Archive for agen rahasia

Adam Malik, CIA, Tiga Serangkai dan Operasi Tas Hitam

Posted in Indonesia with tags , , , , , , , , , , on November 27, 2008 by indonesiaunderground

Adam Malik, CIA, Tiga Serangkai dan Operasi Tas Hitam

Nurul Hidayati – detikNews


Jakarta – Dari 800 lebih halaman di buku Membongkar Kegagalan CIA karya Tim Weiner, wartawan The New York Times yang pernah meraih Pulitzer, cerita soal Indonesia hanya makan 5 halaman saja, dimulai pada halaman 329. Meski sekelumit, namun pengakuan perwira CIA bahwa Adam Malik adalah agen CIA menggegerkan Tanah Air.

“Saya merekrut dan mengontrol Adam Malik,” ujar Clyde McAvoy, perwira CIA itu, dalam sebuah wawancara pada tahun 2005. McAvoy bertemu dengan Adam Malik di sebuah tempat rahasia dan aman di Jakarta pada 1964.

“Dia adalah pejabat Indonesia tertinggi yang pernah kami rekrut,” tambah McAvoy.

Adam Malik dirinci lebih dalam lagi setelah itu. Disebutkan, dalam beberapa minggu yang menegangkan pada bulan Oktober 1965, Negara Indonesia terpecah dua.

Tim Weiner menulis, “CIA berusaha mengkonsolidasi sebuah pemerintah bayangan, sebuah kelompok tiga serangkai yang terdiri atas Adam Malik, Sultan yang memerintah di Jawa Tengah, dan perwira tinggi angkatan darat berpangkat mayor jenderal bernama Suharto.

“Malik memanfaatkan hubungan dengan CIA untuk mengadakan serangkaian pertemuan rahasia dengan Duta Besar Amerika yang baru di Indonesia, Marshall Green. Sang Duta Besar mengatakan bahwa dia bertemu dengan Adam Malik “di sebuah lokasi rahasia” dan mendapatkan “gambaran yang sangat jelas tentang apa yang dipikirkan Soeharto dan apa yang dipikirkan Malik serta apa yang mereka usulkan untuk dilakukan” buat membebaskan Indonesia dari komunisme melalui gerakan politik baru yang mereka pimpin, yang disebut Kap-Gestapu.
……..

Tim Weiner juga menulis, “Pada pertengahan bulan Oktober 1965, Malik mengirimkan seorang pembantunya ke kediaman perwira politik senior kedutaan, Bob Martens, yang pernah bertugas di Moskow ketika Malik juga bertugas di sana sebagai diplomat Indonesia. Martens menyerahkan kepada utusan Malik itu sebuah daftar yang tidak bersifat rahasia, yang berisi nama 67 pemimpin PKI, sebuah daftar yang telah dia rangkum dari kliping-kliping surat kabar komunis.”

Pada bagian lain disebutkan juga bahwa Duta Besar Green, McGeorge Bundy (Penasihat Keamanan Nasional) dan Bill Bundy (Asisten Menlu untuk Timur Jauh), melihat Suharto dan Kap-Gestapu layak mendapat bantuan AS. Namun Duta Besar Green mengingatkan bahwa bantuan itu tidak boleh berasal dari Pentagon atau Deplu. Program bantuan itu tidak akan bisa dirahasiakan; risiko politisnya sangat besar. Akhirnya disepakati bahwa uang itu harus ditangani oleh CIA.

Mereka sepakat untuk mendukung militer Indonesia dalam bentuk bantuan obat-obatan senilai US$ 500.000 yang akan dikirimkan melalui CIA dengan pengertian bahwa angkatan darat akan menjual obat-obatan tersebut untuk mendapatkan uang tunai.

Dubes Green, setelah berunding dengan Hugh Tovar, mengirimkan pesan telegram kepada Bill Bundy, yang merekomendasikan pembayaran uang dalam jumlah yang cukup besar kepada Adam Malik:

“Ini untuk menegaskan persetujuan saya sebelumnya bahwa kita menyediakan uang tunai sebesar Rp 50 juta (sekitar $ 10 ribu) buat Malik untuk membiayai semua kegiatan gerakan Kap-Gestapu. Kelompok aksi yang beranggotakan warga sipil tetapi dibentuk oleh militer masih memikul kesulitan yang diakibatkan oleh semua upaya represif yang sedang berlangsung…

Kesediaan kita untuk membantu dia dengan cara ini, menurut saya , akan membuat Malik berpikir bahwa kita setuju dengan peran yang dimainkannya dalam sebuah kegiatan anti-PKI, dan akan memajukan hubungan kerja sama yang baik antara dia dan angkatan darat.

Kemungkinan terdeteksinya atau terungkapnya dukungan kita dalam hal ini sangatlah kecil, sebagaimana setiap operasi “tas hitam” yang telah kita lakukan.”

Tim Weiner juga menulis, “Sebuah gelombang besar kerusuhan mulai meningkat di Indonesia. Jenderal Suharto dan gerakan Kap-Gestapu telah membunuh begitu banyak orang. Dubes Green kemudian memberi tahu Wapres Hubert H Humprey dalam sebuah pembicaraan di kantor wakil presiden di Gedung Capitol bahwa “300.000 sampai 400.000 orang telah dibantai” dalam “sebuah pertumpahan darah besar-besaran”.

Wakil Presiden menyebutkan bahwa dia telah mengenal Adam Malik selama bertahun-tahun, dan Dubes memujinya sebagai “salah satu orang terpintar yang pernah dia temui.” Malik dilantik sebagai menteri luar negeri, dan dia diundang untuk berbincang-bincang selama 20 menit dengan Presiden Amerika di Oval Office. Mereka menghabiskan waktu berbincang-bincang tentang Vietnam.

Pada akhir pembicaraan mereka, Lydon Johnson mengatakan bahwa dia memiliki perhatian amat besar tentang perkembangan di Indonesia dan dia mengirimkan salam hangatnya untuk Malik dan Suharto. Dengan dukungan AS, Malik kemudian terpilih menjadi ketua Sidang Umum PBB.” (nrl/anw)

Sumber : detiknews.com

Adam Malik Agen CIA?

Posted in Indonesia with tags , , , , , , , , on November 27, 2008 by indonesiaunderground

Sumber : http://www.eramuslim.com

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh,

Pak Rizki, menurut Tim Weiner dalam buku ‘Legacy of Ashes: The History of CIA’ (2007) disebutkan jika Adam Malik itu seorang agen CIA. Isu ini sekarang tengah dibahas di mana-mana. Menurut Bapak bagaimana? Mohon pencerahannya… Terima kasih.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

AM

Wa’alaykumusalam warahmatullahi wabarakatuh

Isu itu sebenarnya bukan isu yang baru. Pertengahan tahun 1980-an isu ini juga pernah beredar, walau di kalangan terbatas. Dari pihak keluarga Adam Malik, Antarini Malik, sudah mengklarifikasi bahwa hal tersebut tidak benar. Antarini yang merupakan anak dari Adam Malik ini bahkan menuding Tim Weiner sebagai Jurnalis kacangan (Yellow Journalist) di AS yang suka dengan berita-berita sensasional. Dalam hal ini, memang sangat disayangkan jika paparan Weiner tersebut hanya berasal dari satu orang, yakni dari seorang agen CIA yang ditugaskan di Jakarta dari tahun 1964-1966 bernama Clyde McAvoy.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, Tim Weiner bukanlah jurnalis kemarin sore. Dia sudah 20 tahun mendalami soal CIA dan terbang ke berbagai negara untuk menelusuri fakta yang ditemukan. Bahkan setelah mendapat hadiah Pulitzer, dia sekarang mendapat proyek untuk menulis buku tentang FBI.

Kedua, adanya orang atau pejabat Indonesia yang menjadi agen CIA bukanlah isapan jempol. Bahkan sampai detik ini saya yakin ada agen-agen CIA (termasuk agen IMF) yang berada di lingkaran pusat kekuasaan, terutama di sektor ekonomi. Ekonomi negeri ini sejak masa Orde barunya Suharto kan dirancang di Swiss di tahun 1967, antara para Mafia Berkeley dengan tokoh-tokoh Zionis-Yahudi. Diakui atau tidak, orang-orang yang menjual negara ini di Swiss, dan juga orang yang menugaskan mereka, adalah pelayan kepentingan AS, mungkin tanpa harus menjadi agen CIA, namun jelas telah bekerja melayani tuan yang sama dengan tuannya CIA.

Lalu, selain agen CIA, di negeri ini juga ada agen Zionis. Siapa tokohnya? Mudah kok. Akhir Mei lalu, ada seorang tokoh negeri ini yang pergi ke AS untuk menerima Medal of Varlor dari para pemuka Zionis di AS. Orang-orang liberal, walau mungkin mereka tidak menyadari atau mengakuinya, juga bekerja untuk kepentingan Amerika.

Soal apakah Adam Malik itu agen CIA atau bukan, pernah direkrut CIA atau tidak, maka hal ini harus ditelusuri lagi. Karena dunia intelijen adalah dunia abu-abu. Siapa memanfaatkan siapa, tidak pernah jelas. Orang yang direkrut pun tidak harus tahu dirinya sedang dimanfaatkan oleh dinas intelijen. Bisa jadi, Mc Avoy memang mengklaim merekrut Adam Malik, tanpa sepengetahuan Adam Malik itu sendiri. Ini mungkin saja terjadi.

Salah seorang Indonesia yang pernah direkrut secara terbuka  menjadi agen CIA adalah Anton Ngenget, adik dari Reymond Ngenget, karib dari Sayuti Melik, Sjahrir, dan Amir Syarifudin. Hebatnya, Anton bekerja untuk tiga pihak sekaligus: RI, CIA, dan KGB. Rekan sejawatnya di CIA adalah Stapleton Roy, mantan Dubes AS untuk Indonesia. Dalam wawancaranya dengan Tim Tabloid DeTAK, Anton memaparkan jika orang Indonesia yang menjadi agen CIA di akhir tahun 1950-an adalah Kolonel Suwarto yang menjabat sebagai Komandan SSKAD (Sekolah Staf dan Komando AD) di mana Suharto setelah dipecat dari Pangdam Diponegoro ‘ditendang’ ke sana.

Manai Sophiaan, mantan Duta Besar RI untuk Moscow dan ayahanda dari (alm) Sophan Sophiaan, kepada DeTAK juga menyatakan jika Kolonel Suwarto-lah yang pertama kali merekrut Suharto bekerja buat agen CIA.

Nah, kita semua tahu jika tiga pekan setelah peristiwa penembakan terhadap sejumlah jenderal AD pada dini hari 1 Oktober 1965, Angkatan Darat di bawah perintah Suharto melakukan pembantaian terhadap lebih dari setengah juta rakyat Indonesia di Jawa dan Bali yang dituduh sebagai simpatisan komunis. CIA dan dinas intelijen Inggris terlibat dalam prahara politik di negeri ini sejak tahun 1950 hingga 1967. Dokumen CIA sendiri telah menyatakan hal ini (Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Soekarno dan Konspirasi G30S 1965; Hasta Mira: 2002).

Dimana peran Adam Malik dalam tahun-tahun ini? Kathy Kadane, lawyer dan wartawati State News Service AS, dalam artikelnya yang dimuat di Herald Journal, South Carolina (19/5/1990) dan juga sejumlah media internasional termasuk Washington Post (21/5/1990) dan Boston Globe (23/5/1990), menyatakan jika CIA lewat Staf Bagian Politik AS di Jakarta bernama Edward Masters telah menyusun sekurangnya 5.000 daftar nama anggota dan tokoh PKI. Daftar nama ini diserahkan kepada Kim Adhyatman, orang dekat Adam Malik. Oleh Kim, dokumen dari CIA itu diserahkan kepada Adam Malik, yang kemudian diserahkan kepada Jenderal Suharto. Kim sendiri dalam wawancaranya dengan Tempo (6/10/1990) mengakui menerima daftar itu dan menyerahkan kepada Adam Malik.  Oleh Suharto, daftar itu dijadikan salah satu sandaran bagi upaya pembersihan (baca: pembantaian) orang-orang yang dianggap komunis.

Berkat kerjasama yang baik dengan Suharto-lah, Adam Malik kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden. Wallahu’alam bishawab.

Wassalamu’alaykum warahmatulahi wabarakatuh.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.