Archive for islam

Pasca Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir; Siapakah Sufyan Tsauri?

Posted in Indonesia, Terrorism with tags , , , , , , , , , , , on August 12, 2010 by indonesiaunderground

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah ditangkap untuk kedua kalinya. Berbagai ormas Islam pun memberikan berbagai tanggapan, dari yang moderat hingga keras.

Ketua Umum DPP FPI Habib Rizieq Syihab menyatakan sangat prihatin sekaligus mengecam penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir oleh Densus 88 saat sedang safari dakwah di Jawa Barat, dan menganggap adanya politisasi serta adanya upaya “terorisasi”  Islam dan tokoh-tokohnya. Penangkapan Abu Bakar Ba’asyir dinilai sarat dengan kepentingan politik, antara lain: Politik Rekayasa Terorisme, Politik Pengalihan Issue, dan Politik Pemberangusan Gerakan Islam. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers yang disampaikan di kantor DPP Front Pembela Islam (FPI) Petamburan Jakarta, Senin (9/8/2010).

Politik Rekayasa Terorisme, menurut Habib Rizieq, terindikasi karena berbagai rekayasa  kasus oleh Polri telah terungkap, seperti Kasus Aan, Kasus pemulung menyimpan lintingan ganja, kasus Gayus dan lain-lain. Sedangkan Politik Pengalihan Issue digunakan untuk mengalihkan issue dari kasus-kasus besar seperti Century, kenaikan TDL, pencabutan subsidi BBM, rekening gendut perwira Polri, keterlibatan Polri dalam rekayasa berbagai kasus dan lain-lain. Sedangkan Politik Pemberangusan Gerakan Islam, lanjut Rizieq, adalah politik untuk menakut-nakuti para aktivis Islam yang concern dengan perjuangan penerapan syariat Islam.

…Penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dinilai sarat dengan kepentingan politik: Politik Rekayasa Terorisme, Politik Pengalihan Issue, dan Politik Pemberangusan Gerakan Islam…

Untuk menghadapi politik rekayasa terorisme itu, DPP FPI menyerukan kepada umat Islam untuk merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwah Islamiyah, serta melawan segala kezaliman, sekaligus melakukan pembelaan hukum terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Habib Rizieq menambahkan, saat ini DPP FPI telah mengidentifikasi bahwa kasus “Teroris Aceh” adalah rekayasa terorisme yang dimainkan oleh Sufyan Tsauri, seorang desertir Brimob.

“Sufyan Tsaurilah yang merekrut dan melatih para tersangka “Teroris Aceh” di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat sejak tahun 2009,  sehingga tidak ada kaitannya dengan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir,” tegas Habib.

…Kasus “Teroris Aceh” adalah rekayasa terorisme yang dimainkan oleh Sufyan Tsauri, seorang desertir Brimob…

Usai membacakan Pernyataan Sikap DPP FPI, Habib Rizieq meminta kepada Kapolri untuk mengungkap siapa sebenarnya Sufyan Tsauri.

“Kami DPP FPI minta kepada bapak Kapolri untuk mempublikasikan siapa identitas Sufyan Tsauri? Di mana ia tinggal? Karena  sebenarnya dialah tokoh sentral yang merekrut, melatih, dia yang mendanai kelompok Aceh,” lanjut Habib.

Yang mencurigakan, menurut Habib, Sufyan Tsauri melakukan pelatihan di Mako Brimob, setelah itu anak-anak yang dilatih tadi dibawa ke Aceh latihan perang, lalu digrebeg, ditembaki, dan dituduh teroris. Sufyan Tsauri pula yang mensuplai senjata AK 47 lengkap dengan ribuan amunisi.

Habib berjanji akan membongkar rekayasa terorisme yang diotaki oleh deserter Brimob di hadapan Komisi III DPR RI.

…DPP FPI akan membongkar rekayasa terorisme yang diotaki oleh deserter Brimob di hadapan Komisi III DPR RI…

“Kami punya anak-anak yang ikut latihan di Mako Brimob, tapi dia tidak terlibat dalam latihan perang di Aceh. Sampai saat ini mereka kami amankan, kami akan bawa ke DPR RI komisi III kalau sudah siap,” janji Habib.

Sampai saat ini, para saksi kunci kasus rekayasa terorisme yang diotaki oleh deserter Brimob itu sedang diamankan oleh DPP FPI.

“Sekarang ini mereka kami amankan karena ini menyangkut nyawa mereka yang terancam. Mereka setiap saat bisa diculik, dibunuh oleh orang-orang yang merasa kepentingannya dirugikan,” kata Habib. “Kami khawatir rekayasa-rekayasa ini sengaja ingin melakukan terorisasi umat Islam padahal umat Islam bukan teroris hanya diterorisasikan,” pungkasnya.

Provokasi Menjelang Ramadhan

Menanggapi penangkapan amirnya, Pengurus Jamaah Anshorut Tauhid Wilayah Jakarta Ahmad Fatih menilai penangkapan itu sebagai bentuk provokasi terhadap umat Islam menjelang Ramadhan ini.

“Ini adalah provokasi terhadap umat Islam, karena Ustadz Abu merupakan salah satu pimpinan dari ormas Islam,” jelasnya.

…Ini adalah provokasi terhadap umat Islam, karena Ustadz Abu adalah salah satu pimpinan dari ormas Islam…

Karenanya, Fatih mengimbau kepada umat Islam untuk melakukan pembelaan terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan cara apapun yang dibenarkan oleh syariat.

“Kami menyatakan haram hukumnya berdiam diri dan tidak melakukan upaya apapun penzaliman terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir,” tegasnya.

(sumber : http://freeabb.com)

Siapakah Sufyan Tsauri? Inilah yang harus segera dibuka…..

Advertisements

Film Perempuan Berkalung Sorban Dianggap Menyesatkan

Posted in Films, Indonesia with tags , , , , , , , , , , , , , , , on February 6, 2009 by indonesiaunderground

Senin, 02 Februari 2009 pukul 08:23:00, Sumber : http://www.republika.co.id/

Tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.

JAKARTA — Film ”Perempuan Berkalung Sorban” besutan Sutradara Hanung Bramantyo yang sedang diputar di bioskop dinilai banyak mengandung muatan agama yang menyesatkan. Film yang diadopsi dari novel karya Abidah Al Khalieqy itu juga dianggap telah melecehkan Alquran dan Hadits, serta telah menjelek-jelekan pesantren.

Abidah Al Khalieqy

Salah satu pesan yang dianggap menyesatkan dalam film itu adalah dialog antara Kiai Hanan, ayah Anissa (Joshua Pandelaky) dengan Annisa (Revalina S Temat). Dalam dialog itu, Kiai Hanan berkata, “Jelas Alquran dan Hadits mengharamkan perempuan keluar rumah sendiri tanpa muhrim, meski untuk belajar.”

”Yang membuat saya kaget, dialog itu dihadirkan secara berulang dengan adegan yang berbeda,” cetus staf pengajar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Fitriyani Aminudin kepada Republika, Ahad (1/2). Padahal, kata Fitriyani, tak ada satupun ayat dalam Alquran dan Hadits yang melarang perempuan untuk keluar rumah.

Ia menegaskan, penggunaan kata ”berdasarkan Alquran dan Hadits” dalam film itu sebagai bentuk pelecehan kitab suci yang amat menyakitkan. Reaksi keras terhadap Film ”Perempuan Berkalung Sorban” juga dilontarkan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Ali Mustafa Yakub. Pakar ilmu Hadits itu menyatakan, tak ada satu pun ayat dalam Alquran dan Hadits yang mengharamkan perempuan untuk keluar rumah.

“Yang ada justru hadits yang sebaliknya,” tegas Kiai Ali Mustafa. ”Janganlah kamu melarang perempuan-perempuanmu untuk ke masjid (menimba ilmu),” ucapnya mengutip sebuah hadits. Anggota Komisi Fatwa MUI itu menilai, Film ”Perempuan Berkalung Surban” telah menyesatkan. “Mereka menggambarkan persepsi yang salah, padahal keadaan yang sebenarnya tidak seperti itu. Itu sangat tidak benar. Menurut saya film itu menyesatkan.”

Kiai Ali juga menyoroti adegan Anissa menunggang kuda. ”Dalam film itu digambarkan bahwa perempuan dilarang menunggang kuda. Padahal pada zaman Nabi banyak perempuan yang sudah menunggang kuda,” tuturnya. Menurut dia, film tersebut telah menyampaikan ajaran agama yang salah. ”Sebaiknya tidak usah ditonton.”

Selain itu, Fitriyani juga memaparkan banyaknya adegan yang ganjil dalam film itu. Ia mengkritisi sejumlah dialog dan gambar yang mencoba membandingkan Alquran serta Hadits dengan buku Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Tur. “Siapapun yang menontonnya, dalam film ini terdapat kesan kuat yang menggambarkan kebodohan kaum santri mengharamkan buku-buku Komunis,” cetus Fitriyani.

Fitriyani menilai film itu mengedepankan pesan utama kebebasan yang mencoba membandingkannya dengan pesantren. “Ada sebuah kesalahan fatal, karena mereka (pembuat film) tak mendalami lebih dahulu karakter dan tradisi pendidikan pesantren,” tegasnya. Ia menilai mereka yang terlibat dalam film itu sangat terlihat sekali ketidakpahaman mereka terhadap sejarah, tradisi, karakteristik dan jiwa pesantren.

”Ini merupakan pelecehan dan penghinaan terhadap pesantren,” kata wanita yang juga pernah mondok di salah satu pesantren Jawa Timur itu. Menanggapi reaksi keras dari kalangan umat Islam itu, Sutradara Film ”Perempuan Berkalung Sorban”, Hanung Bramantyo membantah adanya dialog haramnya perempuan keluar rumah yang didasarkan pada Alquran dan Hadits. “Tak ada dialog seperti itu, itu hanya pendapat sang Kiai yang notabene pemilik pesantren bukan berdasarkan Alquran dan Hadits,” kilahnya.

Hanung menambahkan, ia mengadopsi keadaan pesantren dan kegiatannya dari novel karya Abidah Al Khalieqy yang merupakan hasil pengamatan Abidah. c63

6fe58684e7

Sumber : http://www.republika.co.id/

Foto : http://swaramuslim.com

U.S. spent $ 1 Trillion in war against Islam

Posted in USA with tags , , , , , , , , , , , on December 29, 2008 by indonesiaunderground

american_flag1

Written by http://www.daily.pk

Sunday, 28 December 2008 19:46

The news that President Bush’s so-called “war on terrorism” (on other word war on Islam) soon will have cost the U.S. taxpayers $ 1 trillion – and counting – is unlikely to spread much Christmas cheer in these tough economic times.

A trio of recent reports – none by the Bush Administration – suggests that sometime early in the Obama presidency, spending on the wars started since 9/11 will pass the trillion-dollar mark. Even after adjusting for inflation, that’s four times more than America spent fighting World War I, and more than 10 times the cost of 1991’s Persian Gulf War (90 % of which was paid for by U.S. allies). The war on “terrorism” looks set to surpass the costs the Korean and Vietnam wars combined, topped only by World War II’s price tag of $ 3.5 trillion.

The cost of sending a single soldier to fight for a year in Afghanistan or Iraq is about $ 775,000 – three times more than in other recent wars, says a new report from the private but authoritative Center for Strategic and Budgetary Assessments (CSBA). A large chunk of the increase is a result of the Administration’s cramming new military hardware into the emergency budget bills it has been using to pay for the wars. (See pictures of U.S. troops in Iraq.)

These costs, of course, pale alongside the price paid by the nearly 5,000 U.S. troops who have lost their lives in the conflicts – not to mention the wounded – and the families of all the casualties. And President Bush insists that their sacrifice and the expenditure on the wars have helped prevent a repeat of 9/11. “We could not afford to wait for the terrorists to attack again,” he said last week at the Army War College. “So we launched a global campaign to take the fight to the terrorists abroad, to dismantle their networks, to dry up their financing and find their leaders and bring them to justice.”

But many Americans may suffer a moment of sticker shock from the conclusions of the CSBA report and similar assessments from the Government Accounting Office (GAO) and Congressional Research Service (CRS), which make clear that the nearly $ 1 trillion already spent is only a down payment on the war’s long-term costs. The trillion-dollare figure does not, for example, include long-term health care for veterans, thousands of whom have suffered crippling wounds, or the interest payments on the money borrowed by the Federal Government to fund the war. The bottom lines of the three assessments vary: the CSBA study says $ 904 billion has been spent so far, while the GAO says the Pentagon alone has spent $ 808 billion through last September. The CRS study says the wars have cost $ 864 billion, but CRS didn’t factor inflation into its calculations.

Sifting through Pentagon data, the CSBA study breaks down the total costs of the “war on terrorism” as $ 687 billion for Iraq, $ 184 billion for Afghanistan and $ 33 billion for homeland security. By 2018, depending on how many U.S. troops remain in Afghanistan and Iraq, the total cost is projected to likely be between $ 1.3 trillion and $ 1.7 trillion. On the safe assumption that the wars are being waged with borrowed money, interest payments raise the cost by an additional $ 600 billion through 2018.

Shortly before the Iraq war began, White House economic adviser Larry Lindsey earned a rebuke from within the Administration when he said the war could cost as much as $ 200 billion. “It’s not knowable what a war or conflict like that would cost,” Defense Secretary Don Rumsfeld said. “You don’t know if it’s going to last two days or two weeks or two months. It certainly isn’t going to last two years.”

According to the CSBA study, the Administration has fudged the war’s true costs in two ways. Borrowing money to fund the wars is one way of conducting them on the cheap, at least in the short term. But just as pernicious has been the Administration’s novel way of budgeting for them. Previous wars were funded through the annual appropriations process, with emergency spending – which gets far less congressional scrutiny – used only for the initial stages of a conflict. But the Bush Administration relied on such supplemental appropriations to fund the wars until 2008, seven years after invading Afghanistan and five years after storming Iraq.

“For these wars, we have relied on supplemental appropriations for far longer than in the case of past conflicts,” says Steven Kosiak of the CSBA, one of Washington’s top defense-budget analysts. “Likewise, we have relied on borrowing to cover more of these costs than we have in earlier wars – which will likely increase the ultimate price we have to pay.” That refusal to spell out the full cost can lead to unwise spending increases elsewhere in the federal budget or unwarranted tax cuts. “A sound budgeting process forces policymakers to recognize the true costs of their policy choices,” Kosiak adds. “Not only did we not raise taxes, we cut taxes and significantly expanded spending.”

The bottom line: Bush’s projections of future defense spending “substantially understate” just how much money it will take to run Obama’s Pentagon, the CSBA says in its report. Luckily, Defense Secretary Robert Gates plans to hang around to try to iron out the problem.

Source : http://www.daily.pk

The Mumbai Attacks The Real Perpetrators and their Goals

Posted in Israel, Terrorism with tags , , , , , , , , , on December 9, 2008 by indonesiaunderground
Pakistani security forces raided a camp of a charity run by ...
picture : AFP

For the past many months, the world’s eyes were focused towards the horrendous developing situation in India, wherein a serving Lieutenant General was charged guilty of massacre against both Hindus and Muslims in the “Samjhauta (Friendship) Express”

train in which countless people were burnt alive in their cottages before reaching Pakistan from India. . His name was Lt. Col. Purohit, who was later on reported to have also supplied RDX chemical explosives to Hindu extremists to carry out their attacks.

But then after a few days, suddenly there appear ten “Pakistani” individuals (mostly young) who run about the vicinity of Mumbai wreaking havoc and carnage wherever they go. The Indian media, though know for its objective and straightforward reporting, for the first time showing irresponsibility pointed the finger straight towards Pakistan and its nationals. This has never happened before.

Pakistani soldiers patrol the restive Swat valley in February ...

Some of the notable events and occurrences that are indeed questionable during all these tensions include:

  • How did “people who sailed from Karachi” come to know about the exact whereabouts of the city and especially the layout of the hotel premises? Employees of the Taj Hotel have said that the way in which the terrorists rioted through the whole building was amazing. One of them even said that “They know the place better than us or for that matter, even the Manager himself!”
  • Pictures of one of the attackers in a black T-shirt and grey jeans have been spread over the internet. Even the Associated Press managed to capture a picture, which also clearly shows that the attacker had been wearing an orange-colored male bangle in his left arm. Many Hindu religious sources including Wikipedia clearly say that such bangles are worn by far-right Hindus (too conservative) on their right arms (by males) and left arms (by females).. Similar orange bangles were also worn by Hindu extremists when they were openly slaughtering Muslims in Gujarat and Christians in Orissa. Some religious sources say that the wearing of these bangles signify the “good-luck charm for the fulfillment of any religious undertaking”. Sort of like a “Hindu jihad”, if I were to basically put it that way. The question is: Why would a “fundamentalist Muslim” who is willing to “wage war against the infidels” wear a bangle that purely represents extremist Hindu ideology and beliefs?
  • Immediately reports came in the Indian media that the “Deccan Mujahideen” claimed responsibility for the attacks”. If that were the case, then we all know that Deccan is the provincial capital of Hyderabad, not the Hyderabad in Pakistan but the one in India! Furthermore, authentic investigative and intelligence-briefed findings show that there is no such “jihadi” organization by this name, which furthermore proves that this was another hoax.
  • One Indian channel went as far as broadcasting “real time videos” of a particular “Rehman chacha” (Rehman uncle) hailing from Faridkot district, Pakistan. Reportedly, the attackers had called him from their SIMs and taken further instructions… This is indeed appaludable, for one of the largest news channels in Pakistan, Express News, did extensive thorough findings in search of this person and found out there wasn’t anyone with such a name who ever belonged to Faridkot.
  • The Indian Govt. then again changed her statement and said it was a particular “Amir Jamal” from Faridkot. Again, the Express News team went on research and found out that this very man had died 3 years ago! His own kin related the event to the news team.
  • And again… now the Indian Govt. says it was a particular “Amir Kasab”… we’ll see what develops regarding another sham like this.
  • Some sources revealed on Pakistani media that they were “surprised” at they themselves not knowing of the fact that during all the tragedy in Mumbai, the Jewish settlement at ‘Nariman House’ was also loaded with MI5, Mossad and FBI agents. Furthermore, a handful of CIA agents were also among those dead at the Taj Hotel and were also present at the Oberoi Palace. As we move on, we came to know that the international Jewish terror organization “Chabad Lubavitch”, was also based at Nariman House. The question is: What were the reasons and circumstances under which agents of the MI5, Mossad, FBI, CIA and Chabad Lubavitch were resident in India? Are the Israelis who lived there in that much need of security?
  • The next day, the beneficiaries of all these events, the Hindu right-wing extremist parties such as the BJP, RSS, Vishwa Prashad, etc. get more active in fostering anti-Pakistan, anti-Muslim sentiments among Hindu nationals. The BJP (Bharatiya Janata Party) played the forefront role, it even had highly-sentimental nationalistic and anti-Pakistan, anti-Muslim statements and banners printed in various leading Indian newspapers and magazines. All this seems to have benefited them a lot. Obviously, the Indian media and the Global Eye before was focused towards some of their members infiltrating the Indian Army’s hierarchy and infusing racist ideologies in them. They got the perfect chance to “turn the tables over”.
  • India pinpointed names of 3 terrorists to the Pakistan Govt. The names were of “Tiger” Memon (Mushtaq Abdur Razzaq Memon), Daud Ibrahim and Mas’oud Azhar. The former two are themselves Indian nationals, it is senseless to claim that they “perpetrated these acts from Pakistan” when the ISI and Govt. have repeatedly said they are not here. Mas’oud Azhar is a religious activist from Bahawalpur who is accredited for the establishment of the jihadi organization “Jaish e Muhammad”.
  • The American Govt. then, as expected, showed sympathy for the Indian Govt. and has recently sent a list of “terrorists” to be reviewed and approved by the U.N. Security Council. Among the names are 4 of the top-ranking former Director Generals of the ISI (Pakistan). And most notable among them is Lt. Gen. (R) Hameed Gul. The purpose and intent is obvious: The Zionists and Neocons in the American Govt. along with their Hindu counterparts want to corner and malign Pakistan’s ISI (Inter-Services Intelligence) from all sides. In a half-hour exclusive interview to Geo News’ program “Crisis Cell” dated Nov. 4, 2008, Hameed Gul said that the reason the American Govt. and India is behind him is because he always spoke out in advance about the recent upcoming plans of Zionists and Indian Govt. against Pakistan. The question: Hameed Gul was a good friend of Milt Bearden of CIA and had good communication with the American Govt. (in cooperative terms) during his serving tenure, then why is he being blamed also? I hint its because of him being a devoted Muslim who believes in the policies of “true Islamic jihad” and who is known to be quite indulged in religion. He is known to support the just and true Islamic government that was just being formed by the genuine Taliban before it got purposely and timingly demolished by the U.S. Hameed Gul has also repeatedly spoken in detail about the various covert/overt plots that India’s R.A.W. and Israel’s Mossad are churning up in collaboration with each other. Is this a plot to silence him up?
  • Now during all this mayhem, the Zionists wage their propaganda in line with what they used to threaten the Iranian Govt. Issues are being raised whether Pakistan’s nuclear assets are safe or not. To this, one of Pakistan’s top nuclear scientists, Dr. Samar Mubarakmand, replied that indeed Pakistan’s assets are 100% safe by the Grace of Allah and can never be detonated accidentally, as they are protected by a very complex secret code. This shows how the Indian Govt. and the American Zionists are propagandizing against Pakistan.
  • On December 5, 2008, Russia and India signed a “Joint Nuclear Cooperation Treaty”. PM Manmohan Singh of India had this to say (basic excerpts):

“Russia and India will work together to bring forth an International Order… we shall work together in (nuclear) research and development”

Pakistani policemen stand guard in Karachi in November 2008. ...

Indian Media reported the first of these steps involved Russia setting-up a nuclear power plant in Tamil Nadu.

One wonders: Why all this now? Was it pre-planned? It seems so. But we still don’t know.

One thing we are sure of is that this time, for real and directly head-on, the Zionists en par with their Indian counterparts including Israelis at the background are very desperate to malign, destabilize and eventually ‘abolish’ the ISI. Which, Insha’Allah, they never can.

Written by http://www.daily.pk

Monday, 08 December 2008 02:27

Target Pakistan?

Posted in USA, War, Who is The Real Terrorist? with tags , , , , , , , , on December 9, 2008 by indonesiaunderground

[Pakistan]


The battle for Afghanistan and Iraq may be heading for stalemate and a quagmire. The Americans are now targeting Pakistan on almost a daily basis as unmanned drones crisscross into Pakistani territory and strike targets deep inside sovereign Pakistani airspace. While the Government in Islamabad keeps mum amidst allegations that they have allowed the Americans to strike inside Pakistan but do not have the courage to tell their people for fear of a certain political death.
For over seven years American and NATO forces are on the brink of a major military defeat and have squandered hundreds of billions of dollars worth of bombs and missiles on Afghanistan, needless to say many of which have wreaked havoc amongst poor ordinary Afghan citizens across the length and breadth of that nation. A strong re-emergent Taliban in Afghanistan under the leadership of Mullah Omar has now a grip on vast stretches of the territory and have denied the Afghan Government its writ.

Faced with a dangerous situation the Americans are now intensifying their attacks inside Pakistan which tantamount to a declaration of war and which is also prompting the threat of reprisals. A fact that is already evident from the increase in attacks on supply convoys that pass through Pakistan to keep the American led campaign in the so-called war on terror.

With all that in mind one has to question why India is now beatings its drums of war after what was clearly a massive Indian Maritime and security failure to prevent a bunch of young men armed with AK 47 Assault rifles. New Delhi blamed Pakistan. The initial knee jerk response from the Indian media about Pakistani involvement has polluted the air and obscured the truth. Many here are convinced that the group has an internal Indian dimension to it and may even be staged by the Hindu right wing BJP party which has been spitting venom against the Muslims and is directly involved in the massacre of thousands of Muslims in Gujarat State, besides covering up the role of extremist Hindu groups who have now been able to penetrate the Indian intelligence and military setup.

Islamic fundamentalism may be one thing but extremist Indian groups like the RSS, Shive Sena and the larger BJP is for all to see and gauge. So what are we to make of it and why is India now bent upon demanding the handover of 20 people that India alleges are involved in destabilizing that country. A list that goes back to 1981 and includes even Sikh freedom fighters who were at the time struggling for the independence of their homeland Khalistan. But India is not the main worry. For the people of Pakistan it appears the worst may be yet to come and there are apprehensions even in concerned quarters that Americans and even the Israelis are shaping un alliance or what is now called a nexus to target Pakistan.

Written by http://www.daily.pk

Monday, 08 December 2008 17:30

Dinasti Saudi Berasal dari Yahudi?

Posted in Religions with tags , , , , , , , , , , , on December 7, 2008 by indonesiaunderground

DINASTI SAUDI :  DARI MANA ASAL MEREKA? DAN SIAPA SESUNGGUHNYA NENEK-MOYANG MEREKA?

Penelitian dan Pemaparan Mohammad Sakher:

Setelah menemukan fakta-fakta di bawah ini, Rejim Saudi memerintahkan untuk membunuhnya.

Apakah anggota keluarga Saudi berasal dari Suku Anza bin Wa’il seperti  pengakuannya?

Apakah agama mereka Islam?

Apakah mereka asli Bangsa Arab?

Di Najd, pada tahun 851 H serombongan bani Al-Masalikh, keturunan Suku Anza, membentuk sebuah kafilah dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul, ditugaskan untuk membeli bahan makanan, biji-bijian gandum dan jagung ke Iraq. Ketika sampai di Bashra, mereka langsung menuju ke sebuah toko pakan yang pemiliknya seorang Yahudi bernama Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe. Ketika sedang berlangsung tawar-menawar, Yahudi si pemilik toko bertanya kepada mereka: “Berasal dari suku manakah Anda?”. Mereka menjawab: “Kami berasal dari Bani Anza”, salah satu Suku Al-Masalikh”. Mendengar nama suku itu disebut, orang Yahudi itu memeluk mereka dengan mesra sambil mengatakan bahwa dirinya juga berasal dari Suku Al-Masalikh, namun menetap di Bashra, Iraq karena permusuhan keluarga antara ayahnya dengan anggota Suku Anza lainnya.

Setelah Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe mengatakan kepada mereka ceritera yang direkayasa mengenai dirinya, dia kemudian memerintahkan kepada pembantunya untuk menaikkan barang-barang belanjaan kafilah itu ke atas Unta-unta mereka. Sikap Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe yang dinilai baik dan tulus itu membuat kagum rombongan bani Masalikh dan sekaligus menimbulkan kebanggaan mereka karena bertemu saudara sesama suku di Iraq – dimana mereka mendapatkan bahan makanan yang sangat mereka perlukan, mereka percaya kepada setiap kata yang diucapkan Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe, karena dia seorang pedagang kaya komoditi pakan, mereka menyukai Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe (walaupun sebenarnya dia bukan orang Arab dari suku Al-Masalikh, tapi seorang Yahudi yang berpura-pura).

Saat kafilah sudah siap akan kembali ke Najd, pedagang orang Yahudi itu meminta ijin menumpang dengan mereka pergi ke tempat asalnya, Najd. Permintaan pedagang Yahudi itu diterima dengan senang hati oleh rombongan bani Al-Masalikh.

Akhirnya Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe sampai di Najd. Di Najd ia mulai menyebarluaskan propaganda dirinya dibantu beberapa orang dari bani Al-Masalikh yang baru tiba bersama-‘sama dia dari Bashra. Propagandanya berhasil, sejumlah orang mendukungnya, tetapi ditentang oleh yang lain dipimpin oleh Shaikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, ulama di kota Al-Qasim, yang wilayah dakwahnya meliputi Najd, Yaman dan Hijaz. Ia mengusir Mordakhai bin Ibrahim bin Moshe ( nenek moyang Keluarga Saudi yang saat ini berkuasa ) dari kota Al-Qasim ke kota Al-Ihsa, di sana ia mengganti namanya menjadi Markhan bin Ibrahim Musa . Kemudian dia pindah ke daerah Dir´iya dekat Al-Qatif. Di daerah ini dia mulai menyebarkan ceritera rekayasa kepada penduduk mengenai Perisai Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam yang dirampas sebagai rampasan perang oleh orang musyrik Arab sewaktu Perang Uhud. Perisai itu kemudian dijual oleh orang musyrik Arab kepada Suku Yahudi Bani Qunaiqa dan menyimpannya sebagai koleksi barang berharga. Perlahan tapi pasti, Markhan bin Ibrahim Musa menanamkan pengaruhnya di antara orang-orang Badui melalui ceritera fiktif yang hal ini memberitahu kita bagaimana berpengaruhnya suku-suku Yahudi di Arab dengan menempati kedudukan terhormat. Dia menjadi orang penting diantara suku Badui dan memutuskan untuk tetap tinggal di kota Dir´iya, dekat Al-Qatif kemudian memutuskan menjadikannya sebagai ibukota di Teluk Persia. Ia bercita-cita menjadikan kota itu sebagai batu loncatan untuk membangun kerajaan Yahudi di Tanah Arab.

Dalam rangka memenuhi ambisisnya, dia mulai mendekati dan mempengaruhi suku Arab Badui padang pasir untuk mendukung posisinya, kemudian menobatkan dirinya sebagai raja mereka.

Pada saat yang genting ini, Suku Ajaman bersama-sama dengan Suku Bani Khalid mencium bahaya Yahudi licik ini dan sangat mengkhawatirkan rencana jahatnya, karena dia telah dapat mengukuhkan identitasnya sebagai orang Arab. Mereka sepakat untuk menghentikannya, kemudian menyerang kota Dar’iya dan berhasil menaklukannya, tetapi sebelum menawan Markhan bin Ibrahim Musa, dia melarikan diri.

Dalam pelariannya, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) mencari perlindungan di sebuah perkebunan Al-Malibiid-Ghusaiba dekat Al-Arid, milik orang Arab. Sekarang kota itu bernama Al-Riyadh.

Mordakhai meminta perlindungan politik kepada pemilik perkebunan. Pemiliknya yang ramah itu kemudian segera memberikan tempat perlindungan. Namun belum juga sampai sebulan dia tinggal di perkebunan itu, Mordakhai membunuh pemilik beserta anggota keluarganya, kemudian mengarang ceritera bahwa mereka dibunuh oleh perampok. Dia juga mengaku telah membeli real estate dari pemiliknya sebelum kejadian tragis itu. Maka tinggallah dia disana sebagai pemilik tanah yang baru, kemudian daerah itu diberi nama baru Al-Di’riya, nama yang sama dengan tempat sebelumnya yang ia tinggalkan.

Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai) segera membangun sebuah “Guest House” yang disebutnya “Madaffa” di atas tanah yang direbut dari korbannya. Kemudian berkumpullah disekelilinya kelompok munafik yang mulai menyebarkan propaganda bohong bahwa Mordakhai adalah seorang Seikh Arab terkemuka. Mereka merencanakan membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutan Mordakhai dan berhasil membunuhnya di sebuah mesjid di kota Al-Zalafi.

Mordakhai puas telah berhasil membunuh Sheikh Saleh Salman Abdullah Al- Tamimi, kemudian menjadikan Al-Dir’iya sebagai tempat tinggalnya. Di Al-Dir’iya dia berpoligami dan beranak’pinak, anak-anaknya diberi nama asli Arab.

Sejak saat itu keturunan dan kekuasaan mereka tumbuh berkembang di bawah nama Suku Saudi, mereka juga mengikuti jejak Mordakhai dan kegiatannya dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi serta berkonspirasi melawan bangsa Arab. Secara ilegal mereka menguasai daerah pedalaman dan tanah-tanah perkebunan, membunuh setiap orang yang mencoba menghalangi rencana jahat mereka. Untuk mempengaruhi penduduk di wilayah itu, mereka menggunakan segala macam jenis tipu daya untuk mencapai tujuannya: mereka suap orang-orang yang tidak sefaham dengan uang dan perempuan. Mereka suap penulis sejarah untuk menuliskan biografi sejarah keluarganya yang bersih dari kejahatan, dibuatkannya silsilah keluarga bersambung kepada Suku Arab terhormat seperti Rabi’á, Anza dan Al-Masalikh.

Seorang munafik jaman kiwari bernama Mohammad Amin Al-Tamimi – Direktur/Manager Perpustakaan Kontemporer Kerajaan Saudi, menyusun garis keturunan (Family Tree) untuk Keluarga Yahudi ini (Keluarga Saudi), menghubungkan garis keturunan mereka kepada Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam . Sebagai imbalan pekerjaannnya itu, ia menerima imbalan sebesar 35.000 (Tiga Puluh Lima Ribu) Pound Mesir dari Duta Besar Saudi Arabia di Kairo pada tahun 1362 H atau 1943 M. Nama Duta Besar Saudi Arabia itu adalah Ibrahim Al-Fadel.

Seperti disebutkan di atas, Yahudi nenek moyang Keluarga Saudi (Mordakhai), yang berpoligami dengan wanita-wanita Arab melahirkan banyak anak, saat ini pola poligami Mordakhai dilanjutkan oleh keturunannya, dan mereka bertaut kepada warisan perkawinan itu.

Salah seorang anak Mordakhai bernama Al-Maqaran, (Yahudi: Mack-Ren) mempunyai anak bernama Muhammad, dan anak yang lainnya bernama Saud, dari keturunan Saud inilah Dinasti Saudi saat ini.

Keturunan Saud (Keluarga Saud) memulai melakukan kampanye pembunuhan pimpinan terkemuka suku-suku Arab dengan dalih mereka murtad, mengkhianati agama Islam, meninggalkan ajaran-ajaran Al-Quran, dan keluarga Saud membantai mereka atas nama Islam.

Di dalam buku sejarah Keluarga Saudi halaman 98-101, penulis pribadi sejarah keluarga Saudi menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap semua penduduk Najd menghina tuhan, oleh karena itu darah mereka halal, harta-bendanya dirampas, wanita-wanitanya dijadikan selir, tidak seorang islampun dianggap benar, kecuali pengikut sekte Muhammad bin Abdul Wahhab (yang aslinya juga keturunan Yahudi Turki). Doktrin Wahhabi memberikan otoritas kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan perkampungan dan penduduknya, termasuk anak-anak dan memperkosa wanitanya, menusuk perut wanita hamil, memotong tangan anak-anak, kemudian membakarnya. Selanjutnya mereka diberikan kewenangan dengan Ajarannya yang Kejam ( Brutal Doctrin ) untuk merampas semua harta kekayaan milik orang yang dianggapnya telah menyimpang dari ajaran agama karena tidak mengikuti ajaran Wahhabi.

Keluarga Yahudi yang jahat dan mengerikan ini melakukan segala jenis kekejaman atas nama sekte agama palsu mereka (sekte Wahhabi) yang sebenarnya diciptakan oleh seorang Yahudi untuk menaburkan benih-benih teror di dalam hati penduduk di kota-kota dan desa-desa. Pada tahun 1163 H, Dinasti Yahudi ini mengganti nama Semenanjung Arabia dengan nama keluarga mereka, menjadi Saudi Arabia, seolah-olah seluruh wilayah itu milik pribadi mereka, dan penduduknya sebagai bujang atau budak mereka, bekerja keras siang dan malam untuk kesenangan tuannya, yaitu Keluarga Saudi.

Mereka dengan sepenuhnya menguasai kekayaan alam negeri itu seperti miliknya pribadi. Bila ada rakyat biasa mengemukakan penentangannya atas kekuasaan sewenang-wenang Dinasti Yahudi ini, dia akan di hukum pancung di lapangan terbuka . Seorang putri anggota keluarga kerajaan Saudi beserta rombongannya sekali tempo mengunjungi Florida, Amerika Serikat, dia menyewa 90 (sembilan pukuh) Suite rooms di Grand Hotel dengan harga $1 juta semalamnya. Dapatkah kita memberikan komentar terhadap pemborosan yang dilakukan keluarga kerajaan seperti itu, yang pantas adalah: Dihukum pancung di lapangan terbuka.
Kesaksian bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi:
  • Pada tahun 1960’an, pemancar radio “Sawt Al-Arab” di Kairo, Mesir, dan pemancar radio di Sana’a, Yaman, membuktikan bahwa nenek moyang Keluarga Saudi adalah Yahudi
  • Raja Faisal Al-Saud tidak bisa menyanggah bahwa keluarganya adalah keluarga Yahudi ketika memberitahukan kepada the WASHINGTON POST pada tanggal 17 September 1969, dengan menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi, adalah keluarga Yahudi: Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”. Itulah pernyataan Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafez Wahbi, Penasihat Hukum Keluarga Kerajaan Saudi menyebutkan di dalam bukunya yang berjudul “Semenanjung Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz yang mati tahun 1953 mengatakan: “Pesan Kami (Pesan Saudi) dalam menghadapi oposisi dari Suku-suku Arab, kakekku, Saud Awal, menceriterakan saat menawan sejumlah Shaikh dari Suku Mathir, dan ketika kelompok lain dari suku yang sama datang untuk menengahi dan meminta membebaskan semua tawanannya, Saud Awal memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk memenggal kepala semua tawanannya, kemudian mempermalukan dan menurunkan nyali para penengah dengan cara mengundang mereka ke jamuan makan, makanan yang dihidangkan adalah daging manusia yang sudah dimasak, potongan kepala tawanan diletakkannya di atas piring. Para penengah menjadi terkejut dan menolak untuk makan daging saudara mereka sendiri, karena mereka menolak untuk memakannya, Saud Awal memerintahkan memenggal kepala mereka juga. Itulah kejahatan yang sangat mengerikan yang telah dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya sendiri sebagai raja kepada rakyat yang tidak berdosa, kesalahan mereka karena menentang terhadap kebengisannya dan memerintah dengan sewenang-wenang.

Hafez Wahbi selanjutnya menyatakan bahwa, berkaitan dengan kisah nyata berdarah yang menimpa Shaikh suku Mathir, dan sekelompok suku Mathir yang mengunjunginya dalam rangka meminta pembebasan pimpinan mereka yang menjadi tawanan Raja Abdul Aziz Al-Saud bernama Faisal Al-Darwis. Diceriterakannya kisah itu kepada utusan suku Mathir dengan maksud mencegah agar mereka tidak meminta pembebasan pimpinan mereka, bila tidak, mereka akan diperlakukan sama. Dia bunuh Shaikh Faisal Darwis dan darahnya dipakai untuk berwudlu sebelum dia shalat. (melaksanakan ajaran menyimpang Wahhabi). Kesalahan Faisal Darwis waktu itu karena dia mengkritik Raja Abul Aziz Al-Saud, ketika raja menandatangani dokumen yang disiapkan penguasa Inggris pada tahun 1922 sebagai pernyataan memberikan Palestina kepada Yahudi, tandatangannya dibubuhkan dalam sebuah konferensi di Al-Qir tahun 1922.

Sistem rejim Keluarga Yahudi (Keluarga Saudi) dulu dan sekarang masih tetap sama: Tujuan-tujuannya adalah: merampas kekayaan negara, merampok, memalsukan, melakukan semua jenis kekejaman, ketidakadilan, penghujatan dan penghinaan, yang kesemuanya itu dilaksanakan sesuai dengan ajarannya Sekte Wahhabi yang membolehkan memenggal kepala orang yang menentang ajarannya.

(disalin dari http://www.akhirzaman.info, sumber asli di sini)

UIN Logo Baru: Ke Mana Arahnya?

Posted in Indonesia with tags , , , , , , , on November 28, 2008 by indonesiaunderground

Saduran dari hidayatullah.com

Logo Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang baru menghilangkan gambar Al-Quran dan Hadits. Gambar bola dunia dan partikelnya mirip simbol sekularisme dan atheis. Tapi mungkin hanya mirip

Oleh: A. Taif A Nabeel *

Kamis (21/8) malam, bulan lalu, logo lama UIN Jakarta resmi diganti dengan logo baru dengan dimeriahkan oleh penampilan musik orkestra Dwiki Darmawan dan penyanyi Ita Purnamasari di Auditorium Utama.

Seperti yang diberitakan dalam UINJKT Online, peresmian logo baru ini juga ditandai dengan pembukaan kain selubung logo oleh Rektor Prof Dr KUmaruddin Hidayat di atas panggung yang didampingi mantan rektor Drs H Ahmad Syadzali serta para pembantu rektor.

Direktur MarkPlus, Hermawan Kertajaya yang menghadiri acara tersebut mengatakan, penggantian logo UIN Jakarta sudah tepat dan menunjukkan nilai-nilai yang lebih universal. “Logo baru UIN Jakarta sekarang melambangkan proses horizontalisasi. Ini mencerminkan kemajuan,” katanya.

Sementara Rektor dalam sambutannya menegaskan, logo baru UIN Jakarta diganti bukan tanpa alasan. Setidaknya, menurut rektor, ada dua alasan yang melandasi. Pertama, logo lama bersifat verbalistik yang lebih menonjolkan elemen geografis lokal dan elemen kenegaraan. Selain itu, logo lama tidak distingtif dan memadai untuk memberikan gambaran sebuah identitas baru bagi UIN Jakarta menuju world class university. Kedua, hasil kesepakatan rapat senat para guru besar.

“Logo lama itu bergambar ada Monumen Nasional-nya. Sekarang, kita tidak lagi berdasarkan geografis lokal, baik Jakarta, Banten maupun Jawa Barat, tetapi dunia yang digambarkan dengan bola dunia. Jadi, kita ingin UIN Jakarta itu mendunia,” tegasnya.

Arti Logo

<< Logo Baru UIN

Gambar logo baru UIN Jakarta terdiri atas empat (4) elemen, yakni bola dunia, partikel atom, kitab suci, dan tulisan “UIN”. Bola dunia berwarna biru, melambangkan wawasan universal UIN Jakarta dan juga misi Islam sebagai rahmatan lil’alamin. Partikel atom berwarna emas menggambarkan keilmuan dan dinamika serta keajegan hukum alam (sunnatullah) yang diperintahkan Allah untuk selalu dibaca dan diteliti demi kesejahteraan umat manusia. Parikel itu juga dapat dilihat sebagai bunga lotus atau sidrah (sidrah al-muntaha), yakni lambang cita-cita setiap mukmin untuk menggapai pengetahuan kebenaran tertinggi (ma’rifah al-haq).

Kemudian kitab suci berwarna putih dengan garis tepi berwarna kehijauan, melambangkan sumber inspirasi dan kaidah hukum serta moral bagi pengembangan UIN Jakarta. Sementara tulisan “UIN” berwarna biru melambangkan kedalaman ilmu, kedamaian, dan kepulauan nusantara yang berada di antara dua lautan besar, yakni sebuah wilayah yang mempertemukan berbagai peradaban dunia. Selain itu, terdapat juga garis putih horizontal yang membelah tulisan “UIN”. Garis ini merupakan pengikat UIN Jakarta sebagai universitas yang kuat.

Hilangnya “Al-Quran”

<< Logo UIN LAMA

Penjelasan official tentang arti logo baru di atas, tentunya tidak menutup adanya interpretasi lain. Dan hal itu juga patut diperhatikan, utamanya bagi pejabat tinggi di lingkungan UIN yang berwawasan terbuka dan menghargai perbedaan.

Banyak suara yang menganggap bahwa elemen kedua yang dijabarkan sebagai partikel atom itu mirip dengan Bintang David jika ditarik lancip. Namun saya sendiri kurang setuju dengan interpretasi seperti ini, sebab kita hanya diajarkan menilai apa yang terlihat dan bukannya menafsirkan niat yang tersembunyi dari gambaran logo itu. Karena hal ini justru akan menguatkan pola-pola tafsir batiniyah. Bagi saya, elemen yang “dipaksakan” sebagai partikel atom ini, justru menggambarkan 2/3 dari lambang sekularisme dan tertutup dengan gambar buku dan tulisan UIN yang dilatarbelakangi dengan bola biru. Jadi elemen “partikel atom” itu memang terkesan dipaksakan jika digambarkan sebagai sunnatullah, apalagi ditafsirkan dengan sidratul muntaha, tempat yang belum pernah diketahui oleh seorang manusia pun selain Rasulullah SAW saat mendapatkan perintah shalat di malam Isra’ Mi’raj.

Hal yang lebih sensitif lagi dari tampilan logo baru ini adalah dihapuskannya tulisan “Al-Quran al-Karim” dan digantikan dengan tulisan “UIN”. Tentunya para pemerhati pendidikan Islam akan bertanya-tanya, ada apa dengan penghapusan tulisan “Al-Quran al-Karim”? Apakah karena tulisan ini adalah tulisan arab sehingga merasa risih dengan nuansa kearab-araban? Ataukah karena logo lama dinilai terlalu Islami dan ke-Quran-Quranan sehingga dikhawatirkan akan melibas keragaman budaya dan kearifan lokal? Ataukah karena kepercayaan diri sebagai generasi Quran mulai meluntur di lembaga pendidikan tinggi Islam ini? Tentunya tidak seorangpun bisa memastikan jawaban atas rentetan pertanyaan di atas.

<< Simbol Sekularisme

Namun setidaknya pertanyaan-pertanyaan itu adalah wujud rasa memiliki sekaligus ungkapan keprihatinan atas UIN yang menjadi aset terbesar umat Islam di Indonesia. Keprihatinan ini semakin menguat jika dikaitkan dengan ulah akademis beberapa guru besar UIN yang kurang simpatik. Sebagai contoh dalam ruang perkuliahan pasca sarjana, seorang profesor yang juga ditengerai gemar menjadi penghulu perkawinan lintas agama ini mengajarkan bahwa Kebenaran Agama adalah Palsu; Agama untuk Orang Bodoh?! Dan Thomas Alfa Edison pun Masuk Surga; Budha, Socrates juga Nabi; Rukun Iman cukup dua; Hadits-hadits itu membikin kita bingung; Tuhan juga memaafkan kaum atheis; Bersyukur pada Iblis; Tidak Pernah Ada Isra’ Mi’raj; Lebih Mengutamakan Agama daripada Akal adalah Kafir; Siapa saja yang melakukan kebaikan, yg bermoral, itu adalah Islam! Jadi tidak harus bersyahadat; Anak-2 JIL itu bagus sekali, walau salah Tuhan akan memaafkan; Lauh Mahfuzh itu alam bawah sadar; Tidak masalah jika orang mau pindah-pindah agama; Kisah-kisah dalam Al-Quran itu, umumnya kisah fiktif, dll.

Sementara Guru Besar Sejarah dan Direktur Sekolah Pascasarjana UIN yang dikenal piawai menulis ini secara mengejutkan memberi apresiasi terhadap karya Farag Fouda yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Di sampul depan buku ini dia menulis: “Karya Farag Fouda ini secara kritis dan berani mengungkapkan realitas sejarah pahit pada masa Islam klasik. Sejarah pahit itu bukan hanya sering tak terkatakan di kalangan kaum Muslim, tapi bahkan dipersepsikan secara sangat idealistik dan romantik. Karya ini dapat menggugah umat Islam untuk melihat sejarah lebih objektif, guna mengambil pelajaran bagi hari ini dan masa depan”.

Padahal buku yang aslinya berjudul al-Haqiqah al-Ghaibah ini sarat dengan cacian terhadap Sahabat, metodologi yang lemah dan bobot ilmiah yang rendah. Penulisnya sendiri telah dipandang murtad oleh sederet ulama terpandang dan akhirnya dia terbunuh di Mesir.

Tradisi memberi sanjungan tinggi terhadap karya-karya yang mengelirukan dalam memahami Islam tidak hanya untuk buku Fouda, namun beliau juga memberikan sanjungan terhadap terjemahan karya Abdullahi Akhmed an-Na’im, “Islam dan Negara Sekular” yang mempertanyakan kelayakan Syariah dalam kehidupan bernegara, bahkan dipandangnya sebagai sumber hukum yang diskriminatif terhadap warga non-muslim. Namun di sampul depannya, beliau justru memberi apresiasi buku tokoh liberal asal Sudan ini: “Buku ini, tidak ragu lagi, merupakan kontribusi penting bagi diskusi dan perdebatan tentang tarik tambang syariah, sekularisme dan negara”.

Penyimpangan pemikiran di lembaga ini juga dimeriahkan oleh profesor perempuan, peraih penghargaan doktor terbaik di IAIN Syarif Hidayatullah 1996/1997 ini mengkampanyekan aturan syariah baru. Sebab syariah yang “lama” terbukti bias jender. Maka dia mengusulkan laki-laki juga terkena masa tunggu (‘iddah) bila terjadi perceraian, bagian waris laki-laki sama dengan bagian perempuan, dll. Bahkan akhir-akhir ini dia juga mengkampanyekan halalnya homoseksual melalui artikelnya yang bertema “Allah Hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

Penutup

Logo baru UIN mengundang multi tafsir. Jika dikaitkan dengan beberapa mata kuliah yang menjadi kurikulum wajib di fakultas Ushuluddin dan corak pemikiran beberapa guru besar yang mengajar di lembaga ini, maka tidak berlebihan bila logo baru ini dipandang menjadi cerminan 2/3 logo sekularisme sekaligus menancapkan paham ini di lingkungan pendidikan ini. Mengamati fenomena ini tentunya sangat tragis, jika lembaga pendidikan yang tahun lalu baru merayakan HUT 50 tahun dan menjadi aset dan kebanggaan umat ini, terus membiarkan prilaku intelektual menyimpang kalangan guru besar maupun dosennya. Akankah seorang Ratu Adil akan datang dan menyelamatkan lembaga pendidikan tercinta ini? Kita tunggu saja.

*) Penulis tinggal di Jakarta