Menafsir Ulang Makna Intelijen

By: Ahmad Rouf Qusyairi

Sabtu, 14 Juni 2008

Mendengar kata ‘intelijen’, pertama kali yang tergambar dan terlintas dalam benak kebanyakan orang, hampir bisa dipastikan adalah sesuatu yang berhubungan dengan mata-mata atau spionase, militer, keamanan dan stereotip lainnya. Padahal intelijen tidak hanya urusan spionase, militer, dan keamanan. Memang kegiatan mata-mata merupakan salah satu bagian dari aktifitas intelijen. Sangat tidak utuh dan terlalu naif kalau kita melihat intelijen hanya sekedar urusan mata-mata atau nginteli (dalam bahasa Jawa red).

Distorsi pemaknaan terhadap intelijen di masyarakat kita, terutama bagi mereka yang pernah mempunyai pengalaman kurang baik (korban) akibat ekses dari kegiatan intelijen dimasa lalu (lebih khusus di era Orde Baru) dapat dimaklumi. Mereka mungkin pernah mengalami trauma akibat tindakan represif aparat dilapangan. Selain urusan mata-mata, asumsi umum juga mengatakan, intelijen tidak lebih hanya sebagai alat penguasa untuk mengawasi dan mematai-matai kelompok-kelompok kritis, seperti mahasiswa, LSM, aktifis partai, organisasi buruh dan belakangan kelompok keagamaan yang dicurigai sebagai kelompok teroris.

Hal ini berbeda dengan persepsi masyarakat di berbagai negara lain. Seperti Amerika Serikat, China, Singapura, Israel, Inggris dan negara-negara di Eropa lainnya. Bahkan kurikulum pelajaran anak Sekolah Dasar di Singapura, 25 persennya intelijen minded. Di AS, banyak dijumpai film dengan latar belakang lika-liku kehidupan seorang agen intelijen, di Inggris ada James Bond, di China ada ahli strategi perang legendaris Sun Tzu yang banyak mengilhami doktrin-doktrin intelijen. Pendeknya, di negara-negara maju dan kuat, intelijen tidak dipandang sebelah mata. Intelijen merupakan faktor penting untuk membangun negara bangsa agar kuat dan mampu berkompetisi serta eksis ditengah persaingan global.

Tidak heran bila ada ungkapan; kuat dan tidaknya negara tergantung pada dari kuat dan tidaknya institusi intelijen yang dimiliki oleh negara tersebut. AS mempunyai Central Intelligence Agency (CIA) yang kegiatan intelijennya hampir 90 persen diluar negeri. Itu berarti, sasaran attacking intelligence CIA adalah negara kompetitor dan penggalangannya dilakukan ke berbagai negara dibelahan dunia demi kepentingan nasional AS. Isarael mempunyai Mossad yang diakui kehebatannya oleh dunia. Bayangkan, negara kecil yang hidup dikelilingi oleh musuh-musuhnya (negara-negara Arab) bisa eksis sampai sekarang. Lalu bagaiamana dengan intelijen kita?

Perlu Penafsiran Ulang

Persepsi yang kurang tepat terhadap istilah intelijen saya kira perlu diluruskan, agar intelijen ditempatkan pada kerangka pemahaman yang sesuai dengan proporsinya. Sehingga ketika mendengar kata intelijen, tidak lagi dipandang secara sinis dan negative thinking. Pemahaman yang benar atas makna intelijen sangat penting dalam rangka membangun iklim yang kondusif dan sinergis antara masyarakat dan komunitas intelijen negara. Sebab intelijen itu hanya untuk mengabdi kepada negara yang berkewajiban untuk menSejatinya, intelligence attacking hanya ditujukan kepada pihak lawan, musuh dan kompetitor yang dipandang berpotensi dan dapat mengancam keselamatan serta kepentingan nasional negara. Rakyat, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya bukanlah musuh negara, namun sebaliknya warga negara yang harus dilindungi hak-haknya.

Lalu makhluk apa sebenarnya intelijen itu? Dari segi bahasa, kata intelijen berasal dari bahasa Inggris yaitu intelligence yang artinya kecerdasan. Jadi intelijen sebenarnya lebih dekat dengan wilayah kecerdasan, pikiran atau otak, bukan hanya mengandalkan kekuatan otot semata. Jadi kalau kita mendengar kata-kata perang intelijen, berarti yang dimaksud tidak jauh dari sekitar perang urat syaraf, perang pikiran, perang psikologis dan perang secara tidak kelihatan atau perang yang tidak nampak (silent warfare). Kesemua jenis perang tersebut, tidak mengandalkan pada perang fisik dengan melakukan penggelaran militer, namun kesemuanya menggandalkan taktik dan strategi pikiran yang membutuhkan kecerdasan (meski perang militer juga menggunakan taktik dan strategi).

Jadi, intelijen bisa didefinisikan sebagai kegiatan mengumpulkan informasi, data, fakta, dan bahan keterangan baik secara terbuka maupun tertutup (namun kebanyakan dengan cara tertutup atau rahasia). Setelah informasi tersebut diperoleh, kemudian dianalisa, dievaluasi dan difafsirkan untuk disajikan kepada end user atau pengambil kebijakan sebagai pihak pengguna jasa intelijen. Informasi yang sudah dianalisa disebut merupakan produk intelijen, yang berupa prediksi atau prakiraan terhadap situasi dan kondisi yang akan terjadi dimasa datang dalam jangka pendek dan menengah. Selain prediksi, produk intelijen juga berisi saran tentang problem solving atas suatu persoalan.

Dari sinilah analisa intelijen itu sangat penting sekali. Seorang analis intelijen harus benar-benar menguasai persoalan dan mempunyai kapasitas intelektual yang multidisplin agar menghasilkan produk intelijen yang baik. Produk intelijen yang dihasilkan pada dasarnya adalah peringatan dini terhadap ancaman (early warning system) sebagai langkah untuk menghindari apa yang disebut pendadakan strategis (strategic surprise). Muatan dari produk intelijen yang kedua adalah bagaimana memenangkan sebuah persaingan, hal ini banyak dipergunakan dalam intelijen bisnis atau competitive intelligence.

Membumikan Intelijen Minded

Makna filosofis yang dapat ambil dari definisi intelijen secara proporsional dan tepat adalah adanya cara pandang dan cara berfikir yang berwujud dalam sebuah tindakan yang berlandaskan pada nalar intelijen yaitu antisipatif dan prediktif dan pola laku intelijen yaitu cepat dan tepat (velox et exactus). Disaat kita mampu memprediksi suatu keadaan yang akan terjadi dimasa datang dengan berbagai data, fakta dan informasi yang kita peroleh, maka kita harus melakukan antisipasi. Perkiraan terhadap kondisi dimasa datang akan sangat tergantung sejauhmana kita mampu memahami dan mengetahui pada masa lalu dan masa kini. Sedang pola laku yang cepat dan tepat, harus melekat dalam diri insan intelijen karena ia sangat berhubungan dengan masalah informasi. Disinilah saya kira pentingnya membumikan intelligence minded dalam masyarakat kita yang bertumpu pada peringatan dini, penyelematan dan memenangkan persaingan.

Mengapa intelligence minded perlu dibumikan dalam masyarakat kita. Pertama; karena bicara intelijen tidak hanya urusan mata-mata saja (spy), tetapi lebih dari sekedar itu. Yakni, keberadaan intelijen karena dibutuhkan untuk mensupport pengambil kebijakan yang berdampak pada kepentingan publik. Kedua; seiring perkembangan zaman, para pengguna jasa intelijen tidak hanya sebatas negara saja (state intelligence), tetapi berbagai perusahaan swasta dan organisasi lainnya. Ketiga; intelijen merupakan sebuah ilmu pengetahuan. Memasuki abad 21 ini, intelijen dimasukkan dalam disiplin ilmu tersendiri, setelah sebelumnya hanya dilihat sebagai proses dan kegiatan didalam dunia yang gelap, tertutup dan serba rahasia. Sebagai ilmu pengetahuan, intelijen secara spesifik meneliti pada empat variabel pokok yaitu; organisasi intelijen, tingkah laku agen atau aktor intelijen, kegiatan intelijen dan produk intelijen. Namun belakangan, sesuatu yang terkait dengan ancaman dan penyelematan sebuah perusahaan atau koorporasi dan organisasi swasta lainnya dapat dimasukkan dalam penelitian intelijen.

Keempat; kondisi bangsa dan masyarakat kita yang akhir-akhir ini mudah untuk diadu domba, lemah secara ekonomi dan politik, susah berasatu, saling menyalahkan, miskin nasionalisme, mudah mengadopsi ide-ide dari luar, kehilangan jati diri dan masih banyak lagi yang berhubungan dengan mental dan karakter masyarakat kita, terutama elit penguasa pengambil kebijakan yang tidak juga membuat tanda-tanda bangsa kita akan menjadi bangsa kuat, maju, memenangkan persaingan, melindungi segenap tumpah darahnya. Disinilah pentingnya membumikan intelijen minded dalam masyarakat kita, terutama pada level akar rumput. Sebab siapa tahu, saat ini para elit penguasa kita, kelompok menengah kita, intelektual kita, pengusaha kita dan bahkan aparat kita sendiri telah menjadi agen dari kepentingan bangsa dan negara lain. Kenapa Malaysia, Singapura, Australia, dan tentu AS berani semena-mena dan meremehkan kita, dan mengapa pula bangsa kita selalu rebut di dalam ibarat katak dalam tempurung?

Ayam berkokok, curiga

Ayam tidak berkokok, curiga juga

Wallahul?alam Bishshawab.

By: Ahmad Rouf Qusyairi:
sayrouf@yahoo.com

This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ‘span>’ );
//–>

Penulis adalah Sekretaris Lembaga Pengembangan Intelektual Muda PP. GP Ansor dan Mahasiswa Pasca Sarjana Kajian Intelijen Stratejik Universitas Indonesia.

(source : http://indonesiafile.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: