Menelisik Spionase Yahudi di Pentagon

Oleh: Warsito
Center for Middle East Studies (COMES)

Tajasus, atau yang sering kita sebut dengan istilah spionase, menurut penulis buku “Muqaranatul Adyan: Alyahudiyah”, Dr. Ahmad Shalabi, adalah kata yang selalu terlintas saat membicarakan tentang Yahudi, atau tepatnya zionis Yahudi. Alasannya, gerakan inilah yang pada akhirnya mendominasi, kalau tidak justru menjadi gerakan utama, dalam merealisasikan terwujudnya Israel Raya. Penjelasannya, menurut Rager Garaudy, karena zionis Yahudi saat ini tidak saja merupakan gerakan keagamaan tapi juga suatu gerakan politik. Sehingga kalau ditilik kembali ke sejarah, bahkan sampai sekarang, gerakan spionase atau pengintaian rahasia ini ternyata masih dan akan terus menjadi tugas terpenting bagi kaum Yahudi.

Dalam banyak literatur dapat dirujuk nama Yahudza al Iskharyuti, seorang mata-mata bayaran Yahudi yang sengaja ditugaskan sebagai spion dalam rangka menangkap Isa as. Demikian halnya pada masa permulaan fajar Islam. Mereka, kaum Yahudi, menjadikan kegiatan tajasus sebagai gerakan untuk menghancurkan Islam.

Ibnu Hisyam di dalam tarikhnya menyebutkan, ada golongan kaum Yahudi yang mengaku Islam tetapi sejatinya mereka adalah kaum munafik yang hanya menampakan keislamannya pada kulitnya saja. Sedangkan apa yang ada dalam benak mereka adalah bagaiaman menghancurkan Islam dari dalam. Di antara golongan munafik itu adalah Da’Israel, Sa’ad bin Hunaif, Zaid bin Lashif, Rafi’, Huraimalah, dll.

Frank Briton, seperti dikutip Ahmad Shalabi, menyebut gerakan spionase ini memang sudah menjadi tabiat orang Yahudi, bahkan telah menjadi “kesukaan mereka dimanapun mereka berada”. Merekalah yang menjadi spion-spion tentara Jerman. Mereka pula yang menjadi spion-spion Barat di Rusia. Bahkan pada tahun 1945 telah terungkap adanya “ring of espionage” yang sangat berbahaya di Kanada, di mana salah satu anggotanya adalah seorang anggota parlemen Kanada dan guru besar di Universitas Mac Dal. Apalagi di dunia Arab – Islam, gerakan-gerakan mereka tidak pernah ada putusnya. Puncak dari semua itu adalah ketika mereka berselindung di balik agama-agama lain; bukan saja hendak menempatkan diri mereka sebagai spion-spion untuk mengetahui dan mendeteksi agama baru itu, tapi lebih pada bagaimana “bekerja dari dalam di bawah lindungan agama yang baru itu demi cita-cita agama dan politik mereka yang orisinil: agama dan negara Yahudi.”

Masalah spionase inilah yang belakangan sedikit menggoncang, karena sengaja diredam, Amerika Serikat. Adalah jaringan televisi CBS News Amerika, yang pertama kali, pada Jum’at (27 Agustus lalu), melaporkan sebuah sekandal yang menggoncang negeri yang Novembar nanti melangsungkan pemilihan presiden tersebut. Sekandal itu sendiri melibatkan sekutu paling dekat dan yang paling dibela Amerika selama ini, Israel. Laporan itu menyebutkan adanya seorang analis di markas pertahanan dan keamanan Amerika Pentagon yang memberikan informasi rahasia ke Israel, tentang rancangan proyek kebijakan Amerika Serikat menyangkut program nuklir negeri kaum mullah, Iran.

Laporan itu segera menjadi “hidangan” berita media-media internasional baik cetak maupun elektronik. Meski masalah mata-mata adalah hal yang biasa dalam hubungan internasional, namun kasus semacam ini tetap dianggap sebagai sekandal besar. Betapa tidak, kalau sebuah negara memata-matai musuhnya maka itu adalah hal yang biasa, tapi ini adalah sebuah kasus di mana sebuah negara memata-matai sekutu terdekatnya sendiri.

Mengenai persekutuan Amerika – Israel sudah tidak ada yang meragukan lagi. Hampir dalam semua hal Amerika selalu mendukung kebijakan Israel, seperti yang kita saksikan selama ini di Palestina, demikian juga sebaliknya. Tapi kenapa Israel melakukan semua itu? Banyak pertanyaan dan analisa kemudian muncul dari sekandal ini, di balik masih belum gamlangnya kasus ini. Apa kira-kira yang akan terjadi selanjutnya.

Banyak hal bisa diselidik berkaitan dengan kasus sekandal pembocoran informasi rahaisa intelijen, yang sebenarnya belum tuntas ini. Pertama bahwa pembocoran informasi rahasia ini dilakukan dengan maksud agar Israel bisa memberikan pengaruh dalam finalisasi kebijakan Amerika Serikat mengenai masalah Iran. Ini kemudian mencuatkan kembali pertanyaan, apakah sekutu Israel di Washington telah memiliki pengaruh yang sangat kuat dan sangat berlebihan atas Gedung Putih.

Bahkan seorang analis Israel di harian Yahudi Ha’aretz Nathan Guttman menulis, “Hal itu mengungkapkan kembali tanda tanya bahwa keputusan Amerika Serikat untuk menginvasi Irak, adalah dilakukan untuk kepentingan Israel, bukan untuk kepentingan Amerika Serikat.” Di samping itu, tambah Guttman, sekandal ini juga menghidupkan kembali tuduhan lama bahwa Israel bukanlah sekutu Amerika, tetapi sebuah negara penerobos. Kasus tersebut juga kembali mencuatkan isu bahwa Yahudi Amerika memiliki loyalitas ganda (kompas 31/09).

Ada kemungkinan Israel memang sangat haus akan informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan program nuklir Iran, yang tentu saja dapat merubah peta kekuatan kawasan Timur Tengah dan bukan tidak mungkin menjadi ancaman bagi Israel ke depan.

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika memandang Iran sedang memacu dirinya untuk memiliki senjata nuklir. Amerika juga telah menekan sekutu-sekutunya di Eropa, juga Badan Tenaga Atom Internasional IAEA (International Atomic Energy Agency) untuk menekan Iran agar menghentikan program senjata nuklirnya. Sejauh ini, meski mendapat tekanan dari Amerika, Iran masih tetap menolak dan menegaskan bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai.

Sebagai sebuah negara yang kaya akan informasi dan pengalaman dalam masalah senjata nuklir dan juga pembuatan senjata pemusnah massal, Amerika adalah negara yang paling diincar oleh Israel untuk dikuras informasinya. Karena bagi Israel, mengetahui setiap lengkah dan rencana kebijakan Amerika menyangkut masalah Iran, terutama tentang program nuklirnya, tentu akan memberinya kesempatan untuk menyusun langkah strategis untuk menghadapinya.

Ala kulli hal, semua itu mengisyaratkan bahwa gerakan spionase, seperti disinggung di atas, merupakan karakter utama kaum Yahudi demi eksistensi mereka. Sekandal yang menggoncang Amerika ini bukanlah yang pertama kalinya. Seperti dilansir islamonline, Jum’at (27/08/2004), kasus terbesar mengenai mata-mata zionis Israel di dalam pemerintahan Amerika sudah terungkap resmi sejak 19 tahun yang lalu. Seorang Yahudi Amerika bernama “Jhonatan Bolard” dijatuhi hukuman seumur hidup karena telah menyusupkan informasi rahasia militer Amerika ke Tel Aviv.

Dalam kasus kali ini, laporan-laporan media menyebutkan keterlibatan kelompok lobi utama Israel di Amerika Serikat AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), yang sebagian kalangan menyebutnya sebagai “lobi paling berkuasa di Washington” (koran tempo (03/09/2004). AIPAC konon memiliki 65 ribu anggota yang bekerja dengan amat baik di seluruh 50 negera bagian Amerika dan memainkan peranan sebagai penyalur informasi dari dalam Amerika ke pemerintah Israel. Di samping adanya kumpulan jurnalis tersebar di sejumlah harian dan stasiun televisi berpengaruh di Amerika Serikat yang bekerja untuk kepentingan Israel, seperti ditulis harian al quds arabi terbitan London (06/09/2004), di sana ada tidak kurang 600 stasiun radio yang bekerja untuk kepentingan AIPAC dan Israel. Yang paling populer adalah stasiun radio EIB (excellence in broadcasting), penyiar Yahudi yang paling terkenal di stasiun EIB ini adalah seorang zionis kanan radikal bernama Rush Limbaugh. Konon dia sangat disukai kaum konservatif namun dibenci kaum demokrat.

Terkait sekandal kali ini, laporan-laporan media menyebutkan seorang staf analis kebijakan tingkat rendah Departemen Pertahanan Amerika di Pentagon bernama Lawrence Larry Franklin secara diam-diam membocorkan dokumen intelijen sangat rahasia – mengenai kebijakan Amerika terhadap Iran, namun belum selesai – kepada pmerintah Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.

Franklin sendiri bekerja di bawah Deputi Menteri Pertahanan Bidang Kebijakan Douglas Feith. Yang disebut pertama juga dikenal sangat dekat dengan Deputi Menteri Pertahanan Amerika Paul Wolfowitz, seorang keturunan Yahudi yang pernah menjadi Duta Besar Amerika untuk Indonesia di Jakarta sekaligus arsitek agresi Amerika ke Irak. Dokumen rahasia itu sendiri bisa sampai ke pemerintah Israel melalui tokoh-tokoh AIPAC.

Meski tidak membantah adanya pembocoran tersebut, namun kelompok ini dan tentu juga pemerintah Israel, sudah membantah bahwa mereka telah melakukan tindakan yang salah. Wallahu a’lam bish shawab.

*) Artikel ini pernah dimuat majalah Sabili edisi 06 bulan Oktober 2004.

One Response to “Menelisik Spionase Yahudi di Pentagon”

  1. tunggu datangnya Imam Mahdi,org Yahudi akan mampus!!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: