa bentuk hasil dari sebuah proyek penelitian tidak lai tidak bukan adalah sampel virus dan antidote-nya, yang apabila sukses akan menghasilkan pemasukkan yang luar biasa, sehingga nilai investasi penelitian akan kecil dibandingkan dengan keuntungannya.

Selain itu,…..keberhasilnya menanggulangi keganasan dan pola-pola serangan virus juga sangat penting dalam pengembangan senjata biologi rahasia, itulah sebabnya akses ke NAMRU 2 sangat dibatasi. Blog I-I telah mengirimkan tenaga ahli ke dalam laboratorium NAMRU ketika masa terminasi kerjasama itu dilakukan pada akhir 1990-an dan awal tahun 2000. Rekomendasi dari berbagai pihak terkait adalah bahwa proyek itu selesai. Namun berkat kelihaian AS, bisa tetap eksis sampai sekarang. Informasi yang Blog I-I kumpulkan mungkin tampak biasa-biasa saja yaitu mengenai beragam sampel penelitian yang sangat penting dalam upaya pencarian anti virusya, ambil saja contoh malaria yang telah puluhan tahun tidak juga diumumkan kepada masyarakat Indonesia apa hasil kerja NAMRU, gagalkah mereka atau telah disembunyikan?

Belum lagi dengan kejanggalan Avian Flu yang telah Blog I-I pastikan bukan wabah di Indonesia. Kejanggalan yang tidak mengikuti seluruh pola berjangkitnya sebuah wabah (natural virus outbreak) tersebut bisa diperhatikan dari jatuhnya kematian demi kematian orang Indonesia yang secara random terjangkit Flu Burung hingga saat ini. Ketika kasus Flu Burung meledak di China, pemerintah China sudah mendeteksi adanya unsur kesengajaan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi China, hingga pada saat itu kasus Flu Burung ditutup-tutupi oleh Kementerian Kesehatan, hingga akhirnya dinyatakan sebagai keadaan darurat. Karena kewaspadaan China sangat tinggi dan operasi intelijen segera digelar, maka upaya teror terhadap rakyat China tersebut segera teratasi, bahkan langkah drastis berupa penghancuran industri ayam di China-pun ditanggungnya.

Indonesia yang setengah hati dan masih dalam keraguan apakah Flu Burung itu sebuah wabah atau bukan berjalan dalam langkah yang tidak pasti, sehingga kebijakan penanganannya terkesan tidak terpadu, bahkan ada pihak-pihak pejabat di Depkes (tentunya bukan Menterinya) yang mencoba menjelaskan bahwa Flu Burung adalah wabah alami, seharusnya yang bersangkutan segera dipecat saja karena tidak memiliki sensitifitas terhadap kewaspadaan nasional dan kematian orang Indonesia akibat Flu Burung.

Apakah lantas kita tuduh saja Namru 2 itu sebagai suatu operasi intelijen? Tentu saja hal ini menjadi reaksi yang kurang elegan juga karena terlalu banyak pengamat yang entah mengapa berkicau memberikan komentar yang tidak bermutu. Seharusnya dalam kasus ini para ahli asal Indonesia segera dimintai keterangan karena para ahli asal AS pasti akan membantahnya habis-habisan.

Mengenai Dino Patti Djalal, meskipun Blog I-I pernah secara keras menegurnya, namun kurang setuju apabila karirnya dimatikan begitu saja atas dasar dugaan dan karakternya dihancurkan dimata publik sebagai akibat tuntutan sejumlah pihak civil society dengan tuduhan sebagai agen AS. Dino adalah anak muda yang cerdas dan memiliki potensi yang baik, namun kesombongan dan over confidentnya telah membutakan matanya dari dinamika perdebatan politik dan kepentingan di dalam negeri. Seandainya saja Dino mendengarkan kritik keras Blog I-I untuk lebih berhati-hati dan mencoba melihat persoalan dari sisi lain, mungkin ia tidak akan terlalu keras dalam menentang intelijen Indonesia bahkan bisa bersinergi untuk Indonesia Raya. Nasi sudah menjadi bubur, apakah ada langkah-langkah perbaikan dari Bung Dino, sebaiknya demikian…bukan asal bantah saja. Perlu Bung Dino pahami bahwa pengadilan publik lebih sadis daripada klarifikasi di depan hukum.

Kekesalan para Patriot Indonesia Raya dalam kasus Namru 2 sangat wajar dan harus kita dukung bersama dalam kerangka kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Meskipun demikian, langkah-langkah yang diplomatis juga hars secara gigih mengikuti gejolak kekesalan itu. Jangan sampai secara emosional mengeluarkan segala caci maki atau bahkan tuduhan yang tidak dilandasi oleh fakta-fakta. Karena hal itu akan dengan dimanfaatkan balik oleh AS untuk kembali menekan Indonesia. Patriotisme tanpa kecerdasan akan membabi buta, sebaliknya kecerdasan tanpa bimbingan kepedulian kepada nasib bangsa dan negara juga akan terpuruk dalam kesombongan pribadi.

Kasus Namru 2 akan dipertahankan oleh AS bukan karena masalah atau kondisi politik di Indonesia, tetapi lebih kepada kekayaan sumber-sumber penelitian dan investasi biomedik yang sangat mahal. Tentunya Indonesia harus bisa menekan untuk dapat memperoleh atau menikmati hasil penelitian tersebut. Namun dalam prakteknya, seperti diungkapkan seorang informan Blog I-I sangatlah sulit karena keseluruhan kontrol.kendali ditangan para ahli AS, sementara tenaga ahli asal Indonesia sebagian besar telah disuapi oleh AS sehingga wajar bila terjadi divided loyality. Bahkan sejumlah pejabat birokrasi baik di Depkes, Dephan dan Angkatan Laut secara diam-diam juga ada yang memuluskan proyek Namru.

Apa yang Blog I-I harapkan dari merebaknya polemik Namru yang telah berulangkali terjadi adalah kesungguh-sungguhan pemerintah secara terpadu mengambil langkah yang tegas sekaligus juga tetap menjaga norma diplomasi dengan menyampaikan posisi dan sikap secara utuh. Apabila AS tetap ngotot untuk melanjutkan proyek Namru, maka harus ada keberanian untuk mengatkan tidak atau mengatakan iya dengan syarat yang mnguntungkan Indonesia. Syarat yang menguntungkan Indonesia itu juga harus dilengkapi dengan rencana dan program pengawasan penelitian Namru. Kemudian pemberian status diplomat juga harus dicabut segera.

Akhir kata, semoga gerakan civil society yang menyoroti Namru 2 juga juga didasari oleh kejujuran dan kepedulian dan bukan karena manuver politik tertentu untuk menjatuhkan seorang Dino Pattu Djalal. Mudah-mudahan juga Dino memiliki jawaban yang jelas atas segala tuduhan kepadanya serta dapat mempertanggungjawabkan posisinya yang selalu membela perpanjangan proyek Namru, singkatnya apa dasarnya?

Apa yang terjadi dalam proyek Namru 2 setidaknya dapat menjadi pelajaran dan case study bagi komunitas intelijen tentang pentingnya menyatukan derap langkah kebijakan pemerintah. Sehingga kita bisa melihat bahwa meskipun Menlu, Panglima TNI, dan BIN sudah pernah menyarankan berakhirnya proyek Namru, namun hal itu tidak terkoordinasi dengan baik. Karena kebocoran-kebocoran pada level pejabat di Depkes cukup memprihatinkan, semoga Ibu Menkes tetap diberi kekuatan dalam membersihkan jajarannya.

Sekian, mohon koreksi dari pihak-pihak yang paham tentang proyek Namru 2