Archive for AS

Senjata Biologi akan Digunakan pada 2013

Posted in Military, USA with tags , , , , , , , on December 6, 2008 by indonesiaunderground

Foto: CBC

WASHINGTON – Pelaku teror nampaknya akan menggunakan senjata pemusnah massal dalam lima tahun ke depan dalam menjalankan aksi mereka. Senjata jenis biologi lebih dipilih ketimbang nuklir.

Hal ini menjadi kesimpulan dalam diskusi panel yang diadakan Kongres Amerika Serikat, Selasa kemarin.

“Dampak dari penggunaan senjata biologi sangat luas. Jumlah korban tewas bisa puluhan bahkan ratusan kali lipat dari peristiwa 11 September,” kata Senator Bob Graham seperti dikutip CNN, Rabu (3/12/2008). Graham mencotohkan tragedi virus flu yang membunuh jutaan orang pada 1918.

“Saat ini mungkin masih dalam pemeriksaan laboratorium. Namun jika formulasinya jatuh ke tangan orang-orang jahat, maka dampaknya dapat berkali-kali lipat dari 40 juta orang yang sudah tewas pada 100 tahun lalu,” katanya.

Kongres mendesak pemerintah AS untuk lebih agresif membatasi penggunaan senjata biologi. Graham juga menandaskan, ini akan menyedot banyak biaya, namun tetap penting untuk diawasi.

“Pemimpin negeri ini dan dunia harus memutuskan sejauh ini ini menjadi prioritas. Senjata biologi akan jatu ke tangan orang-orang tidak bertanggung jawab. Ini mungkin tidak akan murah jadi butuh pengorbanan,” kata Graham.(ton)

Sumber : okezone.com

Advertisements

Intelijen: New York akan Menjadi Duplikat Mumbai

Posted in USA with tags , , , , , , on December 6, 2008 by indonesiaunderground

Intelijen AS mengingatkan New York bisa menjadi sasaran aksi teror selanjutnya. Kota ini memiliki banyak kesamaan dengan Mumbai, India/Getty Image

Sabtu, 6 Desember 2008 – 13:08 wib

NEW YORK – Pascaserangan Mumbai berbagai spekulasi serangan susulan akan terjadi di Amerika Serikat. Komisaris Polisi Ray Kelly mengingatkan bahwa New York akan menjadi duplikat Mumbai.

“Dalam banyak hal, Mumbai memiliki kesamaan dengan New York,” kata Kelly seperti dikutip CNN, Sabtu (6/12/2008).

Dia menandaskan bahwa New York merupakan kota bisnis dan keuangan sama seperti Mumbai. Selain itu, tambahnya, budaya dan gaya hidup di kedua kota ini mencirikan, kental nuansa metropolis. Jaringan media juga banyak di kota ini. “Semuanya menjadi faktor keuntungan untuk menjadi sasaran teror,” katanya.

Pernyataan ini diungkapkan Kelly setelah kepolisian dan pejabat intelijen mengumumkan peningkatan keamanan pada hotel-hotel di New York serta lokasi-lokasi lain yang berpotensi besar menjadi obyek penyerangan, termasuk stasiun dan sarana transportasi lainnya.

Divisi intelijen Mario Rivera mengatakan, hotel-hotel telah direkomendasikan untuk menyusun rencana darurat, lebih protektif dengan pendatang, serta mewaspadai hal-hal mencurigakan (ton)

Source : okezone.com

John F. Kennedy Speech On Secret Societies

Posted in Secret Societies, USA with tags , , , , on November 28, 2008 by indonesiaunderground

John F. Kennedy Speech on Secret Societies : watch here

Kilas Balik Fakta Bom Bali I

Posted in Indonesia with tags , , , , , , , , , , , , , , , , , , , on November 28, 2008 by indonesiaunderground

Saduran dari hidayatullah.com

Hakim yang memvonis mati Amrozi Cs telah mati duluan. Jaksa yang menuntut (Urip Tri Gunawan) kini dipermalukan kasus suap Rp 6 M. Siapa yang akan menyusul terhina berikutnya?

Oleh: Fauzan Al-Anshari *

Tiga terpidana mati Amrozi Cs telah dipanggil Allah SWT. Tapi masih banyak orang belum mencermati secara jeli peristiwa itu. Tulisan berupa kilas balik ini sekedar mengingatkan Anda semua atas peristiwa itu.

***

Pulau Bali mempunyai nama lain sebagai pulau Dewata, karena memang dikaruniai oleh Alloh SWT memiliki keindahan panorama alam, khususnya panorama di pantai Kuta. Karena keindahannya, tidak mengherankan jika para wisatawan selalu berdatangan silih berganti, baik wisatawan lokal (domestik) maupun turis asing. Karena banyaknya wisatawan asing, sampai-sampai ada tempat hiburan yang dikhususkan untuk para turis asing, yaitu Paddy’s Bar dan Sari Club.

Pada hari sabtu tanggal 12 Oktober 2002 menjelang tengah malam tiba-tiba sebuah bom meledak di Paddy’s Bar tempat para turis asing berpesta pora.

>> Bom Bali 1 [thejakartapost.com]

Seketika itu juga aliran listrik padam, sehingga sepanjang jalan Legian Kuta gelap gulita. Dalam hitungan detik sesaat kemudian muncul cahaya terang yang memancar membentuk awan, semburan api raksasa terlihat hampir bersamaan dengan terdengarnya ledakan dahsyat. Disusul dengan bom kedua di Sari Club, yang efeknya terdengar sampai radius puluhan kilometer, dan jaring-jaring bangunan berhamburan ke udara sampai 50 meter tingginya.

Indonesia tersentak, tak menyangka akan terjadi targedi Bom Bali I tersebut, sementara pemerintah Amerika – Israel – Australia dan pemerintah barat lainnya tidak kaget atau pura-pura kaget atas kejadian yang mengakibatkan sebagian warganya jadi korban. Sangat disayangkan, pemerintah Indonesia tidak segera mengambil sikap, tidak seperti pemerintah Amerika yang cepat membuat pernyataan “Amerika under Attack” (Amerika sedang diserang) yang langsung diikuti penutupan akses keluar dari Amerika, baik yang lewat udara maupun laut.

Sementara pemerintah Indonesia bingung, tidak tahu apa yang harus dan cepat dilakukan untuk melindungi rakyatnya. Pintu ke luar masuk, baik jalur udara maupun laut dibiarkan terbuka lebar, sehingga kalau ada dugaan keterlibatan pihak asing, maka barang-barang bukti akan lenyap dibawa lari ke luar negeri. Yang tersisa hanya bukti lokal, yang menyebabkan rakyatnya sendiri jadi korban tuduhan.

Bom jenis apa yang meledak di kedua tempat hiburan Paddy’s Bar dan Sari Club? Siapa yang pantas tertuduh sebagai pelaku utamanya? Para pembaca dipersilahkan untuk mengambil kesimpulan sendiri setelah membaca berita dan cara penanganannya. Setelah bom meledak, dalam tempo 5 mikro-detik detonasi yang sangat dahsyat berupa gelombang tekan (shock wave) berkekuatan satu juta kaki perdetik membongkar jalan yang berada di depan Sari Club. Aspal, batu dan tanah dengan berat dua ton-an terlempar berhamburan ke udara, sementara tanah dan pasir berputar ke segala arah bak angin putting beliung, mampu memotong tubuh para turis menjadi seperti mie kwetiau. Potongan-potongan tubuh manusia terserak sampai beberapa blok jauhnya, sedang yang berada pada radius demosili yang panjangnya 200-an meter akan tewas meski dengan tubuh utuh, tapi tulang belulangnya patah dan remuk redam bak bandeng presto.

Ledakan bom tersebut menewaskan 202 orang, melukai sekitar 300 orang, menghancurkan 47 bangunan, beberapa mobil terlempar ke udara sampai enam meter dan membakar ratusan mobil dari berbagai merk dan jenis. Potongan-potongan besi bangunan juga patah-patah dan bengkok oleh kuatnya tekanan ledak, kaca bangunan beterbangan ke segala arah, getaran akibat ledakan bom bisa dirasakan sampai radius 12 kilometer. Belum juga pihak kepolisian Indonesia selesai mengadakan penyelidikan, tiba-tiba keluarlah beberapa pernyataan dan tuduhan dari pihak pemerintahan Barat. Presiden AS George Walker Bush sudah mendahului menuduh Al-Qaidah sebagai dalangnya, yang akan diamini oleh negara-negara barat yang lainnya. Sementara, Lembaga Studi Pentagon dan Israel menuduh Jamaah Islamiyah yang melakukannya.

Dengan munculnya beberapa pernyataan dari negara-negara kuat yang mendahului hasil penyelidikan pihak kepolisian, sudah barang tentu sangat mempengaruhi independensi dan obyektifitas proses penyelidikan kepolisian Indonesia. Cecaran negara-negara barat tersebut jelas membuat kepolisian Indonesia ketar–ketir dan ketakutan, karena merasa mendapat intervensi. Walau masih tetap melakukan proses penyidikan dan penyelidikan, tapi sudah tidak bisa mandiri lagi.

Perhatikan dari perkembangan pernyataan-pernyataan yang disampaikan pihak yang berkompenten:

Pertama, Pada hari awal pasca ledakan Tim Mabes Polri mengadakan kajian bersama dengan Tim FBI, sudah berani membuat pernyataan: “Berdasarkan efek ledakan bom, besar kemungkinan material yang digunakan dari jenis C-4,” kata Kabag Humas Polri Irjen Polisi Saleh Saaf. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan Kepala BIN AM Hendropriyono, “Ya, salah satu dari bom yang dipakai adalah C-4,” disampaikan saat berkunjung ke TKP tanggal 19 Oktober 2002.

Kedua, Mark Ribband seorang ahli dan praktisi eksplosif Inggris mengatakan kepada AFP (15/10/02): “Bom C-4 memang diproduksi oleh beberapa negara, tetapi produsen utamanya adalah AS dan Israel”. Dia menambahkan: “Meskipun relatif gampang dibawa dan mudah diselundupkan, bom plastik ini tak bisa diperoleh sembarangan pihak, selain amat sulit juga mahal”. Melihat dampaknya, dia percaya bom di Bali itu punya daya ledak yang luar biasa, kalau benar itu C-4, tentu itu C-4 yang amat powerfull.

Ketiga, Joe Vialls, ahli bom dan investigator independen yang bermukim di Australia punya pendapat yang berbeda. Menurut hasil investigasi dan analisanya, bom yang meledak di Bali itu lebih dari C-4. Menurutnya, C-4 itu hanya hebat di film-film Hollywood yang dibintangi Sylvester Stallone atau Bruce Willis. C-4 itu sebenarnya hanya lebih baik dari TNT. C-4 yang standar terbuat dari 91% RDX dan 9% Polyisobotciser dan daya ledaknya 1,2 kali lebih baik dari TNT. Yang pasti kata Joe Vialls: “Skenario bom C-4 tak bisa menjelaskan mengapa bom Bali menimbulkan cendawan panas dan kawah yang cukup besar.

Adanya cahaya dan cendawan panas setelah lumpuhnya aliran listrik serta munculnya kawah, bisa menjadi indikasi yang spesifik dari hadirnya senjata micronuclear. Sejumlah kalangan mempertanyakan tidak adanya radiasi sinar gamma dalam kasus tersebut. Karena radiasi gamma dan neutron tidak terdeteksi, mereka menyimpulkan tak mungkin ada mikronuklir di Bali. Sanggahan itu sekilas masuk akal, tapi sebenarnya menunjukkan kurangnya wawasan akan khasanah senjata nuklir”.

Keempat, Nuklir konvensional memang selalu menghasilkan radiasi radio aktif, sementara yang dipakai di Bali adalah mikronuklir non konvensional yang disebut SDAM (Special Demolition Atomic Munition). Dilengkapi reflector neutron, mikronuklir ini didesain sedemikian rupa hingga tidak sampai menghasilkan sinar gamma dan neutron yang gampang disidik oleh alat Geiger Counter, limbah yang dihasilkan SDAM itu berupa awan panas dan sedikit sinar alpha. Maka jika mendeteksi radiasi mikronuklir SDAM dengan menggunakan alat itu jelas salah alamat, pasti tak akan terukur adanya radiasi gamma dan neutron, kecuali memang di TKP terdapat bahan radioaktif Uranium.

Sedangkan bahan yang dipakai untuk membuat SDAM umumnya adalah Uranium 238 dan Plutonium 239. SDAM tidak meninggalkan jejak radiasi neutron dan atau sinar gamma, hanya menghasilkan panas dan sedikit pertikel alpha. Partikel itu tersedia dalam jumlah amat sedikit, sekitar satu partikel dalam radius dua meter. Itu pun bisa hilang atau tidak terdeteksi setelah TKP kena hujan, atau partikel terhirup oleh para korban yang telah dievakuasi dan diabukan di Australia. Persoalannya, para petugas kepolisian sudah kehilangan momen dan kesempatan untuk menjejak partikel alpha yang menjadi ciri khasnya.

Kelima, Kepala Staf TNI Angkatan Bersenjata (KSAD) Jenderal Ryamizard Riyacudu (kini sudah pensiun) mengatakan: “Saya yakin bahwa bom yang meledak di Bali adalah buatan luar negeri, dan bukan buatan orang Indonesia. Bom yang begitu dahsyat seperti itu tidak mungkin produk dalam negeri, itu pasti produk luar negeri”, ujarnya usai memberikan pengarahan kepada prajurit Kopassus Grup 2 dan Brigif 413 Kostrad di Markas Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Solo (12/11/02). Menurut Ryamizard, “Indonesia sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir atau sejenisnya. Tapi kalau ada orang kita yang disuruh saya tidak tahu, serahkan saja pada polisi. Tapi saya yakin ada orang luar yang terlibat,” jelasnya.

Keenam, Kapten Rodney Cox, seorang tentara Australia mengomentari kejadian meledaknya bom Bali. Dia menyaksikan langsung dahsyatnya bom tersebut, karena berada di dekat TKP, katanya: “Saya pernah mengikuti kursus Demosili, tapi tak pernah menyaksikan efek ledakan yang begitu hebat”.

Kesaksiannya yang cukup detail itu mengundang analisis lebih jauh terhadap identitas bom Bali. “Pernyataan listrik mati sebelum adanya kilatan cahaya pra ledakan telah menjadi petunjuk kuat dan tak terbantahkan, bahwa masa kritis dari suatu senjata mikronuklir telah tercapai” kata Joe Vialls. Bom kecil di Paddy’s Bar hanya menimbulkan kerusakan lokal, 10 detik kemudian meledaklah bom ke-2 di Sari Club yang sangat dahsyat, menyebabkan seluruh aliran dan jaringan listrik di kota saat itu lumpuh total oleh pengaruh gelombang elektromagnetik SREMP (Source Region Electromagnetic Pulsa) yang dipancarkan mikronuklir pada titik kritisnya. Pulsa Elektromagnetik itu merambat melalui semua medium pada kecepatan cahaya (300.000 km/jam). Karena itu Kapten Cox menyatakan, bahwa listrik mati sebelum dia menyaksikan semburan api dan awan panas di atas permukaan jalan. Laporan yang disusun oleh Kapten Jonathan Garland, wartawan koran resmi Angkatan Bersenjata Australia itu rupanya telah membuat keki dan blingsatan pemerintah dan petinggi militer Australia. Mereka khawatir kesaksian itu akan menjadi blunder bagi Australia di masa depan, maka dengan memo seorang menteri, laporan dan kesaksian penting itu kemudian dihapus dari situs ARMY.

Polri Kurang Mandiri dan Tidak Konsisten Pada hari pertama pihak kepolisian Indonesia menduga kuat bahwa bom yang meledak di Bali dari jenis C-4, dugaan itu didasarkan pada efek ledakan yang dahsyat. Akan tetapi setelah kedatangan Tim Polisi Federal (Austalia Federal Police) Australia dan ASIO (Australia Secret Intelligent Organization) , pernyataannya jadi berubah-ubah. Katanya, bom yang meledak dari jenis RDX. Lalu berubah lagi, kata polisi dari jenis TNT. Bahkan Polda Jatim sempat keceplosan bicara, bahwa bom yang meledak di Bali itu mungkin bom karbit, hanya karena di sekitar TKP ditemukan bubuk potasium khlorat. Sungguh menggelikan.

Kalau saja Polri mampu mandiri dan tidak takut dengan tekanan dari pihak manapun, bekerja profesional, tidak terpengaruh (yang negatif) walau ada pihak luar ikut membantu menyelidiki, maka haqqul yakin kepolisian Indonesia akan mempunyai wibawa tinggi di mata dunia, dihormati dan dicintai rakyat karena mereka merasa terlindungi.

Mengapa TNI Dicurigai Terlibat?

Koran Singapura The Straits Times dan koran Australia The Sydney Morning Herald melansir berita, bahwa TNI mungkin terlibat dalam pengeboman di Bali. Berdalih pengakuan paling mutakhir dari Umar al-Faruq (mudah-mudahan syahid) di penjara Baghram Afganistan. Mereka menuduh Abubakar Ba’asyir telah membeli C-4 dari TNI dengan dana kiriman uang dari tokoh Al-Qaidah Usama bin Ladin.

Berita fitnahan tersebut cepat direspon oleh KSAD Jenderal Ryamizard Riyacudu, dengan mengatakan bahwa TNI sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir dan atau yang sejenisnya. Lalu diadakanlah demo bom TNT (kemampuan yang dimiliki PT. Pindad) di Cibodas pada akhir Oktober 2002. 2 kg bom TNT disiapkan, 2 meter darinya diletakkan 2 botol aqua berisi bensin, di sampingnya lagi ada gubuk kecil dari bahan kayu. Setelah bom TNT tadi diledakkan, maka menimbulkan suara cukup keras dan tanahnya pun bergetar, pohon dan tanaman di sekitarnya rusak. Tapi anehnya 2 botol aqua yang berisi bensin tidak tumbang apalagi terbakar, begitu juga gubuk kayunya juga masih tegak berdiri. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pusdik Zenit TNI AD yang dipimpin oleh Kol. C2i Puguh Santoso. Keterusterangan dari pihak TNI akan batas kemampuan PT. Pindad sebenarnya sangat disayangkan, karena rahasia batas kemampuannya akan diketahui pihak lawan. Tapi keterusterangan tadi bisa dimaklumi, apa sebabnya?

Nah kalau berita dari dua koran Singapura dan Australia itu di-blow up dan dilansir oleh mass media dunia, maka TNI dan juga negara Indonesia bisa terancam diserang oleh pihak luar, mungkin akan mengalami nasib seperti Iraq.

Coba perhatikan beberapa kejadian sebelumnya:

  1. Paska runtuhnya gedung WTC tanggal 11 September 2001, Presiden AS George Walker Bush menabuh genderang perang dunia melawan para pejuang dan aktivis muslim dengan julukan “teroris” (the global war on terrorism atau G-WOT). Dia mengajak kepada masyarakat internasional untuk mendukung langkahnya, dengan dua opsi: “Carrot or Stick”; bersama kami (AS) memerangi para teroris akan mendapat hadiah carrot/wortel/ dollar, tidak mau mendukung AS akan menerima pukulan stick/tongkat/ rudal.
  2. Presiden Megawati pernah mengatakan bahwa, jika AS menyerang Indonesia, maka tak akan mampu melawan tentara George Walker Bush dan tidak akan bertahan walau hanya sepekan. Mengapa Presiden Megawati sampai mengatakan demikian? Bisa jadi karena kemampuan militer Indonesia memang sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tentara AS. Apakah George Walker Bush serius dengan ancamannya, bila Indonesia tidak mau mendukungnya akan diserang?

    Jawabnya: Sangat mungkin! Tapi, dari dua pilihan tersebut, carrot-lah yang dipilih Megawati. Ia menyeret bangsa Indonesia menjadi sekutu Bush, menjadi “Proxy Forces” atau agen perantara untuk menangkapi rakyatnya sendiri . Masya Alloh tega nian bunda.

    Karenanya, ia langsung mendapatkan upah di depan (down paymen) sebesar US $ 500 juta. Katanya, untuk menstimulir perekonomian nasional. Terbuktilah sekarang. Ujian harta ini lebih berbahaya daripada kenaikan BBM.

    Sabda Nabi saw:

    “Sesungguhnya aku sudah memohon kepada Robbku untuk umatku, janganlah Dia membinasakan mereka dengan paceklik yang merajalela, jangan menundukkan mereka kepada musuh dari luar kelompok mereka yang menodai kedaulatan mereka. Sesungguhnya Robbku berfirman: Wahai Muhammad, sungguh jika Aku telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak bisa lagi ditolak. Aku berikan kepadamu untuk umatmu agar mereka tidak dibinasakan oleh paceklik yang merajalela, dan agar mereka tidak dikuasai musuh dari luar mereka yang akan menodai kedaulatan mereka, sekalipun musuh itu berkumpul dari seluruh penjuru dunia, kecuali jika sebagian mereka membinasakan sebagian yang lain, dan mereka saling manahan satu sama lain”


  3. Frederick Burks, mantan penerjemah Departemen Luar Negeri AS mengatakan: “Pada tanggal 16 September 2002 ada pertemuan rahasia di rumah Presiden Megawati, di jalan Teuku Umar Jakarta. Pertemuan itu diikuti lima orang: Megawati, Karen Brooks, (Direktur National Security Council wilayah Asia Pasific), Ralph Boyce (Dubes AS untuk Indonesia), Frederich Burks dan seorang wanita agen khusus CIA sebagai utusan spesial Presiden Bush”. Dalam pertemuan berdurasi 20-an menit itu, utusan khusus Bush meminta Mega agar me-render (menyerahkan secara rahasia) ustadz Abu Bakar Ba’asyir kepada pemerintahan AS, sebagaimana kasus Umar al-Faruq. Mega menolak, dengan alasan, Umar al-Faruq bisa di-render karena tidak dikenal oleh publik Indonesia dan tak mempunyai pendukung, sedangkan ustadz Abu Bakar dikenal publik dan banyak pengikutnya.

Sehingga jika di-render bisa menimbulkan instabilitas politik dan agama, yang tidak mungkin ditanggungnya. Akhirnya agen CIA itu mengancam;

“Jika ustadz Abu tidak diserahkan sebelum pertemuan APEC, maka “Situasinya akan bertambah buruk..” Benar saja, ancamannya dibuktikan sebulan kemudian, yaitu dengan peledakan Bom Bali I pada tanggal 12 Oktober 2002 pukul 00.00.

Jadi siapa yang berada di balik peristiwa Bom Bali I? Apakah Amrozi cs pelaku utamanya? Amrozi hanya membawa karbit 1 ton dengan mobil L300. Mengapa polisi takut melakukan rekonstruksi? Jika Anda ragu, jangan sekali-kali mengeksekusi mereka, karena jika Anda muslim, maka akan murtad!

Ingatlah hakim yang memvonis mati mereka tela mati duluan, jaksa yang menuntut hukuman mati (Urip Tri Gunawan) mereka kini dipermalukan dengan terbongkarnya suap Rp 6 M, apakah Anda mau menyusul terhina seperti mereka?

Penulis adalah Direktur Lembaga Kajian Strategis Islam (LKSI)

Setelah Kemenangan Barack Hussein Obama

Posted in USA with tags , , , , , on November 28, 2008 by indonesiaunderground

Saduran dari hidayatullah.com

Banyak orang menyambut gembira kemenangan Barack Hussein Obama. Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-248

Oleh: Adian Husaini

Rabu (6 November 2008) siang waktu Indonesia, Barack Hussein Obama akhirnya jadi Presiden Amerika Serikat ke-44. Dunia gembira. Sorak sorai di mana-mana. Tak sedikit yang mengucurkan air mata. Anak imigran berkulit hitam keturunan Afro-Amerika berhasil menjebol tembok rasialis yang kokoh tertanam 232 tahun sejak Amerika merdeka, 1776.

Tak terkecuali di Indonesia. Sejumlah stasiun TV menayangkan saudara-saudara dan kawan-kawan Obama yang bersuka cita, bangga, berurai air mata bahagia menyambut kemenangan Obama. Dia pun dapat julukan mentereng: ’anak Menteng’. Syahdan, dia pernah tinggal 3,5 tahun di Indonesia.

Ya, Obama membuat sejarah. Di Amerika dan di dunia. Umat Islam pun turut gembira. Sejumlah tokoh yang biasa muncul di media mengumbar kata-kata penuh harap. Obama akan beda dengan pendahulunya, George Bush, yang sering dijuluki sang pengumbar angkara. Obama akan mau bicara; bukan hanya mengumbar senjata.

Obama muncul ketika dunia sedang sakit. Amerika sakit. Eropa sakit. Indonesia juga sakit. Krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, perang yang tiada henti, semakin membuat banyak penduduk bumi frustrasi. Cara apalagi yang bisa digunakan untuk menyulap dunia menjadi rumah damai? Banyak yang kemudian putus asanya. Patah arang.

Padahal, dunia sedang merindukan obat mujarab untuk keluar dari krisis. Dan Obama muncul pada saat yang tepat. Penampilannya luar biasa. Pidatonya menyihir milyaran umat manusia. Dia mengawali pidato dengan kata-kata memukau: “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer”.

Luarrr biasa! Jika ada yang masih ragu bahwa di Amerika segala sesuatu bisa terjadi, kata Obama, maka dia sudah membuktikannya! Dia bisa jadi Presiden Amerika dalam usia belia. Keturunan warga kulit hitam yang ratusan tahun dijadikan sebagai budak dan diinjak-injak, justru kemudian membalik sejarah. Dia menjadi pemimpin negara adikuasa. Itu Obama bin Hussein!

Jangan terlalu berharap!

Kemenangan Obama tentu menyiratkan harapan besar. Setidaknya, masih ada yang bisa diharap. Tapi, untuk mengubah kebijakan luar negeri AS, bukanlah perkara mudah. Mantan pejabat Deplu Amerika, William Blum, dalam bukunya Rouge State: A Guide to the World’s Only Superpower (2002), pernah mengajukan resep untuk mengakhiri kemelut internasional dan menciptakan rasa aman bagi warga AS: (1) minta maaf kepada semua janda dan anak yatim, orang-orang yang terluka dan termiskinkan akibat ulah imperialisme AS, (2) umumkan dengan jiwa tulus ke seluruh pelosok dunia, bahwa intervensi global AS telah berakhir (3) umumkan bahwa Israel tidak lagi menjadi negara bagian AS yang ke-51 (4) potong anggaran belanja pertahanan AS, sekurangnya 90 persen.

Kata Blum, itulah program tiga harinya di Gedung Putih, andaikan dia diangkat menjadi Presiden AS. Hanya saja, katanya, “On the fourth day, I’d be assassinated.”

Blum menggambarkan betapa peliknya problem politik luar negeri AS. Sifat ofensifnya sudah sangat mencengkeram dunia. Tidak mudah bagi Presiden siapa pun untuk mengubah tradisi imperialistik semacam itu. Film JFK garapan Oliver Stone menggambarkan bagaimana terbunuhnya John F. Kennedy juga tak lepas dari benturannya dengan ’kepentingan besar’ tersebut. Mampukah Obama membuat sejarah baru dalam hal ini? Kita tunggu saja! Toh, dia sudah berpidato: ”America is a place where all things are possible.”

Rumus serupa juga pernah disampaikan perumus teori dependensia dan strukturalisme, Prof Johan Galtung, dalam wawancaranya dengan harian Kompas di Jakarta (17/11/2002). Ketika itu, Galtung ditanya tentang penyelesaian soal peristiwa 11 September 2001 dan program perang melawan terorisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS). Jawab Prof. Galtung: “Dibanding serangan yang pernah dilakukan teroris, terorisme negara yang dilakukan AS jauh lebih berbahaya karena menggabungkan fundamentalisme agama dan fundamentalisme pasar. Serangan AS terhadap Afganistan memenuhi kriteria tindakan teroris.”

Penerima Right Livelihood Award tahun 1987 ini mengaku berulangkali menjawab pertanyaan soal serangan 11 September 2001: “Tangkap pelakunya dan ubah kebijakan luar negeri AS!” Ia juga berkirim surat kepada Presiden AS George W Bush – yang isinya meminta AS mengubah politik luar negeri, mengakui negara Palestina, meminta maaf karena sering mencampuri urusan negara lain, melanggar hukum internasional, dan tidak menghormati Islam. Tapi, suratnya, memang tidak digubris. “Saya tidak tahu apakah Bush membaca surat itu. Tetapi, yang dilakukan justru sebaliknya,” ujarnya.

Imperialisme Barat yang melahirkan kezaliman global, seperti yang dinyatakan Blum bukanlah isapan jempol belaka. Mengutip pendapat Prof. Noam Chomsky, dalam bukunya, Year 501: The Conquest Continues, Ketua Just World Trust (JUST) Malaysia, SM Mohammed Idris menulis:

“Penaklukan bagi Dunia Baru, dalam sejarah peradaban, telah berakibat pada dua katastrofi demografik yang sangat luas, yang tidak saling berkaitan: pemusnahan yang sungguh-sungguh atas penduduk susku-suku asli yang tinggal di kawasan Barat dan penghancuran bangsa-bangsa Afrika dengan memperbudak penduduknya dan memperjualbelikannya dalam ekspansi besar-besaran demi memenuhi keserakahan para penakluk… Ketika keadaan telah berubah, tema fundamental dari penaklukan tetap bertahan dalam vitalitas dan daya lentingnya, dan akan terus berlanjut sedemikian sehingga dalam kesadaran tentang sebab-sebab ketidakadilan nan ganas yang betul-betul dikemukakan secara jujur dan terbuka.” (Lihat, Candra Muzaffar dkk., Human’s Wrong: Rekor Buruk Dominasi Barat atas Hak Asasi Manusia, (Yogya: Pilar Media, 2007), hal. 446).

Untuk mempertahankan hegemoninya, berbagai instrumen – politik, ekonomi, budaya, ideologi, militer – digunakan. Hingga kini, meskipun didesak sebagian besar negara-negara dunia, AS dan sekutunya tetap enggan melepas hak istimewa ’veto’ di PBB. Hak istimewa atas penguasaan persenjataan nuklir juga terus dipertahankan. Sebab, AS dan sekutunya memang memposisikan diri sebagai ”malaikat” dan musuh-musuh mereka diposisikan sebagai ”poros setan” (axis of evil). Dalam kasus dunia Islam, hak istimewa Negara Yahudi Israel tetap dilindungi, meskipun laporan kebiadaban dan pelenggaran HAM Israel telah menumpuk di markas PBB. Setiap Presiden AS – baik dari Partai Demokrat atau Republik – masih tetap menjalankan politik luar negeri yang tidak masuk akal dalam membela negara zionis tersebut.

Literatur yang mengupas hubungan spesial antara AS dan Israel sangat melimpah. Bernard Reich, misalnya, dalam artikelnya berjudul ‘The United States and Israel: The Nature of a Special Relationship (yang dimuat dalam buku The Middle East and The United States: A Historical and Political Reassessment (ed. David W. Lesch), Westview Press, 1996), menggambarkan tradisi tiap Presiden AS untuk membuat pernyataan berisi komitmen untuk mempertahankan hubungan spesial antara AS dan Israel. Berbagai upaya perdamaian Israel-Palestina pertama kali harus menjamin kepentingan Israel. untuk

Presiden Bill Clinton, misalnya, membuat pernyataan: “In working for peace in the Middle East, a first pillar is the security of Israel.”

Bantuan-bantuan AS terhadap Israel yang sangat fantastis diungkap oleh Paul Findley dalam bukunya Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the US-Israeli Relationship. Setiap tahun, negara Yahudi berpenduduk sekitar 6 juta jiwa ini menerima bantuan AS yang jumlahnya melampaui bantuan yang diberikan pada negara-negara lainnya. Sejak tahun 1987, bantuan ekonomi dan militer langsung berjumlah 3 milyar USD atau lebih. Antara 1949 sampai akhir 1991, pemerintah AS telah memberikan dana senilai 53 milyar USD kepada Israel dalam bentuk bantuan maupun keuntungan-keuntungan istimewa. Jumlah itu setara dengan 13 persen dari semua bantuan ekonomi dan militer AS ke seluruh dunia dalam kurun yang sama. Sejak perjanjian damai Mesir-Israel tahun 1979 sampai 1991, jumlah total bantuan AS ke Israel mencapai 40,1 milyar USD, atau setara dengan 21,5 persen dari semua bantuan AS, termasuk semua bantuan bilateral maupun multilateral. Tahun 1992, Senator Robert Byrd dari Virginia Barat, mengungkapkan data-data yang menunjukkan begitu royalnya bantuan AS kepada Israel. Dia katakan: “Kita telah memberikan bantuan luar negeri kepada Israel selama beberapa dasawarsa dengan jumlah dan syarat-syarat yang belum pernah diberikan kepada satu negeri mana pun di dunia ini. Sekutu-sekutu Eropa kita, sebagai perbandingan, hampir tidak memberikan apa-apa.”

Apakah mungkin seorang Obama akan mampu mengubah kebijakan terhadap Israel semacam ini? Hingga kini, tanda-tanda itu belum ada sama sekali! Kondisi internal politik AS, kekuatan lobi Yahudi, dan dinamika politik dalam negeri Israel sendiri, beberapa kali menjadi faktor penghambat pembentukan negara Palestina merdeka. Perjanjian Camp David II di Presiden Clinton berakhir dengan kegagalan. Presiden George W. Bush sempat berkoar akan merealisasikan pembentukan negara Palestina tahun 2005. Tapi, ujungnya juga kegagalan. Memang, secara substansial, Obama diduga akan sama saja dengan pendahulunya. Tapi, apa salahnya berharap ada perubahan. Toh Obama sudah terlanjur bicara: “America is a place where all things are possible.”

Soal Palestina dipandang oleh berbagai kalangan sebagai isu terpenting dalam penyelesaian masalah terorisme. Berbagai pemimpin dunia Islam sudah mengimbau agar AS mengubah kebijakan anti-terornya yang jelas-jelas menganakemaskan Israel. Kelompok perlawanan Hamas dicap sebagai teroris. Sedangkan Israel justru diangkat sebagai sekutu utama dalam pemberantasan terorisme. Bahkan, Prof. Chomsky sendiri tak segan-segan mengkritik negaranya: “We should not forget that the US itself is a leading terrorist state.

Masalahnya lebih pelik ketika isu terorisme bukanlah isu yang harus diselesaikan, tetapi justru isu yang direkayasa untuk memberikan justifikasi keberlangsungan industri persenjataan di AS. Jika tidak ada musuh lagi, peperangan tiada lagi, bagaimana nasib industri senjata? Maka, tidaklah berlebihan, ketika Huntington menulis dalam buku populernya, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), bahwa keberadaan musuh harus tetap dipertahankan. ”For self definition and motivation people need enemies,” tulis Huntington.

Pasca Perang Dingin, hubungan AS-Dunia Islam bahkan lebih pelik lagi. Strategi preemptive strike (serangan dini) yang dijalankan AS semakin menggencarkan penyebaran paham liberal keagamaan di dunia Islam. AS mengucurkan dana besar-besaran kepada kelompok-kelompok dan kalangan Muslim tertentu untuk membangun apa yang disebutnya sebagai ’Islam progresif’. Isu-isu liberalisasi, kesetaraan gender, pluralisme agama, multikulturalisme, dan sebagainya menjadi isu-isu favorit bagi AS dan LSM-LSM bentukannya.

Dalam masalah ini, AS bertindak lebih jauh dibanding kolonial Belanda dulu. Kebijakan untuk mengubah kurikulum dan pemikiran Islam dijadikan sasaran penting oleh AS dan negera-negara Barat lain. Ini pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald Rumsfeld. Dengan alasan membendung arus terorisme, Donald Rumsfeld, pada 16 Oktober 2003, meluncurkan sebuah memo: “AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat. Lembaga pendidikan Islam bisa lebih cepat menumbuhkan teroris baru, lebih cepat dibandingkan kemampuan AS untuk menangkap atau membunuh mereka. (Republika, 3/12/2005).

Karena itu, tidak mudah bagi Obama untuk keluar dari ’jaring-jaring kebijakan global’ seperti ini. Banyak pemimpin Barat yang menghendaki umat Islam mengubah pikirannya agar menyesuaikan diri dengan ’dunia modern’. Dan tanpa disuruh pun, sudah banyak kalangan cendekiawan yang sudah menjalankan perintah Barat, karena keberhasilan program ’cuci otak’. Maka tidak heran, jika ekspor paham liberal ke tengah-tengah umat Islam tampaknya akan berjalan terus. Apalagi, Partai Demokrat pun memiliki kebijakan moral dan agama yang lebih liberal dibanding Republik. Bisa-bisa, politik belah bambu akan terus dijalankan: kelompok-kelompok liberal di Indonesia akan semakin diangkat ke atas, dan kaum non-liberal semakin diinjak.

Identitas keislaman Obama bisa menjadi batu sandungan psikologis bagi dirinya. Tudingan bahwa dirinya akan lebih mendekat ke Islam, malah bisa membuat dia ingin menunjukkan sikap sebaliknya. Setidaknya, Obama akan bersikap jauh lebih hati-hati dalam soal Islam. Maka, dalam kaitan ini, Obama diduga tidak akan banyak berbeda dengan pendahulunya. Politik Islam AS tetap berpegang pada norma internasional: diabdikan untuk kepentingan nasionalnya sendiri. Jadi, tidaklah realistis berharap terlalu banyak pada Obama. Hanya saja, sekali lagi, boleh-boleh saja berharap sedikit. Toh, Obama sudah terlanjur berkata, di Amerika, segala sesuatu mungkin saja terjadi: “America is a place where all things are possible.”

Jadi, dalam situasi yang berat tersebut, umat Islam sebaiknya tidak terlalu berharap serius pada seorang Obama. Kemenangan Obama adalah sebuah drama (tontonan) yang menarik. Ibarat obat sakit kepala, Obama bisa meringankan pusing sejenak. Nantinya, entahlah! Tentu, lebih menarik andaikan tontonan ini dilanjutkan ke babak berikutnya: Obama bin Hussein bertemu dengan Osama bin Ladin. Dua tokoh puncak dunia bertemu. Dunia mungkin akan segera damai. Pabrik senjata gulung tikar. Tentara AS pulang kandang. Ini memang mimpi. Tapi, bukankah kata Obama, di AS semua bisa terjadi dan AS juga dibangun oleh mimpi para pendirinya?

Maka, tidak ada salahnya, kita bermimpi di atas mimpi. Toh mimpi masih bebas pajak di negara Republik Indonesia. [Depok, 7 November 2008/www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan http://www.hidayatullah.com

NAMRU 2

Posted in Indonesia with tags , , , , , on September 8, 2008 by indonesiaunderground

Posting saya salin dari Senopati Wirang (http://intelindonesia.blogspot.com), foto2 dari http://www.nmrc.navy.mil

NAMRU-2

Namru 2 = Intelijen AS…..hahaha benar-benar ramai komentar dan pandangan para ahli dan pengamat intelijen di media massa tentang Namru 2, sampai-sampai ada yang menganalisa Namru 2 sebagai cover CIA untuk mengawasi pilpres seperti diungkapkan AC Manullang.

Reaksi pertama saya atas sejumlah polemik di media massa, termasuk komentar Pimpinan kita Bung JK, adalah sedih teramat sedihnya. NAMRU 2 (The Naval Medical Research Unit 2) yang berada dibawah Angkatan Laut AS adalah sebuah proyek bergengsi dengan nilai investasi yang sulit kita bayangkan, bila dikatakan alatnya miliran rupiah, maka sangat mungkin berpuluh kali lipat. Suatu investasi yang besar tentu mengharapkan hasil yang besar pula, apa bentuk hasil dari sebuah proyek penelitian tidak lai tidak bukan adalah sampel virus dan antidote-nya, yang apabila sukses akan menghasilkan pemasukkan yang luar biasa, sehingga nilai investasi penelitian akan kecil dibandingkan dengan keuntungannya.

Selain itu,…..keberhasilnya menanggulangi keganasan dan pola-pola serangan virus juga sangat penting dalam pengembangan senjata biologi rahasia, itulah sebabnya akses ke NAMRU 2 sangat dibatasi. Blog I-I telah mengirimkan tenaga ahli ke dalam laboratorium NAMRU ketika masa terminasi kerjasama itu dilakukan pada akhir 1990-an dan awal tahun 2000. Rekomendasi dari berbagai pihak terkait adalah bahwa proyek itu selesai. Namun berkat kelihaian AS, bisa tetap eksis sampai sekarang. Informasi yang Blog I-I kumpulkan mungkin tampak biasa-biasa saja yaitu mengenai beragam sampel penelitian yang sangat penting dalam upaya pencarian anti virusya, ambil saja contoh malaria yang telah puluhan tahun tidak juga diumumkan kepada masyarakat Indonesia apa hasil kerja NAMRU, gagalkah mereka atau telah disembunyikan?

Belum lagi dengan kejanggalan Avian Flu yang telah Blog I-I pastikan bukan wabah di Indonesia. Kejanggalan yang tidak mengikuti seluruh pola berjangkitnya sebuah wabah (natural virus outbreak) tersebut bisa diperhatikan dari jatuhnya kematian demi kematian orang Indonesia yang secara random terjangkit Flu Burung hingga saat ini. Ketika kasus Flu Burung meledak di China, pemerintah China sudah mendeteksi adanya unsur kesengajaan untuk menghambat laju pertumbuhan ekonomi China, hingga pada saat itu kasus Flu Burung ditutup-tutupi oleh Kementerian Kesehatan, hingga akhirnya dinyatakan sebagai keadaan darurat. Karena kewaspadaan China sangat tinggi dan operasi intelijen segera digelar, maka upaya teror terhadap rakyat China tersebut segera teratasi, bahkan langkah drastis berupa penghancuran industri ayam di China-pun ditanggungnya.

Indonesia yang setengah hati dan masih dalam keraguan apakah Flu Burung itu sebuah wabah atau bukan berjalan dalam langkah yang tidak pasti, sehingga kebijakan penanganannya terkesan tidak terpadu, bahkan ada pihak-pihak pejabat di Depkes (tentunya bukan Menterinya) yang mencoba menjelaskan bahwa Flu Burung adalah wabah alami, seharusnya yang bersangkutan segera dipecat saja karena tidak memiliki sensitifitas terhadap kewaspadaan nasional dan kematian orang Indonesia akibat Flu Burung.

Apakah lantas kita tuduh saja Namru 2 itu sebagai suatu operasi intelijen? Tentu saja hal ini menjadi reaksi yang kurang elegan juga karena terlalu banyak pengamat yang entah mengapa berkicau memberikan komentar yang tidak bermutu. Seharusnya dalam kasus ini para ahli asal Indonesia segera dimintai keterangan karena para ahli asal AS pasti akan membantahnya habis-habisan.

Mengenai Dino Patti Djalal, meskipun Blog I-I pernah secara keras menegurnya, namun kurang setuju apabila karirnya dimatikan begitu saja atas dasar dugaan dan karakternya dihancurkan dimata publik sebagai akibat tuntutan sejumlah pihak civil society dengan tuduhan sebagai agen AS. Dino adalah anak muda yang cerdas dan memiliki potensi yang baik, namun kesombongan dan over confidentnya telah membutakan matanya dari dinamika perdebatan politik dan kepentingan di dalam negeri. Seandainya saja Dino mendengarkan kritik keras Blog I-I untuk lebih berhati-hati dan mencoba melihat persoalan dari sisi lain, mungkin ia tidak akan terlalu keras dalam menentang intelijen Indonesia bahkan bisa bersinergi untuk Indonesia Raya. Nasi sudah menjadi bubur, apakah ada langkah-langkah perbaikan dari Bung Dino, sebaiknya demikian…bukan asal bantah saja. Perlu Bung Dino pahami bahwa pengadilan publik lebih sadis daripada klarifikasi di depan hukum.

Kekesalan para Patriot Indonesia Raya dalam kasus Namru 2 sangat wajar dan harus kita dukung bersama dalam kerangka kepentingan bangsa dan negara Indonesia. Meskipun demikian, langkah-langkah yang diplomatis juga hars secara gigih mengikuti gejolak kekesalan itu. Jangan sampai secara emosional mengeluarkan segala caci maki atau bahkan tuduhan yang tidak dilandasi oleh fakta-fakta. Karena hal itu akan dengan dimanfaatkan balik oleh AS untuk kembali menekan Indonesia. Patriotisme tanpa kecerdasan akan membabi buta, sebaliknya kecerdasan tanpa bimbingan kepedulian kepada nasib bangsa dan negara juga akan terpuruk dalam kesombongan pribadi.

Kasus Namru 2 akan dipertahankan oleh AS bukan karena masalah atau kondisi politik di Indonesia, tetapi lebih kepada kekayaan sumber-sumber penelitian dan investasi biomedik yang sangat mahal. Tentunya Indonesia harus bisa menekan untuk dapat memperoleh atau menikmati hasil penelitian tersebut. Namun dalam prakteknya, seperti diungkapkan seorang informan Blog I-I sangatlah sulit karena keseluruhan kontrol.kendali ditangan para ahli AS, sementara tenaga ahli asal Indonesia sebagian besar telah disuapi oleh AS sehingga wajar bila terjadi divided loyality. Bahkan sejumlah pejabat birokrasi baik di Depkes, Dephan dan Angkatan Laut secara diam-diam juga ada yang memuluskan proyek Namru.

Apa yang Blog I-I harapkan dari merebaknya polemik Namru yang telah berulangkali terjadi adalah kesungguh-sungguhan pemerintah secara terpadu mengambil langkah yang tegas sekaligus juga tetap menjaga norma diplomasi dengan menyampaikan posisi dan sikap secara utuh. Apabila AS tetap ngotot untuk melanjutkan proyek Namru, maka harus ada keberanian untuk mengatkan tidak atau mengatakan iya dengan syarat yang mnguntungkan Indonesia. Syarat yang menguntungkan Indonesia itu juga harus dilengkapi dengan rencana dan program pengawasan penelitian Namru. Kemudian pemberian status diplomat juga harus dicabut segera.

Akhir kata, semoga gerakan civil society yang menyoroti Namru 2 juga juga didasari oleh kejujuran dan kepedulian dan bukan karena manuver politik tertentu untuk menjatuhkan seorang Dino Pattu Djalal. Mudah-mudahan juga Dino memiliki jawaban yang jelas atas segala tuduhan kepadanya serta dapat mempertanggungjawabkan posisinya yang selalu membela perpanjangan proyek Namru, singkatnya apa dasarnya?

Apa yang terjadi dalam proyek Namru 2 setidaknya dapat menjadi pelajaran dan case study bagi komunitas intelijen tentang pentingnya menyatukan derap langkah kebijakan pemerintah. Sehingga kita bisa melihat bahwa meskipun Menlu, Panglima TNI, dan BIN sudah pernah menyarankan berakhirnya proyek Namru, namun hal itu tidak terkoordinasi dengan baik. Karena kebocoran-kebocoran pada level pejabat di Depkes cukup memprihatinkan, semoga Ibu Menkes tetap diberi kekuatan dalam membersihkan jajarannya.

Sekian, mohon koreksi dari pihak-pihak yang paham tentang proyek Namru 2

Mencermati Pesan Ganda Iran Menjelang Ramadhan

Posted in Iran with tags , , , , on September 4, 2008 by indonesiaunderground

Di saat bangsa Indonesia sibuk lomba balap karung, Iran justru meluncurkan satelit. Fase baru perkembangan sebuah perang dingin

Oleh Musthafa Luthfi *

Tradisi menyambut bulan puasa khususnya di dunia Arab telah berubah terutama sejak maraknya stasion-stasion TV satelit dalam rentang waktu dua dekade belakangan ini yang lebih menonjolkan hiburan-hiburan di layar kaca untuk menunggu waktu sahur.

Tradisi lainnya yang hampir menyeluruh di seluruh dunia Islam adalah meningkatnya kebiasaan komsumtifisme yang terkesan berlebihan. Stasion-stasion TV satelit menjadi sarana iklan besar-besaran bagi produk makanan menjelang bulan Ramadhan tiba.

Karena itu, biasanya sebelum sebelum Ramdhan tiba, bau puasa demikian terasa di negara-negara Arab dengan maraknya iklan-iklan sinetron terbaru menarik yang siap ditayangkan terutama di malam Ramadhan hingga menjelang sahur agar mata siap melek sepanjang malam.

Demikianlah, tradisi yang makin sulit untuk dihilangkan bahkan cenderung makin “meriah” yang menyebabkan tujuan puasa La’allakum Tattaquun (menjadi hamba-hamba yang bertakwa) makin sulit tercapai. Puasa akhirnya tak lebih sebatas menahan lapar dan dahaga.

Menjelang puasa kali ini, ada kejadian penting yang patut dicermati kaum Muslimin terlepas dari mazhab dan aliran yang dianutnya. Sekitar dua pekan menjelang bulan suci tiba, Iran telah menyebarkan dua pesan ganda, pertama ditujukan kepada dunia Barat dan kedua sebagai risalah (pesan) buat kaum Muslimin terutama kalangan pakar dan cendekiawan.

Sekitar pertengahan bulan Sya`ban yang lalu bertepatan dengan bulan Agustus , Iran berhasil menguasai teknologi luar angkasa dengan meluncurkan satelit buatan sendiri. Teknologi ini tidak kalah pentingnya dengan penguasaan teknologi nuklir untuk tujuan damai yang telah dicapai sebelumnya.

Secara kebetulan peluncuran satelit pertama negeri Mullah itu bertepatan dengan hari Minggu, 17 Agustus 2008 yang bertepatan dengan peringatan 63 tahun kemerdekaan RI yang hampir setiap tahun dimeriahkan dengan berbagai acara yang terkesan “hura-hura” yang sudah banyak ditinggalkan negara lain seperti negeri jiran kita, Malaysia.

Pada saat bangsa Indonesia sedang asyik dengan aneka hiburan pesta rakyat seperti upaya pemecahan rekor panjat pinang, lari karung dan “dangdutan”, Iran secara mengejutkan mengumumkan peluncuran satelit pertama sehingga memasukkannya dalam daftar 10 negara produsen satelit di dunia disamping AS, Rusia, sejumlah negara Eropa, China, Jepang dan India .

Meskipun teknologi luar angkasa negeri Persia itu masih tahap pemula dibandingkan negara-negara maju lainnya, namun yang perlu dicatat adalah, keberhasilan tersebut berlangsung pada saat Iran diembargo secara ketat oleh Barat sejak sekitar 30 tahun yang lalu.

Iran saat ini mampu menempatkan satelit di orbit seputar bumi dengan ketinggian sekitar 600 km. Teknologi balastik yang digunakan untuk membawa satelit ke angkasa juga bisa digunakan untuk meluncurkan senjata, namun Teheran menyatakan tidak berencana melakukan hal tersebut.

Meskipun demikian, Iran tidak akan ragu-ragu menggunakan kemampuan balastiknya guna mempertahankan diri atau untuk membalas serangan luar baik dari Israel maupun AS. Komandan Garda Revolusi Iran , Jenderal Ali Ja`fari Rabu (27/8) menegaskan tentang hal tersebut.

“Evaluasi strategi yang kita lakukan mengisyaratkan kemungkinan pemerintah Zionis (Israel ) melakukan serangan sendiri atau dengan bantuan AS. Bila terjadi maka seluruh kawasan terancam sebab Israel tidak memiliki kedalam startegis karena berada dalam jangkauan rudal-rudal Iran ,” paparnya.

Pesan kepada Barat

Pesan pertama kepada Barat bahwa Iran secara jelas telah berhasil melepaskan diri dari berbagai upaya dan belenggu Barat untuk tetap menjadikan negeri Mullah itu sebagai salah satu negara terbelakang di dunia ketiga.

Embargo teknologi secara ketat yang dilakukan Barat akhirnya terbukti tidak mampu menghentikan usaha keras negeri kaya minyak Teluk itu untuk menguasai teknologi super canggih seperti teknologi luar angkasa yang selama ini hanya monopoli negara-negara besar.

Masih teringat pada tahun 80-an dan 90-an abad 20 lalu, ketika Indonesia akhirnya urung menjual sejumlah helikopter produk IPTN saat itu ke Iran atas desakan AS karena dikhawatirkan dimanfaatkan untuk tujuan militer. Negara-negara di dunia yang berada dibawah ketiak Washington pun melakukan embargo serupa.

Segala kesulitan yang dihadapi oleh negeri itu tidak membuatnya putus asa bahkan saat ini berhasil memproduksi pesawat-pesawat tempur dengan jarak jelajah 3 ribu kilo meter non stop tanpa memerlukan pengisian bahan bakar di udara.

Ketika TV Iran menayangkan peluncur roket mutakhir yang dapat membawa satelit ke orbit, nampak para pemimpin Barat dalam keadaan penuh kekhawatiran dan sikap kecewa yang berlebihan. Tidak ada yang tersisa dari Barat untuk mencoba kembali menggoyang negeri Persia itu kecuali dengan memutar kembali kampanye sebelumnya tentang keanggotaan Iran sebagai poros jahat yang mendukung terorisme.

Di lain pihak sebagian kekuatan Eropa terutama Rusia ditambah Cina, Jepang dan India mulai bersikap menerima anggota baru dalam klub nuklir dan teknologi angkasa luar. Karena dengan kemampuan Iran “berswasembada“ teknologi mutakhir, sudah tidak ada lagi manfaatnya untuk mengganjal negeri itu menguasai teknologi nuklir dan luar angkasa.

Sedangkan pesan kedua adalah ditujukan kepada negara-negara terkemuka di dunia Islam seperti Indonesia , Turki, Mesir , Pakistan dan Saudi Arabia . Pesan ini juga ditujukan kepada dunia ketiga di negara-negara Amerika Latin, Afrika dan Asia .

Negara-negara tersebut sebenarnya dapat bangkit dengan kemampuan kolektif yang mereka miliki selama memiliki political will (kehendak politik) untuk menentukan nasib sendiri. Dunia Islam harus segera melepaskan kendala pisikis dan semangat juang yang lembek selama ini akibat belenggu Barat.

Dunia Islam terutama negara-negara Arab sebenarnya memilki sumber daya manusia (SDM) yang handal di bidang penguasaan teknologi mutakhir. Namun karena situasi politik dalam negeri masing-masing yang tidak kondusif, menyebabkan mereka lebih memilih dunia Barat sebagai tempat mengamalkan kemampuannya sehingga hanya dimanfaatkan untuk kepentingan Barat.

Sudah menjadi rahasia umum sejak lama bahwa lebih dari separo pakar-pakar terkemuka di berbagai bidang sains di dunia Barat berasal dari keturunan negara-negara dunia ketiga. Dalam konteks ini Iran sering menegaskan tekadnya untuk menjadikan kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk kepentingan dunia ketiga terutama negara-negara Islam.

Persekutuan baru

Prestasi Iran tersebut yang dibarengi dengan perkembangan penting di kawasan Laut Hitam terutama “unjuk otot” Rusia di Georgia menghadapi AS dan Barat memunculkan wacana persekutuan baru. Bahkan sebagian analis menyebutnya sebagai kembalinya perang dingin dalam bentuk lain.

Seperti dimaklumi rezim Georgia pimpinan Presiden Mikhail Saakashvili adalah antek AS yang berusaha untuk menggabungkan negaranya dengan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU). Dengan demikian konflik di Georgia soal Ossetia Selatan seperti perang antara Rusia dan AS.

Selama dekade terakhir ini pandangan dunia hampir sama bahwa Rusia dibawah Mikhail Gorbachev dan Borris Yeltsin telah berubah menjadi sebuah negara dibawah pengaruh Barat terutama ditinjau secara ekonomis. Namun Presiden Vladimir Putin dan dengan dukungan kuat militer mengembalikan wibawa Rusia sebagai salah satu negara besar yang disegani.

Putin mulai mengembalikan wibawa Rusia dan menjadi salah satu unsur penentu dalam percaturan dunia menghadapi hegemoni AS. Perang Georgia terakhir dan pengakuan Moskow atas kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia makin menunjukkan bahwa Rusia merupakan kekuatan yang dapat mengembalikan wibawa bekas Uni Soviet pada masa perang dingin dulu.

Perkembangan diatas menunjukkan fase baru sebuah perang dingin antara dua kekuatan. Tidak sulit untuk memprediksikan bahwa perang dingin tersebut akan meluas sehingga meliputi kawasan Timur Tengah yang membersitkan isyarat akan kesediaan Moskow untuk membangun persekutuan strategis termasuk dengan bergabungnya Iran dan sebagian negara Arab menghadapi dua sekawan AS-Israel.

Yang masih menjadi pertanyaan apakah ada negara Arab yang menyusul Suriah yang berani mengatakan “tidak“ kepada Washington dalam kondisi negeri adidaya itu yang sedang lemah. Dan bagi negara Islam lainnya seperti Indonesia apakah harus menunggu dimusuhi AS “lahir-batin“ (sebab secara batin AS memusuhi dunia Islam) baru bangkit melepaskan diri dari pengaruh AS seperti Iran ??? [www.hidayatullah.com]

Penulis lepas, mantan wartawan ANTARA. Kini sedang bermukim di Yaman